Satu kakinya memang cacat karena polio sejak usia satu tahun. Namun, kedua tangan lelaki ini diberkahi keterampilan ukir yang mumpuni. Karyanya pun diakui kualitasnya.
ANDHIKA ATTAR
Bila berjalan, lelaki ini tak bisa cepat. Kaki kanannya bermasalah. Terserang virus polio sejak kecil. Akibatnya, bila berjalan dia harus menggunakan brace, alat bantu berjalan.
Itupun dia tak secepat orang kebanyakan bila berjalan. Langkahnya harus perlahan. Setapak demi setapak.
Seperti saat itu, lelaki bernama lengkap Mochammad Sugianto berjalan dari ruang tamu. Melewati dapurnya yang sederhana. Upayanya menuju bengkel kerja di belakang rumah harus dilalui dengan perlahan.
Bengkel kerja itu berada di bagian belakang rumah. Melewati pintu samping. Ruangan berukuran 2 x 6 meter itu terasa teduh. Berpayung rindangnya halaman belakang.
Di dalamnya penuh dengan beragam peralatan ukir. Mulai dari pahat berbagai bentuk dan ukuran hingga gergaji kayu. Semuanya lengkap ada di sana.
Saat itu Sugianto berniat mengerjakan salah satu pesanan pelanggannya. Kerja lembur tak asing baginya. “Tapi harus pelan-pelan, takut mengganggu tetangga,” ujar pria yang akrab dipanggil Mohak ini.
Di balik kekurangan secara fisik, Mohak dikaruniai bakat mengukir yang luar biasa. Hasil ukirannya indah. Wujud dari ketelitiannya saat menggoreskan ujung tatah di lembar kayu. Tak pelak, pengagum karyanya sudah tak terbilang. Mulai dari orang kebanyakan hingga pejabat. Salah satunya adalah Bupati Kediri Haryanti.
“Pertama kali ke sini, beliau (Bupati Haryanti, Red) langsung minat dibuatkan penyekat ruangan,” kenang ayah satu anak ini.
Saat itu bupati memesan dua penyekat sekaligus. Satu bermotif kaligrafi, satu lagi dengan motif khas yang dipilih sendiri oleh Mohak. Yaitu motif monument SLG. Tenggat pesanan sebelum Lebaran silam pun dipenuhi. Kini, sekat ruangan dari kayu jati berukir sepanjang 2 meter itu menjadi penghias rumah dinas.
Keindahan hasil karyanya itu kemudian mengundang minat banyak orang. Undangan pameran pun banyak dia terima. Termasuk, permintaan dari Pemkab Kediri untuk memberi pelatihan ukir pada 25 peserta.
Kemampuan mengukir Sugianto dia peroleh sewaktu berada di Solo. Ia mendapatkan kesempatan untuk mengikuti pelatihan mengukir dari salah satu perusahan furnitur. Sebelumnya ia telah melamar kerja dari di beberapa tempat mebel. Namun selalu ditolak.
“Kamu punya keahlian apa? Kamu bisa nukang?” tiru pria asli Pehkulon, Papar ini.
Wajar ia ditolak. Ia hanya bermodal nekat. Dari pada hidup tidak jelas di jalanan. Keinginannya sangat kuat untuk bisa lepas dari kesehariannya mengamen. Ia tidak mau terbawa suasana dengan kehidupan bebasnya.
Sugianto dulunya seorang pekerja pabrik sepeda di Bekasi. Kemudian pindah di Boyolali. Posisinya pun sudah cukup bergengsi. Ia dipercaya menjadi pengawas bagian pengelasan.
Namun karena merasa ada ketidakadilan di tempatnya bekerja, ia memutuskan untuk mengundurkan diri. Bukan karena kondisi fisiknya, ia hanya kurang setuju dengan kebijakan perusahaannya.
Berbeda dengan mengukir. Ia merasa ada sesuatu yang bisa menenangkan batinnya. Ia merasa ada kecintaan yang dirasakan saat memahat kayu menjadi berbagai ornamen indah. Kesempatan mengikuti pelatihan mengukir pun tidak disia-siakannya.
Saat pelatihan, dia diajarkan bila seni ukir adalah warisan para wali (walisanga, penyebar agama Islam, Red) . Perkataan gurunya tersebut membekas di benaknya. “Saya ingin nguri-uri (melestarikan, Red) warisan wali,” akunya.
Kekurangan fisik tak membuatnya minder. Justru dia sering lupa kalau cacat. Sering dia baru sadar kekurangan fisiknya kala hendak menggergaji kayu besar. “Keterbatasan itu adanya di pikiran,” ucapnya.
Usai pelatihan dia sempat diangkat jadi karyawan. Tapi, hanya dua tahun saja. Dia tertantang mencari pengalaman baru. Dia pun kembali ke kampung halaman. Berkat arahan temannya, ia mengenal seorang pemilik mebel yang mencari pekerja. Ia pun menyanggupinya. Tak sia-sia, di sana ia semakin mendapatkan banyak ilmu.
“Kemampuan mengukir itu terbawa dari ciri atau karakter gurunya. Kalau orangnya perfeksionis dan teliti, kita juga akan seperti itu,” terangnya.
Satu setengah tahun berselang ia memutuskan menjalankan bisnisnya sendiri. Pada 2008, ia mengawali dengan menerima jasa ukir dari toko mebel lain. Satu per satu pesanan ditekuninya. Hingga akhirnya ia mendirikan sanggar seni ukir UD Luhur Makmur setahun kemarin. Di sanggar tersebut, Sugianto telah menghasilkan berbagai macam dan jenis ukiran. Mulai dari kotak perhiasan, jendela, pintu, hiasan kayu dan berbagai macam furnitur kayu lainnya.
Editor : adi nugroho