Saat tubuh melemah dan semangat berlatih mulai luruh, Ficky Supit punya cara membangkitkan kembali motivasinya. Dia selalu mengingat wajah-wajah anggota keluarganya.
RAMONA TIARA VALENTIN
Lelaki muda ini sudah berdiri di depan rumahnya di Jalan Bagawanta Bari saat Jawa Pos Radar Kediri datang. Rumah bergaya minimalis itu merupakan salah satu hasil dari jerih payahnya selama ini sebagai atlet tenis meja nasional.
“Rumah ini saya beli dari bonus setelah mendapat medali perunggu saat SEA Games 2011,” terang Ficky Supit Santoso, setelah mempersilakan masuk.
Di ruang tamu berukuran sekitar 3 x 4 meter itu seakan menjadi saksi perjalanan prestasi Ficky di cabang tenis meja. Puluhan medali, mulai dari emas hingga perunggu, terpajang di salah satu dinding. Ditata menjadi satu dan dibingkai. Sementara di sisi lain tertempel pula foto-foto kenangan dirinya saat berlaga di berbagai event di luar negeri. Bukan hanya foto saat bertanding tapi juga ketika berjalan-jalan untuk melepas penat.
Sangat wajar bila Ficky sudah mengoleksi banyak medali dan piala dari sepak terjangnya di tenis meja. Lelaki yang punya darah atlet dari sang ayah ini sudah bergelut dengan olahraga ini sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD). Maklum, sang ayah adalah Sinyo Supit. Atlet tenis meja andalan Indonesia di era 80 dan 90-an.
“Waktu kelas 2 SD masih sekadar nonton orang main, nonton papa main, nonton papa latihan juga. Waktu itu mulai kenalanlah (dengan tensi meja),” kenangnya.
Setelah itu Ficky mulai terlibat semakin dalam. Saat dirinya duduk di bangku kelas 5 SD pada 2001 ia bergabung dengan PTM Sanjaya. Klub tenis meja yang didanai PT Gudang Garam Tbk itu salah satu perintisnya adalah sang ayah. Karena itulah dia mulai melanjutkan jejak ayahnya dengan semangat dan motivasi tinggi.
Hasilnya, prestasi demi prestasi pun didapat. Tahun kedua setelah ia bergabung dengan PTM Sanjaya Ficky sudah mampu menjadi juara nasional. Saat itu dia tampil di Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) tingkat SD.
Semenjak itu, ia menyadari bila berprestasi dalam bidang olahraga membantu dia meringankan beban biaya orang tuanya. “Saya merasa sekolah dibiayain terus, jadi orang tua saya gak bayar. Dan saya juga dapat uang saku juga dari sana,” bebernya sambil tersenyum.
Hal itu membuatnya semakin semangat. Dan bertekad untuk memepertahankan hingga meningkatkan prestasi olahraganya. Bagi Ficky meringankan beban orang tua adalah hal yang harus diperjuangkan. Seperti halnya orang tua memperjuangkan anaknya dalam segala hal.
Keluarga pulalah yang terus menopang semangatnya. Saat atlet yang juga tampil di ajang Asian Games ini mulai lemas, malas, dan tak bersemangat dalam berlatih, keluargalah yang memompa semangatnya. Dia selalu teringat wajah-wajah anggota keluarganya yang berhak ia bahagiakan. Di situlah semangat baru muncul yang mendorong munculnya energi untuk tetap berlatih dan mempersiapkan pertandingan semaksimal mungkin.
Anak kedua dari empat bersaudara ini menyadari bila membesarkan empat anak sekaligus bagi orang tuanya bukan perkara mudah. Semua membutuhkan perjuangan, tenaga, hingga biaya yang tidak sedikit. “Saya pingin bisa terus ngringanin beban papah,” imbuhnya sambil melihat foto ayahnya yang terpajang rapi di lemari yang ada di ruang tamu.
Selagi ia masih mampu, ia tetap ingin bertanding membawa nama Indonesia di tingkat dunia dan membuat kedua orangtuanya tersenyum. Dari berbagai prestasi yang pernah ia raih, alumnus SMP Al-Huda ini juga pernah kalah dalam bertanding tanpa membawa medali. Baginya, hal itu adalah hal biasa. Menang kalah wajar. Walaupun perasaanya tetap sedih karena gagal menggapai medali. “Tapi saya harus tetap semangat,” terang lelaki yang saat ini bekerja di PT Telkom di Surabaya ini.
Sinyo Supit, yang bergabung dalam obrolan di akhir waktu ikut menyoroti potensi tenis meja saat ini. Menurutnya, bibit unggul yang ada harus dibina agar lebih matang. Agar maksimal dalam membela bangsa dan negara. “Mereka berhak dan butuh mendapatkan pembinaan tensi meja yang baik,” tegas Sinyo.
Editor : adi nugroho