Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Kaitkan Teori Bigbang dengan Surat Al Anbiya

adi nugroho • Senin, 2 Juli 2018 | 23:12 WIB
kaitkan-teori-bigbang-dengan-surat-al-anbiya
kaitkan-teori-bigbang-dengan-surat-al-anbiya


Saat kecil, hampir setiap sore Ayu mendengarkan suara orang mengalunkan ayat suci Alquran. Hasratnya membuncah. Ingin belajar menguasai bacaan itu.


 


RAMADANI WAHYU N.


 


Mimpi buruk Lilik Yulaikah terjadi. Bayinya yang berusia seminggu itu memiliki kelainan. Warga Kelurahan Bandarlor, Kota Kediri ini melihat keanehan pada dua mata Ayu Fajar Lestari, sang kekasih hatinya. Bola matanya kecil sebelah. Tak bisa melihat.


Beragam cara dilakukan Lilik agar anak pertamanya itu sembuh. Termasuk ke pengobatan alternatif. Tapi hasilnya nihil. Walaupun kedua bola mata itu sudah berukuran sama tapi tetap tak bisa berfungsi. Ayu tetap tak bisa melihat.


Ketika beranjak besar, Ayu tak bisa beraktivitas normal seperti teman sebayanya. Saat usia 2,5 tahun, ketika yang lain sudah bisa bermain dan berlarian, Ayu hanya duduk diam. Aktivitas rutinnya adalah mendengarkan. Selain mendengarkan suara gedebag-gedebug langkah kaki, Ayu juga mendengar alunan suara anak mengaji di tempat pendidikan Alquran (TPA).


“Di usianya sekitar dua tahun itu dia sering kali bertanya suara apa itu? Dan saya jawab itu suara anak mengaji,” kenang ibu dua anak ini.


Hal itu menimbulkan keinginan Ayu untuk bisa seperti anak-anak yang rajin mengaji itu. Sontak, sang ibu pun berusaha mengabulkan keinginan sang anak. Dengan dibantu oleh nenek Ayu, keduanya berusaha mengajari sang anak belajar Alquran.


Tentu, karena tak bisa melihat, Ayu tentu tak diajari membaca. Apalagi, keluarga ini tak memiliki Alquran dari huruf braille. Karena itu, satu-satunya kemampuan yang dimiliki adalah mendengar.  


“Dulu awalnya hanya ingin mengaji, mendengar sambil menirukan neneknya. Nggak tahunya ternyata hafal,” ujar Lilik.


Dari situlah juga secercah harapan muncul. Lilik terus-menerus mendorong agar Ayu tetap semangat belajar.  Kebetulan, Ayu adalah tipikal anak yang suka belajar. Karena itulah, kondisinya yang tak normal seperti kebanyakan anak tak menyurutkan semangatnya.


“Justru saya ini heran anak saya sangat percaya diri, ndak ada rasa minder,” tuturnya.


Hampir tiap sore digunakan Ayu untuk mendengar dan menghafal Alquran. Awalnya, ia hanya menghafal surat-surat pendek. Lama-kelamaan bisa menuntaskan hafalan hingga juz 30.


Saat sekitar kelas 2 SD, Lilik sempat membelikan Alquran berhuruf Braille untuk Ayu. Namun, menurut Ayu, dia lebih mudah menghafalkan ayat demi ayat lewat cara mendengar. Karena itu, dia mengaku menghafal semua juz di Alquran dari mendengar sang nenek dan ibunya mengaji.


“Saya menggunakan Alquran Braille sekitar usia SD,” ujar gadis yang ingin jadi dosen Alquran ini mengingat-ingat.


Kegigihan dan keuletan Ayu membuahkan hasil. Pada saat kelas V SD Ayu telah tuntas menghafal 30 juz Alquran. Hal itu membuat tawaran mengikuti lomba berdatangan. Seringkali Ayu pulang dengan membawa keberhasilan. “Tak hanya bacaannya, surat, dan ayatnya ia hafal. Bahkan (paham) kandungan makan inti dari setiap surat,” ungkap istri Mochamad Rochim ini.


Kini, Ayu berusia 18 tahun. Dia duduk di kelas 11 madrasah aliyah di Panti Asuhan Tunanetra Terpadu ‘Aisyah’ Ponorogo. Beberapa hari ini dia memang tengah bersantai di rumahnya, di Bandarlor. Dia masih menikmati liburannya yang baru berakhir Kamis (12/7).


Ayu terbiasa mandiri. Sejak memasuki jenjang sekolah menengah atas di Ponorogo, Ayu tak takut jika harus jauh dari orang tua. Biasanya gadis ini pulang setiap liburan sekolah berlangsung. Yang terjadi justru ibunya terus-menerus merindukannya.


Lalu, bagaimana dengan prestasi akademik? Dia menyatakan bahwa justru hafalan Alqurannya itu membantu dalam belajar. Itu terbukti ketika ia dijelaskan oleh sang guru yang selalu bisa dia kaitkan dengan kandungan isi Alquran. Contohnya, teori Bigbang yang ada dalam Alquran surat Al-Anbiya ayat 30.


“Jadi kalau lupa sama pelajaran, yang saya ingat hafalannya. P pelajaran tertentu (saja) sih seperti geografi dan biologi,” papar gadis ini.

Editor : adi nugroho
#belajar #pendidikan