Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Portal Kampus Lifestyle Khazanah Opini RK Institute Internasional

Bertambah Padat tapi Jarang Macet

adi nugroho • Kamis, 22 November 2018 - 01:23 WIB
bertambah-padat-tapi-jarang-macet
bertambah-padat-tapi-jarang-macet

Banyak pembangunan gedung dan infrastrukrur baru. Sejumlah arus dialihkan. Tapi bukan berarti macet di mana-mana. Kuala Lumpur tetap lebih lengang. Setidaknya dibanding ibu kota kita.


 


“Jalannya lancar ya.. nggak sepadat Jakarta.” Ungkapan itu langsung terdengar dari teman-teman rombongan saat melintas di wilayah perkotaan Malaysia. Baik di Kuala Lumpur (KL) maupun beberapa wilayah di Selangor, yang menjadi kota satelit ibu kota. Menurut saya juga begitu. Sama. Saya sepakat.


Dengan pembangunan terlihat di mana-mana, kemacetan memang tak kami rasakan. Padahal kami melakukan sejumlah kunjungan di kawasan padat dan industri.


Setidaknya selama empat hari di sana, saya hanya sekali merasakan kemacetan. Yakni saat melaju dari Shah Alam, Selangor menuju ke kawasan Bukit Bintang, Kuala Lumpur. Itu pun tak lama. Hanya 20 menit. Dan macetnya juga masih normal. Mobil bisa bergerak, meski lambat. Apalagi, ada pemakluman karena sore itu (24/11) hujan turun deras sekali. Waktunya juga bertepatan dengan jam pulang kerja. Sekitar pukul 18.00.


Selebihnya, perjalanan kami selalu lancar. Nyaris kecepatan mobil selalu berada di kisaran 50-70 kilometer per jam saat di jalan raya. “Jarang ada macet di sini,” ujar Ismael, sopir taksi online yang mengantar kami ke kawasan Cyberjaya, Selangor.


Tak hanya di jalanan umum, di tol (highway) juga nyaris tidak pernah ada kemacetan. Di antaranya terlihat di pintu-pintu tol yang tak sampai ada penumpukan kendaraan. Selain pintu tol yang cukup banyak, ada teknologi baru yang sudah dipakai. Yakni radio frequency identification alias RFID.


Dengan teknologi ini, pengendara tak perlu lagi membuka jendela seperti saat menggunakan kartu tol atau sedikit melambat dengan SmartTag. Cukup dengan tempelan stiker khusus di depan mobil, pintu tol yang berlogo RFID akan otomatis mendeteksi dan membuka palang pintunya. Praktis.


Menurut Ismael, teknologi itu memang terbilang baru. Mayoritas pintu tol memang masih menggunakan kartu tol atau menggunakan alat yang dipasang di dashboard untuk pembayaran tol elektronik. “Tapi yang itu (RFID, Red) juga mulai banyak yang pakai,” ujarnya.


Selain berbagai hal itu, ada lagi yang terlihat berbeda antara KL dengan kota-kota besar di Indonesia, khususnya Jakarta dalam hal transportasi dan lalu-lintas. Perbedaan ini terkait sepeda motor.


Di jalan yang lebar di wilayah perkotaan, jarang sekali ditemukan pengendara motor. Bahkan di jalan yang terhitung sebagai jalan tikus misalnya, pengendara motor sangat jarang terlihat wira-wiri. Mobil kecil seperti sedan dan city car masih mendominasi.


Menurut Naque Arifin, warga KL, kotanya memang semakin padat. Namun jika dibandingkan dengan Jakarta, kemacetannya masih bisa ditoleransi. “Jakarta itu lebih parah macetnya karena nggak bergerak-gerak,” ujar pria yang pernah menempuh studi di Jakarta ini.


Soal moda transportasi, menurutnya warga Malaysia memang lebih menyukai membeli mobil. Selain lebih aman dan nyaman berkendara, harga mobil nasional juga cukup terjangkau.


Tak hanya itu, kalau pun mau jalan-jalan atau pulang-pergi kerja, transportasi umum di Malaysia, khususnya KL sudah terintegrasi dengan baik. Tarifnya pun murah. Sehingga pengguna transportasi pribadi juga tak terlalu banyak.


“Paling favorit sih monorel. Mudah ke mana-mana,” ungkap pria yang juga seorang penggiat teater ini.  

Editor : adi nugroho
#catatan #kediri #lalu lintas #tol