Meskipun penyuka musik dengan genre metal, musisi ini tak kehilangan cara untuk melestarikan sejarah dan budaya daerah. Dengan lirik jawa kunonya membuat pendengar lagunya menjadi penasaran.
MOCH DIDIN SAPUTRO
Untuk ukuran personil suatu band metal, rumah Doni Wicaksono di Kelurahan Bangsal, Kecamatan Pesantren, Kota kediri ini terlihat aneh. Bukan gambar musisi metal berambut gondrong dan berdandan nyentrik yang mendominasi dinding rumah. Namun, di ruang tamu berukuran 4 x 6 meter itu dipenuhi buku sejarah dan budaya dari seluruh penjuru Indonesia. Menempati dua rak buku bak perpustakaan.
Doni adalah personil Immortal Rites. Grup band cadas berisi empat personil. Dia adalah gitaris. Kadang, juga bertindak sebagai vokal. Grup band ini dia dirikan pada medio 2000-an. Saat dia kembali ke Kediri dari Jakarta.
Immortal Rites punya khas. Karena memasukkan unsur budaya Jawa, khususnya sejarah lokal Kediri. Termasuk kisah raja Kertajaya atau mengangkat cerita prasasti Kudadu.
“Sekarang sedang proses (membuat lagu) pakai bahasa Jawa Kuno,” terangnya.
Album pertama grup ini covernya bergambar tujuh keris dengan aksara Jawa. Sedangkan pada album kedua mereka menonjolkan cerita Nagara Kartagama. “(Bahasa) Jawa kuno ini asyik kalau sudah jadi lagu. Bisa membuat orang yang mendengar jadi penasaran,” ujar musisi yang pada 2017 sempat promo album di Malaysia ini.
Contohnya saat konser di Trowulan beberapa waktu lalu. Usai konser, banyak penontonnya yang bertanya. Akhirnya, usai konser seperti terjadi dialog tentang isi lagu. Dan, terjadilah sharing tentang sejarah dan budaya yang ada di syair lagu.
Bagi Doni, yang penulis lirik, membuat syair seperti itu susah – susah gampang. ”Penulisannya harus hati-hati dan teliti, tidak boleh salah sedikit pun,” terang musisi yang sudah menyelesaikan 30 lirik lagu ini. “Pengucapan Jawa kuno lebih sulit dari bahasa Inggris,” sambungnya.
Ada salah satu liriknya yang terkesan seram. Karena diambil dari sapata di Prasasti Sangguran. Bila diterjemahkan, liriknya itu berbunyi ‘Dia akan mendapat malapetaka yang mengerikan. Seperti kepala ayam yang dipisahkan dari badan’.
Doni mengawali kecintaanya pada music rock sejak SMP. Awalnya dia hanya suka mengoleksi kover kaset metal. Sampul kaset itu kemudian dilukis di bajunya. Nah, karena sering membeli kaset itu dia pun otomatis mendengarkan lagunya. Lambat-laun dia pun menjadi suka.
Pada akhir 1990-an Indonesia diserbu produk musik luar negeri. Kaset itu dengan disertai sampul yang bergambar menarik.
Ditambah lagi, bapak dan kakaknya juga penyuka musik rock. Koleksi kasetnya seperti milik Led Zeppelin atau The Purple. Sementara sang ibu pun menyukai grup beraliran pop-rock. Meskipun yang asal Indonesia. Seperti Koes Plus atau D’Lloyd.
Koleksi kaset pertamanya adalah grup band asal Jerman, Kreator. Setelah itu, pada 1996 dia pindah ke Jakarta. Mendirikan grup band dengan nama Iconoclasm. Nama ini masih berhubungan dengan arca-arca. Berhubungan dengan peristiwa penghancuran patung-patung di Prancis kala itu.
Album pertama mereka buat pada 1997, Doni dan kawan-kawanya tertarik dengan memasukkan unsur kebudayaan jawa pada lagu-lagu yang diciptakannya. Tak hanya bait-bait lagunya, bahkan hingga gambar cover pun juga ada unsur kebudayaan.
“Iconoclasm ini adalah band metal pertama di Indonesia yang memakai unsur sejarah dan budaya Jawa,” jelas pria 39 tahun ini.
Selain memasukkan unsur budaya di lagu metal, pria yang juga hobi melukis ini mulai membuka galeri baca khusus budaya. Itu berlangsung pada 2016. Hal ini masih terinspirasi dari kisahnya saat di Jakarta. Di mana dulu di Jakarta ia punya persewaan komik. Sehingga ini membuatnya ingin membuka taman baca sendiri di rumahnya.
Koleksinya berupa 400 buku dengan unsur budaya, sejarah, dan buku cerita anak-anak yang menggambarkan legenda dan dongeng di Indonesia. “Buku sejarah ini kan sulit dicari dan sedikit yang punya. Jadi ini untuk membuka akses biar memudahkan masyarakat untuk bisa meminjam buku sejarah,” akunya.
Setiap hari pun selalu ada orang yang berkunjung ke rumahnya. Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Mereka tak sekadar membaca buku di rumah Doni. Namun juga membawanya untuk dipinjam dan dibaca di rumah.
Editor : adi nugroho