Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Risqi Buana Putra, Lulusan SMK yang Piawai Bikin Barongan

adi nugroho • Selasa, 10 Juli 2018 | 00:10 WIB
risqi-buana-putra-lulusan-smk-yang-piawai-bikin-barongan
risqi-buana-putra-lulusan-smk-yang-piawai-bikin-barongan

Menggeluti teknik mesin ketika sekolah menengah kejuruan (SMK), Risqi Buana Putra kini justru mengotak-atik barongan. Tak sekadar mahir bikin properti untuk pentas jaranan dan reog itu, remaja 18 tahun ini mampu memolesnya seolah hidup. Karyanya telah dikenal hingga luar pulau Jawa.


 


RAMONA TIARA VALENTIN


 


Tumpukan lembaran kulit lembu, kaleng-kelang cat, batangan kayu, dan sebuah kompresor tampak menghiasi ruangan belakang rumah Risqi Buana Putra. Di ruang sebelah dapur yang hanya disekat dinding bambu tersebut sehari-hari memang dimanfaatkan pemuda itu untuk bekerja.


Ya, di bagian belakang griya seluas sekitar 2,5 x 2,5 meter di Desa Jagung, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri itulah Risqi membuat kerajinan barongan. Barongan atau yang juga dikenal dengan istilah caplokan ini adalah salah satu properti dalam pementasan seni asli tanah Jawa, seperti kuda lumping hingga reog.


Bentuknya seperti kepala naga, panjang diameternya sekitar 30 sampai 50 sentimeter (cm). Sabtu siang itu (7/7), sekitar pukul 13.00 ketika Jawa Pos Radar Kediri bertandang ke sana, pemuda yang masih berusia 18 tahun ini sedang beraktivitas. Dia sibuk memasang bulu mata sebuah barongan yang telah dicat dominan biru.


“Bulu mata ini bahannya dari rambut sintetis. Diberi tambahan bulu agar terlihat lebih indah dan cantik,” katanya seraya menyambut ramah wartawan koran ini.


Risqi tak hanya membuat barongan sendiri. Dia juga dikenal mahir memperbaiki dan memperindah barongan yang baru setengah jadi. Makanya, pelanggannya terkadang hanya meminta agar barongannya sekadar dipoles saja. Risqi memang menyukai pekerjaannya. “Saya suka jaranan (kuda lumping), sejak kelas 2 SD,” terangnya.


Kekagumannya terhadap seni tradisional khas Kediri itu pun ia salurkan dengan bergabung menjadi penari jaranan di desanya. “Kelas dua SMP saya gabung jaranan. Lalu, kelas tiganya saya pingin punya barongan sendiri,” paparnya sambil mengenang.


Semenjak bergabung sebagai penari, Risqi berkeinginan memiliki barongan sendiri yang saat itu harganya dibanderol sekitar Rp 1,7 juta. Itu untuk satu barongan. “Pengin banget punya, tapi saya nggak punya uang. Keluarga juga nggak punya uang buat membeli,” akunya.


Meski begitu, pemuda yang sudah tidak memiliki ayah ini tetap tidak menyerah untuk mewujudkan keinginannya memiliki barongan sendiri tanpa meminjam. Dari sanalah yang membawanya untuk melihat pembuatan barongan secara langsung yang dilakukan oleh salah satu teman penari jaranan.


“Saya perhatikan betul detailnya. Karena ukirannya harus timbul. Dan saya harus bisa,” tegasnya.


Tidak hanya proses mengubah kayu menjadi ukirannya yang timbul, Risqi juga harus mampu melukis warna hingga menambahkan aksen hidup pada bentuk barongan yang identik berwujud kepala naga.


Saat ditanya mengapa menyukai barongan, pemuda lulusan SMK ini mengaku, ingin melestarikan budaya lokal dengan caranya sendiri. “Saya ingin mengenalkan ke siapa saja, kalau kita punya barongan,” katanya.


Supaya mampu membuat barongan sendiri, Risqi membutuhkan waktu belajar dan praktik selama satu tahun. “Pas SMP saya sudah lihat-lihat cara buatnya. Lalu 2015 saya sudah mengerjakan pesanan,” ujarnya sambil mengecat bagian jamang.


Anak ketiga dari empat bersaudara ini mengaku, sejak tiga tahun usahanya berjalan, sudah mampu mengirim karyanya hingga ke Kalimantan. Itu melalui penjualan secara online di media sosial.


“Saya jual melalui facebook dan instagram. Ada juga yang saya titipkan ke toko aksesoris jaranan,” kata lulusan SMK jurusan teknik mesin ini. Risqi mengakui, tidak hanya mengerjakan pemesanan barang jadi. Namun, juga menerima pesanan barang setengah jadi dan sesuai permintaan konsumen.


Untuk menyelesaikan satu barongan, ia membutuhkan waktu 1 hingga 1,5 bulan. Yang tersulit dalam pembuatannya adalah bagian mata dan hidung. “Matanya itu bulat dan harus simetris,” jelasnya.


Kekuatan ukir sangat berperan dalam menimbulkan kesan hidup pada barongan. Tidak hanya kesulitan dalam pembuatan, dari sisi modal biaya juga menjadi salah satu kendala usahanya masih berjalan lambat. “Untuk pembelian bahan saja sudah habis Rp 1 juta,” terangnya. Padahal harga satu barongan sebesar Rp 2 juta sampai Rp 3 juta.


Hingga pencapaiannya ini masih belum membuat Risqi puas. Pasalnya, ia masih berharap para pemuda mencintai dan melestarikan budaya lokal dengan caranya masing-masing.


Kepiawaiannya ini juga diakui oleh Reza Mahmud, teman Risqi, yang juga ikut membantu proses pembuatan barongan. “Saya kagum, bocah seusianya sudah bisa bikin barongan dengan formasi utuh,” pungkasnya.


 


 

Editor : adi nugroho
#kediri #kreatif