Rasa lelah seketika hilang ketika melihat senyum warga desa yang membutuhkannya. Tanpa rasa mengeluh dan tetap semangat, itulah yang ditunjukkan bidan lereng Gunung Wilis di Desa Pamongan, Kecamatan Mojo.
Perjuangan bidan desa ini memang perlu diapresiasi. Setiap hari, jarak puluhan kilometer (km) harus ditempuh. Bahkan dengan jalur medan yang tak mudah. Ya medan berat itu ada di pegunungan Wilis.
Rutinitas pagi untuk menempuh perjalanan jauh ini sudah menjadi hal yang biasa bagi bidan satu ini. Mulai jalanan berkelok, lubang yang menghadang, dan tepi jurang yang curam membahayakan pun tampak di depan mata.
Itulah yang setiap hari dirasakan Yuli Pertiwi. Puluhan kilometer ia tempuh untuk mengemban tugas mulia, menolong sesama. “Saya berangkat pukul 06.45, sampai di puskesmas pukul 07.15,” ujarnya sembari menunjuk jam dinding di ruang kerjanya.
Rutinitas Yuli ini tidak seperti kebanyakan bidan. Dia harus menuruni gunung untuk absen di Puskesmas Ngadi, Kecamatan Mojo. Itu berjarak sekitar 17 km dari rumahnya di Desa Pamongan. Dan memakan waktu setengah jam perjalanan.
Rutinitas seperti itu sudah sudah dilakukanya sejak tahun 2000. Saat ia mulai dipindahtugaskan dari Puskesmas Mojo ke Puskesmas Ngadi dan ditempatkan di Desa Pamongan. “Ya kalau dihitung-hitung sudah 18 tahun Mas,” sahutnya.
Sesampainya di puskesmas, tak jarang perempuan 51 tahun ini harus kembali ke rumah dinasnya di Pamongan. Tak hanya itu, Yuli juga memiliki tanggung jawab menjadi bidan di lapangan.
Kegiatannya rutin pergi ke posyandu-posyandu desa di wilayah kerja Puskesmas Ngadi. Kebanyakan adalah desa-desa lereng Gunung Wilis. Setelah melakukan rutinitas itu, ia kembali ke puskesmas untuk absensi siang. “Kalau ditotal ya 68 kilometer Mas,” imbuhnya.
Sebenarnya rutinitas tersebut membuatnya lelah. Namun itu semua demi sebuah profesi. Dan akan terbayarkan jika masyarakat yang dilayani merasa puas. Tak jarang ketika Yuli pergi ke puskesmas untuk absen ada pasien yang tiba-tiba datang ke rumahnya. Biasanya pasien yang akan melahirkan. Hal inilah yang membuat Yuli gelagapan. Ia harus kembali lagi ke kediamannya di Pamongan untuk melakukan penanganan terhadap pasien tersebut.
“Saya langsung ngebut Mas, padahal baru sampai di puskesmas, itu rasanya seperti dibanting,” terangnya. Saat itulah yang menjadi tantangan tersendiri baginya.
Selama ini Yuli tidak memiliki asisten bidan yang bisa berjaga di sana. Hal ini karena setiap siapa pun yang menjadi asistennya dan bertugas di Pamongan merasa tidak betah. Alasanya, daerah Pamongan yang memiliki ketinggian sekitar 600 meter di atas permukaan laut (mdpl) itu sangat dingin dan aksesnya cukup sulit.
“Meski tidak ada asisten, tapi ada bidan dari bawah yang siap membantu kalau ada persalinan,” jelas Yuli. Memang dalam sebuah persalinan haruslah ada dua orang yang menangani. Hal inilah yang sebenarnya mengurangi bebannya.
Saat ditanya bagaimana bisa melewati ini semua belasan tahun? Yuli menjawab ringan. “Yang penting kita jalankan dengan senang, pasti beban yang selama ini dirasakan menjadi ringan,” tutur ibu dua anak ini.
Tak hanya itu, menurutnya, keceriaan pasien ataupun ketika berkumpul dalam posyandu bisa membayar rasa lelah yang selama ini ia rasakan. Sementara itu, Ninik selaku bidan koordinator Puskesmas Ngadi, menyampaikan bahwa sosok bidan Yuli memang karakternya pekerja keras. Biarpun usianya paling tua di antara yang lain, namun semangatnya melayani masyarakat di wilayah pedesaan sangat tinggi.
“Apalagi saat ada program yang akan disampaikan ke wilayah-wilayah, beliau itu geregetnya luar biasa,” paparnya.
Editor : adi nugroho