Senja memancarkan semburat jingga yang indah. Aku masih memandangnya tanpa jemu. Pesona jingganya menyisakan kenangan mendalam bagi hatiku.
"Na, ayo kita pulang sudah hampir maghrib nih," ajak Arin sahabat sekaligus tetangga sebelah rumahku.
"Sebentar Rin, aku masih ingin menikmati senja yang semakin tenggelam ini. Kalau kamu mau pulang duluan aja, aku bisa pulang sendiri kok."
"Aduh Na, jangan gitu dong kalau aku ditanya Mamamu aku jawab apa? Masak berangkat bareng pulang sendiri-sendiri."
Aku masih belum bergeming dari tempatku duduk di kursi favoritku di tengah taman kota. Arin juga diam, tak membujuk aku pulang, karena dia tau suasana hatiku saat senja seperti ini.
Dua tahun yang lalu, bukan Arin yang berada di sampingku tapi Tony. Kami berdua memiliki hobi yang sama, yakni memandang senja yang perlahan tenggelam. Aku menghela napas, inilah awal pertemuan kami.
"Prang!" Terdengar suara benda pecah, disusul jeritan Ibu dari dalam kamar.
"Dasar perempuan bodoh, begini saja nggak becus!" Suara Papa menggelegar.
"Tapi ini sudah kulakukan sesuai kemauanmu, kamu sendiri yang egois. Bisanya cuma main perintah semaumu!"
Pertengkaran Papa dan Mama sering mewarnai hari-hariku, sejak kecil hingga sekarang aku berumur 17 tahun. Aku sendiri tak habis pikir, kenapa mereka tetap mempertahankan perkawinan yang hanya diwarnai pertengkaran. Aku tidak tahan lagi, segera ku ambil tas selempang pink lalu berjalan mencari ketenangan jiwa.
Aku berjalan tanpa arah, hingga langkah kaki membawaku ke taman tengah kota. Aku mencari tempat duduk, bersandar dan melepaskan penat. Tak terasa air mata mengalir di pipi. Bagaimana aku bisa membagi kesedihan ini, sementara orang tuaku sendiri sibuk dengan pertengkaran mereka yang tak pernah berujung.
"Mbak, mau Aqua?"
Aku tergeragap, cepat-cepat kuseka air mata
"Mmm, nggak makasih!"
"Mbak kelihatannya sedang sedih, bisa aku tambahin sedihnya?"
"Hah, maksud kamu apa?"
"Nggak kok mbak cuma becanda daripada galau mending kita lihat senja di cakrawala. Senja itu indah namun hanya sesaat, seperti itulah kehidupan. Indah sesaat berganti kesedihan, begitulah seterusnya karena memang tak ada yang abadi dalam hidup ini."
Aku menyimak kata-kata cowok itu dengan takzim. Pemikirannya sungguh dewasa tak sesuai dengan parasnya yang terlalu imut. Itulah awal perkenalanku dengan Tony. Senja di cakrawala semakin menua, akupun mengajak Arin pulang. Hari ini hari minggu, Arin mengajakku berjalan-jalan ke mall untuk membeli baju baru. Dia mengajakku karena dia bilang selera fashionku bagus. Setelah lelah berputar-putar di mall, kami pun singgah ke kafe mall di lantai 4.
"Gimana Na, sudah ada kabar dari Tony?"
"Belum Rin, sudah 5 bulan terakhir sejak kepergiannya ke Australia 2 tahun ini dia belum kasih kabar."
"Aduh Na, kalau aku jadi kamu aku pasti sudah cari yang lain. Bule-bule di sana kan cantik-cantik!"
"Nggak Rin, aku percaya kok sama Tony."
Sepulangnya dari mall perasaanku semakin galau mengingat kata-kata Arin. Kepergian Tony memang mendadak. Katanya dia ikut pertukaran pelajar di sekolahnya. Sebagai pacar aku tak ingin mengekangnya, aku juga ingin dia meraih cita-citanya setinggi mungkin. Dan hatiku mengatakan dia takkan mungkin berpaling.
Handphoneku bergetar ada pesan wa yang masuk, ternyata dari Tony.
"Na, apa kabar? Besok aku pulang, kita ketemuan di tempat biasa ya!"
Tak terkira rasanya perasaanku saat ini, bunga-bunga cinta yang sempat layu telah berseri lagi.
Di taman kota aku menunggu. Lima belas menit dari waktu perjanjian kami Tony belum datang. Pesan yang kukirimkan lewat wa belum di baca olehnya. Hingga 2 jam lamanya aku menunggu, batang hidungnya belum juga tampak. Aku pun pulang dengan hati masygul.
Keesokan harinya, masih belum ada kabar dari Tony. Aku benar-benar kuatir apa terjadi sesuatu dengannya. Namun aku juga tak tau harus berbuat apa. Aku belum tau persis rumah Tony karena kami selalu menghabiskan waktu di taman kota.
Jarum jam menunjukkan pukul 20.00 Aku menonton sinetron kesukaanku sendirian. Papa belum pulang sedangkan Ibu pergi ke pengajian.
Terdengar suara pintu di ketuk dari luar, betapa terkejutnya aku ternyata yang datang Tony.
"Dasar kamu Ton, dari kemarin kemana aja? Sampai jamuran aku nungguin!" Cerocosku sambil meninju lengannya.
"Aku pingin kasih kejutan sama kamu!"
"Kejutan sih kejutan tapi jangan main ngilang gitu aja dong!"
Tony mengeluarkan kotak kecil dari sakunya. "Ini buat kamu."
"Apa ini?"
"Buka aja, tapi jangan sekarang nanti setelah aku pulang!"
Sepulangnya Tony, aku tidak sabar membuka kotak yang dia berikan. Isinya hanya sebuah surat. Sayang, maafkan aku yang tidak bisa selalu di sisimu. Menemanimu menatap senja yang memudar tergantikan malam. Kau harus terus lanjutkan hidupmu yang indah. Belajarlah dari senja yang mengajarkan keindahan namun sekaligus kehilangan. Kulipat surat itu, aku sungguh tak mengerti apa maksud Tony. Keesokan harinya, aku membaca berita di harian radar kota, ada berita kecelakaan dua hari lalu yang menarik minatku membacanya.
"Ya Tuhan, inikan Tony. Lalu yang kemarin ke rumah siapa?"
Kepalaku pusing dan aku sudah tak ingat apa-apa lagi. (*)
(Penulis adalah ibu rumah tangga yang menyukai sastra. Bisa ditemui di nikensaputri811 @gmail.com, fb : Anita putri atau instagram: niksa_putri)
Editor : adi nugroho