Komunitas penyuka Vespa yang satu ini agak berbeda. Anggotanya bukan diisi anak muda berambut gondrong. Melainkan para abdi negara. Anggotanya mulai tenaga honorer hingga kepala dinas.
ANDHIKA ATTAR
Banyak sekali komunitas penyuka Vespa. Namun, komunitas yang berlabel Kediri Kabupaten Scooter Club (KKSC) ini agak berbeda. Anggotanya adalah aparatur sipil negara (ASN) di Pemkab Kediri.
“Dulu ya Cuma dari beberapa ASN yang (berangkat) bekerja naik Vespa, gitu saja,” ucap Krisna Setiawan, salah satu anggota komunitas ini.
Krisna mengatakan itu karena mengaku terbentuknya KKSC berawal dari ketidaksengajaan. Karena memang didasari dari satu kesamaan hobi. Yaitu suka pada kendaraan asal Itali tersebut.
Awalnya, yang berkumpul juga beberapa orang tersebut. Lama-lama banyak yang bergabung. Setiap hari Vespa-Vespa itu terparkir di halaman Pemkab Kediri. Menjadi pemandangan yang menarik.
Melihat jumlah skuter yang terparkir semakin banyak, Krisna pun punya ide untuk mengumpulkan teman-temannya itu. Mengajak berkeliling. Akhirnya, aktivitas seperti itu menjadi rutinitas.
Pria yang kini menjadi orang nomor satu di Dinas Komunikasi Informasi (Diskominfo) Kabupaten Kediri itu enggan disebut inisiator. Menurutnya sebutan tersebut terlalu mengada-ada. “Wong kami lho juga iseng sebenarnya,” celetuknya sembari tertawa lepas.
Boleh saja Krisna enggan disebut inisiator. Namun, yang jelas, dari keisengannya tersebut akhirnya terbentuklah Kediri Kabupaten Scooter Club (KKSC). Sayang, pencatatan kapan terbentuknya komunitas ini tidak dilakukan. Krisna pun mengaku lupa dengan waktu tersebut. “Namun yang pasti pada 2009 silam,” jelasnya.
Berawal dari satu-dua orang saja, anggotanya pun terus bertambah. Hingga kini sudah ada sekitar 25 orang yang tergabung dalam KKSC. Dan semuanya adalah ASN di lingkup Pemkab Kediri.
Menurutnya, komunitas tersebut tercipta karena sebuah kecintaan yang sama. Yaitu pada otomotif. Khususnya Vespa. Krisna sendiri mengaku telah lama jatuh cinta dengan Vespa. “Kalau mengenal Vespa sudah dari kecil. Ayah saya kebetulan juga suka,” ungkapnya.
Terinspirasi dari sang ayah, ia pun berusaha mendapatkan Vespa pertamanya. Meskipun sebenarnya Vespa milik orang tua juga ada. Bahkan tak hanya satu. Namun ia merasa kurang puas jika tidak mendapatkan skuter tersebut dengan keringatnya sendiri.
Hingga akhirnya, Vespa VBB 65 menjadi pelabuhan cinta pertamanya. Sampai sekarang ia masih merawatnya dengan penuh kasih sayang. Meskipun belum tentu ia memakainya untuk berangkat bekerja.
“Tapi kalau perawatan, manasi atau keliling kompleks ya setiap hari,” akunya.
Di rumahnya, ia tidak hanya memiliki satu Vespa saja. Untuk jenis VBB, ia juga punya satu lagi dengan tahun keluaran 1961. Total, ada tiga Vespa yang ‘diternak’ di garasi rumahnya.
Senada dengan Krisna, Johans Maras Ponda juga mengaku telah lama jatuh cinta dengan Vespa. Jika mengikuti akun instagram milik lelaki ini akan terlihat banyak foto Vespa kesayangannya dipajang di sana.
Sedikit berbeda dengan Krisna, pria yang akrab disaba Jo tersebut justru terinspirasi dari sang Ibu. Kenangan itulah yang dibawanya hingga sekarang. Ditambah lagi dengan ia suka melihat foto Vespa yang diunggah di intagram. Semakin menggila keinginannya memiliki si cantik dari Italia tersebut.
“Akhirnya setelah menabung terbeli Vespa PTS tahun 1979, kalau tidak salah,” ujarnya berusaha mengingat-ingat skuter pertamanya.
Sayangnya, tidak setiap hari dia bisa mengendarai Vespa kesayangannya itu setiap hari. Itu tak lepas dari kesibukannya sebagai ajudan orang nomor satu di Kabupaten Kediri. Dia tidak bisa setiap berangkat kerja naik. Hanya jika ada kesempatan saja ia menaikinya ke kantor. Namun, untuk perawatan tetap rutin dilakukannya.
Meskipun banyak kendala dan masalah dengan Vespa, ia tetap tidak bisa menanggalkan kecintaannya. Pernah suatu kali ia berkeliling dengan sang istri, Vespa miliknya mogok. “Ya didorong berdua. Biar tambah mesra,” akunya sambil tersenyum lebar.
Komunitas Vespa itu sendiri banyak diisi oleh orang-orang penting di jajaran Pemkab Kediri. Antara lain adalah Kepala Disparbud Adi Suwignyo dan Sekda Dede Sujana.
Meskipun tidak sering touring luar kota, namun hampir setiap Jumat atau Sabtu mereka berkumpul. Bagi mereka bukan masalah jarak yang ditempuh, melainkan kebersamaan itu sendiri. Vespa adalah oase dari kesibukan sehari-hari.
Editor : adi nugroho