Hampir semua jenis kopi ada di Kediri. Baik itu Robusta, Arabica, maupun Ekselsa. Ada pula kopi luwak, kopi lanang, hingga kopi combre. Pasar ekspor pun terbuka lebar.
Kopi memang bukan komoditas asli Kediri. Bahkan, tanaman ini bukan asli tanaman Nusantara. Jejak masuknya tanaman ini ke Kediri, ataupun Indonesia, memang tak bisa dipastikan waktunya. Namun, komoditas ini diperkirakan masuk di masa kolonial.
Di Kediri jejak awal masuknya kopi bisa ditelusuri dari keberadaan industri kopi milik PTPN XII Ngrangkah Pawon di Satak, Kecamatan Plosoklaten. Perkebunan ini sudah ada sejak awal abad 20. Di tahun 1900. Masuknya dibawa oleh Pemerintahan Kolonial Belanda dari Afrika.
“Awalnya (perkebunan Satak) adalah milik Belanda. Lalu pada tahun 1950-an diambil alih negara,” terang Manajer PTPN XII Yudi Kristanto, saat ditemui oleh tim Ekspedisi Kopi Jawa Pos Radar Kediri di kantornya.
Di Satak ini, kualitas kopinya sudah terkenal sejak zaman kolonial Belanda. Yang menjadi andalan adalah kopi jenis arabika dan robusta. Dua jenis itu punay taste khusus. Selain itu nilai ekonomisnya sangat menjanjikan.
“Permintaan paling banyak adalah kopi arabika,” sebutnya.
Dominasi arabika di industri kopi Kediri bukan tanpa sebab. Kopi jenis ini secara karakteristik cocok dengan topografi Kediri yang merupakan daerah pegunungan tapi tidak terlalu tinggi. Kopi jenis arabika ini bisa tumbuh subur pada ketinggian 700 meter di atas permukaan laut (mdpl). Sementara yang jenis robusta malah lebih rendah lagi. Sudah bisa ditanam di ketinggian 300 mdpl.
Di perkebunan milik PTPN XII, luas kebun kopi arabika sekitar 20 hektare. Sementara untuk jenis robusta mencapai 280 hektare. Kebun kopi yang dikelola oleh PTPN XII ini memiliki kualitas tingkat satu. Menurut Yudi, untuk menjadi kopi dengan kualitas tinggi, fase sortasi adalah yang terpenting.
“Sortir untuk kopi kualitas ekspor itu nilai cacatnya minimal adalah 11 persen,” terangnya.
Kopi Satak milik PTPN XII ini disortir menjadi dua macam mutu. Untuk kopi yang bagus dan lolos tahap sortasi menjadi mutu satu. Sedang sisanya menjadi mutu empat. “Yang mutu satu kita ekspor, sedang yang mutu empat untuk pasar lokal,” urainya.
Kopi Satak saat ini sudah bisa melanglang buana hingga ke berbagai negara. Diekspor ke negara Jepang, Korea Selatan, Italia, hingga Amerika Serikat. Untuk kualitas premium atau ekspor, kopi arabika dari Satak per kilogramnya seharga 7 USD. Bila dengan kurs dolar saat ini sekitar Rp 14 ribu, maka per kilogram arabika dari Satak bernilai sekitar Rp 98 ribu. Sementara untuk robusta harganya lebih murah. Per kilogram senilai 4 USD.
Yang menarik, kopi Satak sepertinya memang cocok untuk pasar ekspor. Per tahun, PTPN XII bisa menjual ke luar negeri mencapai 100 ton. Sedangkan yang dilempar ke pasar lokal ‘hanya’ 20 ton per tahun.
Yudi menerangkan, untuk menjadi kopi kualitas ekspor banyak persyaratan dan kualifikasi yang harus dipenuhi. Setiap tahapan prosesnya memiliki standardisasinya sendiri. “Sekarang kami sudah memiliki UTZ Certified (sertifikasi Internasional untuk kakao, kopi dan teh, Red),” tegasnya.
Kopi jenis Arabika di Satak karakternya seimbang antara tingkat keasaman dan manisnya, after taste yang lama, serta ada rasa-rasa gurihnya. Sedangkan untuk karakter kopi robusta adalah manis, after taste yang lama dan tidak terlalu asam.
Di Desa Medowo, Kandangan, perkebunan kopi menjadi mata pencaharian utama sebagian besar penduduknya. Di tempat ini juga muncul industri kopi. Walaupun skalanya tidak sebesar seperti di Satak. Namun, perkembangannya sangat potensial. Total, lahan di Medowo lahannya mencapai 344 hektare. Per tahun bisa menghasilkan 284 ton kopi.
Jenis kopi yang ditanam umumnya adalah Arabica. Karena secara geografis memang paling cocok. Kebun-kebun kopi di sini berada di dataran yang tak terlalu tinggi.
Sebenarnya, ada beberapa petani yang juga menanam kopi jenis lain. Yaitu jenis ekselsa, jenis yang paling disukai oleh luwak. Namun jumlahnya masih sedikit. Areal tanamnya terbatas. Karena kopi ini memang sulit dikembangkan di Kediri.
Secara fisik, antara Arabica dan ekselsa punya ciri yang bisa dibedakan oleh mata. Daun tanaman kopi ekselsa berukuran lebih besar dibanding Arabica.
Berbeda dengan Satak dan Medowo yang didominasi Arabica, di lereng Gunung Wilis jenis robusta yang mendominasi. Selain di perkebunan milik warga, kopi jenis ini yang banyak tumbuh di hutan-hutan di daerah Besuki, Desa Jugo, Kecamatan Mojo.
Di Besuki ini juga ada industri pengolahan kopi. Dikelola oleh seorang warga, Sudiro. Selain memiliki lahan yang ditanami kopi, Sudiro juga memiliki pabrik pengolahan. Beberapa mesin pengolah buah kopi menjadi kopi yang siap dijual telah dia miliki. Setidaknya pabriknya itu bisa menampung hasil panen dari 12 petani kopi di sekitarnya.
Sementara, data dari Dinas Pertanian dan Perkebunan (Dispertabun) Kabupaten Kediri, ada 919 hektare lahan perkebunan kopi di sini. Berada di 16 dari 26 kecamatan. Dengan dominasi jenis robusta.
“Paling luas di Kecamatan Kandangan yang mencapai 344 hektare lahan,” terang Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dispertabun Anang Widodo. Dari seluruh total lahan itu, total produksinya mencapai 563 ton.
Urutan kedua adalah Kecamatan Puncu, 169 hektare. Kemudian Kecamatan Kepung 103 hektare. Yang lain, tersebar mulai Ngancar, Ringinrejo, Kras, Ngadiluwih, Kandat, Wates, Plosoklaten, Gurah, Pare, Mojo, Semen, termasuk area perkotaan seperti Banyakan dan Grogol.
Di Mojo, mulai dikembangkan jenis arabika. Yang diharapkan bisa mengangkat nama kopi Kediri. Yaitu di kawasan Irenggolo, di Dusun Besuki. Daerah itu dianggap yang paling tepat untuk mengembangkan jenis arabika. Karena di ketinggian 1.700 mdpl. Rencananya, akan ada penambahan bibit jenis arabika yang mencapai ribuan bibit.
Saat ini, Dispertabun terus meningkatkan edukasi ke petani. Sebab, hasil survei menyebutkan petani belum melakukan proses sortasi dengan benar. Banyak yang mencampur tanpa memisahkan warnanya. Padahal, biji kopi hijau, kuning, dan merah memiliki rasa berbeda.
Menurut Anang, kopi sangat peka terhadap kelembapan dan menyerap kondisi di sekitarnya. Karena itu, jika proses sortasi hingga pengolahan paskapanen yang tidak tepat akan berpengaruh terhadap kualitas kopi.
Anang menyebut potensi kopi di Kediri sangat besar. Dengan dua jenis kopi andalan, Kopi Wilis dan Kopi Excelsa di Kandangan.
Dispertabun juga berusaha meningkatkan daya saing petani kopi. Sehingga kesejahteraan bisa meningkat. Yaitu setelah menyelesaikan tahapan paska-panen, dilanjutkan dengan pengolahan lagi hingga siap jual dalam bentuk bubuk. Hal ini untuk meningkatkan harga jual. “Tahun ini kami akan melakukan pengadaan roaster dan grinder kopi,” pungkasnya.
Editor : adi nugroho