Awalnya hanya iseng. Membentuk grup keroncong untuk sekadar berbagi tawa lewat lagu. Namun, kian lama grup ini makin eksis. Tawaran manggung pun sudah berkali-kali mereka terima.
RAMONA TIARA VALENTIN
‘Sayang apa kowe krungu….jerite atiku…mengharap engkau kembali……’ Lirik lagu dengan iringan musik keroncong itu sudah terdengar dari jarak lima meter. Berasal dari rumah milik Ketua RT 02 RW 09 Kelurahan Tinalan Agus Santoso. Malam itu (30/8) sekolompok orang tengah berlatih musik keroncong. Lesehan di ruang tamu rumah Agus yang tak terlalu besar itu.
“Dulu personelnya sedikit. Lalu berlanjut dan sampai sekarang ada 10 orang,” terang Agus.
Agus adalah penggagas terbentuknya grup keroncong yang diberi nama Gema Surya Persada itu. Bersama dengan Aries Sulistyo, seorang warganya. Aries menjadi pemetik gitar. Sedangkan Agus pembetot bas cethol.
Awalnya, Agus hanya iseng saja membentuk grup musik keroncong ini. Kala itu 2012.
Laki-laki berambut gondrong ini mengaku bila ia membentuk grup ini tidak lepas dari keinginannya mengajak pemuda di lingkungannya untuk mencintai dan melestarikan musik keroncong. Karena itulah grup musik keroncong ini seluruh personelnya adalah warga RT setempat. Mulai yang usia 20 tahun hingga 40 tahun.
Anggota grup ini juga berasal dari beragam latar belakang. Ada yang mahasiswa, pemuda pekerja, pemuda perajin, hingga bapak-bapak yang merangkap tokoh masyarakat.
Dari keberagaman status di masyarakat tersebut, grup ini melakukan latihan setiap satu bulan sekali. Dengan sistem anjang sana ke rumah-rumah anggota. Setiap rumah anggota grup musik keroncong ini akan didatangi secara bergiliran. “Ya berlatih ya silaturahmi antaranggota,” ujar Agus sambil memetik bas yang sedang ia pegang.
Enam tahun terbentuk, grup musik keroncong ini sudah tampil berkali-kali. Tak hanya ‘jago kandang’, mereka beberapa kali pentas di luar kampung. Mulai dari wilayah Kota Kediri hingga Kabupaten Kediri pernah menggunakan jasa mereka untuk menghibur acara formal hingga informal.
Dari perjalanannya, ada yang membuat grup ini paling berkesan walaupun salah satu personelnya mengalami hal tak terduga. Seperti jatuh ke belakang area panggung beserta alat yang dimainkan. “Kebiasaannya, setelah lagu berhenti kursi dimundurkan sedikit-sedikit. Lama-lama nggeblak itu,” kenang Agus yang disambung derai tawa lebar semua anggota grup.
Saat itu mereka diundang untuk mengisi acara reuni suatu keluarga. Kejadiannya pada 2014 silam. Uniknya, kejadian tersebut justru membuat grup ini semakin semangat dan solid. Bahkan, pada 2015 mereka memiliki kesempatan mengisi acara di Pemkab Kediri dalam rangka pertukaran pelajar dan mahasiswa. Acara yang berlangsung di kafe dekat lokasi wisata Gunung Kelud itu juga dihadiri oleh orang kedutaan.
Aries menambahkan, keberlangsungan grupnya juga tak lepas dari bantuan pemerintah. “Untuk alat musiknya kami dibantu Pemkot Kediri. Kalau tampil di Kabupaten Kediri kami digaet Dinas Pariwisata,” paparnya. Baginya, baik Pemkot maupun Pemkab Kediri sama-sama berperan dalam perkembangan musik keroncong yang dibawakan oleh grup musik tingkat RT ini.
Mengapa mereka memilih keroncong? Menurut Dodok Darmanto, salah seorang personil, musik keroncong berbeda dari musik lainnya. Pemuda ini merasa musik keroncong merupakan musik yang enak didengar. “Lagu campursari saja lebih enak bila dimainkan dengan musik keroncong,” ujarnya.
Berbeda lagi dengan Salma Zareshi, personel lain. Dia mengakui bila musik keroncong adalah musik yang menenangkan. Baik bagi pemainnya maupun penikmatnya. “Keroncong ini bikin nyaman dan berkreasi dari kuno ke modern melalui aransemen tanpa menghilangkan unsur keroncongnya,” imbuh Kaka Riski.
Sedangkan menurut Bima Sasmito, pemegang kentrung, mengaku tidak ingin ikut-ikutan terbawa musik yang berasal dari luar nusantara. “Kita punya sendiri kok. Lestarikan saja yang itu. Ngapain ikut-ikutan yang dari luar,” pungkasnya.
Editor : adi nugroho