Dulu, gitar listrik merupakan barang mewah dan langka. Satu gitar listrik bisa dipakai bergiliran. Pengalaman itulah yang memotivasi Agung Hariono membuat gitar listrik. Terutama yang terjangkau bagi generasi sekarang.
ANDHIKA ATTAR
Kecintaannya terhadap dunia musik sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. Sudah tumbuh sejak masa remaja. Terutama dengan instrumen berdawai enam bernama gitar. Bagi Agung Hariono, musik adalah istri kedua.
Seperti kebanyakan cerita roman, perjuangan dalam mendapatkan cinta tidaklah semudah membalik telapak tangan. Ia pun merasakan hal tersebut. “Dulu gitar listrik itu barang mewah dan langka. Satu gitar listrik bisa dipakai bergiliran,” kenangnya.
Pengalaman pahit itulah yang membuatnya termotivasi untuk membuat sendiri gitar listrik yang berkualitas dan terjangkau. Ia menganggap hal itu bukan sebagai beban. Justru ia merasa tertantang dengan keterbatasan itu.
Ramadan dua tahun lalu adalah awal mula Agung Hariono membuat gitar listrik pertamanya. Tak tanggung-tanggung, gitar pertama yang dibuatnya bermodel stratocaster semi hollow body (perpaduan gitar yang memiliki lubang resonansi dan yang tidak berlubang resonansi, Red). Padahal, bagi seorang luthier (perajin gitar, Red) gitar dengan model seperti itu memiliki tingkat kesulitan menengah. “Harusnya yang mudah-mudah dulu,” ucapnya sembari tertawa.
Tidak sekadar membuat gitar listrik yang berkualitas dari segi suara saja. Ia juga ingin membuat gitar listrik dengan menonjolkan corak asli dari kayu Indonesia “Kayu lokal itu mempunyai corak yang bagus. Seperti kayu sonokeling, coraknya bagus, kualitas suara bagus dan jernih,” tegas pria berambut kuncir ini.
Kebanyakan gitar listrik buatan luar negeri menggunakan kayu jenis mapple. Namun, ia justru lebih memilih kayu lokal berjenis sonokeling, mahoni, pelem kueni, johar, mindi, hingga trembesi. “Corak kayu lokal itu bernilai seni tinggi,” imbuhnya.
Menurutnya karakter suara dari kayu sonokeling adalah bright. Suaranya jernih dan detail. Sedangkan untuk kayu mahoni suaranya lebih ke high and low.
Benar saja, pembelinya pun mengakui corak dan kualitas suara dari gitar listrik buatan pria asli Kediri ini. Alhasil, pembelinya justru meminta untuk dibuatkan gitar bass dengan corak dan suara yang lebih berkualitas.
“Pemesan minta dibuatkan gitar bass berjenis MTD fretless 5 string (bass 5 senar tanpa fret, Red) dengan kayu sonokeling,” terang pria berumur 44 tahun ini. Tak disangka, pembelinya memesan untuk dibuatkan gitar bass lagi.
Meskipun ia sangat mencintai corak kayu lokal, tak jarang pembelinya yang memesan gitar listrik dengan warna solid. Ia pun tetap mengakomodasi pesanan pembelinya tersebut. “Idealisme itu mahal harganya,” tukasnya lalu tertawa lepas.
Di workshop kecil-kecilan samping rumahnya di Desa Purwodadi, Purwoasri, Kediri, tak banyak mesin modern yang ia gunakan. Praktis hanya terdapat router (mesin profil), jigsaw, kompresor, dan bor listrik. Lainnya kebanyakan masih menggunakan alat-alat tradisional. Seperti tatah, palu, bor tangan, klem F dan C.
Terkait harga, gitar listrik buatannya bisa dibilang terjangkau. Bahkan untuk pengerjaan dan kayu saja, ia hanya mematok harga antara Rp 500-750 ribu. Sisanya tergantung kualitas part gitar apa yang dipesan oleh pembelinya. “Bisa menyesuaikan, part itu berkisar antara Rp 800 ribu hingga Rp 2,8 juta. Lebih mahal lagi juga ada sebenarnya,” kelakarnya.
Meskipun begitu, ia mengaku bersedia membuatkan gitar listrik untuk anak generasi sekarang dengan dibayar seikhlasnya. Dengan catatan, anak tersebut memang berkemauan tinggi dan bersungguh-sungguh ingin belajar. “Saya dikaruniai bakat dengan kedua tangan saya. Itu salah satu cara saya bersyukur,” pungkas pria berzodiak Aries ini.
Editor : adi nugroho