Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Srawung Psikologi, Komunitas Diskusi Kediri yang Terus Eksis

adi nugroho • Jumat, 10 Agustus 2018 | 00:25 WIB
srawung-psikologi-komunitas-diskusi-kediri-yang-terus-eksis
srawung-psikologi-komunitas-diskusi-kediri-yang-terus-eksis

Mereka tak hanya berdiskusi psikologi yang bersumber dari barat. Juga watak budaya ketimuran. Komunitas ini mempelajari psikologi tari, musik, hingga mengenali diri sendiri.


 


MOH. FIKRI ZULFIKAR


 


Berawal dari ruang diskusi kecil para mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kediri, saat masih berstatus STAIN, pada medio 2015. Setelah itu, ruang diskusi para mahasiswa penggila ilmu psikologi ini pun melebar. Merengkuh mahasiswa dan anak muda yang sama-sama haus akan ilmu psikologi.


Akhirnya, arah diskusi semakin tajam. Berkembang ke wilayah psikologian. Dua minggu sekali komunitas yang bernama Srawung Psikologi menggelar diskusi. Membahas ilmu psikologi dari hasil membaca buku, jurnal, hingga esai.


“Setelah satu setengah bulan berjalan teman-teman dari IAI Tri Bakti Kediri mulai gabung. Menambah gayengnya diskusi kami,” kenang M. Rosyid Sobikhi, pegiat Srawung Psikologi Kediri.


Kebanyakan anggota Srawung Psikologi memang mahasiswa. Namun, komunitas ini tetap membuka diri untuk masyarakat umum. Asalkan mereka memang tertarik untuk mendiskusikan berbagai sisi psikologi. Apalagi, sebagian kegiatan mereka juga berlangsung di luar kampus.


Salah satu kegiatan yang berlangsung di luar kampus itu berlangsung Maret lalu. Di vihara Jayasaccako Kediri, di Kelurahan Semampir, Kota Kediri. Menggandeng petugas vihara. Berdiskusi sekaligus menimba ilmu tentang meditasi dari umat Buddha.


Berkegiatan di vihara tak membuat anggota Srawung Psikologi canggung. Meskipun mayoritas anggotanya beragama Islam. “Di (vihara Jayasaccako) Semampir itu adalah satu satu agenda rutin diskusi kami. Saat itu kami mengangkat tema meditasi yang digabungkan dengan kepsikologian manusia,” ungkap Rosyid.


Dalam mencari pengetahuan, Srawung Psikologi tak mengenal tempat, golongan, ataupun agama. Menurut mahasiswa kelahiran 17 April 1995 ini di mana ada ilmu pengetahuan di situ mereka akan gali. Komunitas ini bahkan pernah melakukan diskusi dan penelitian di Desa Jambu, Kecamatan Kayenkidul.


“Di desa itu (Jambu, Red) ada bermacam-macam agama. Kami coba membaur dengan masyarakat dan melihat terkait psikologi dan tindak laku mereka dalam bermasyarakat,” ujarnya.


Dari penelitian dan diskusi di Desa Jambu, mereka mendapat banyak hal. Khususnya terkait faktor psikologi warga yang berlatar beragam agama. Kelompok ini mendalami psikologi warga yang bisa hidup rukun antarsesama. Hasil diskusi itu menjadi pelajaran untuk setiap anggota. Juga, hasil penelitian dan diskusi tersebut menjadi karya yang bermanfaat untuk menggambarkan ranah psikologi di suatu wilayah.


“Selain kita berdiskusi kita juga menghasilkan karya,” terangnya.


Hasil penelitian Srawung Psikologi di Desa Jambu itu terangkum dalam buku yang bertajuk Call for Paper. Karya mereka itu pernah diseminarkan di Universitas Muhammadiyah Surakarta dan Universitas Gajah Mada (UGM) Jogjakarta.


Tak hanya teori psikologi dari barat saja yang mereka diskusikan. Mereka juga mengembangkan psikologi khas Indonesia. Yang diwarnai budaya ketimuran. Itu membuat diskusi mereka beragam. Mulai soal psikologi tari, musik, hingga mengenali diri sendiri.


“Pemikiran para tokoh-tokoh Jawa pun juga kerap kami diskusikan,” ujar pria yang kini tinggal di Yayasan Panti Asuhan Trisakti, Pesantren, Kota Kediri ini.


Rosyid menerangkan pemikir Jawa yang kerap mereka diskusikan adalah RMP Sosrokartono, kakak RA Kartini, pahlawan emansipasi. Pemikiran Sosrokartono yang terkenal di antaranya adalah Sugih Tanpo Banda­. Juga pemikir lainnya seperti Ki Ageng Suryomentaram dengan Kawruh Jiwa-nya. “Sampai kegiatan terakhir kami kemarin yang bekerjasama dengan Sekolah Alam Ramadhani dalam rangka Hari Anak Nasional itu,” tegasnya.


 

Editor : adi nugroho
#kediri #diskusi