Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Nyantri Ramadan di Pondok ‘Alabama’ Pare (1)

adi nugroho • Senin, 21 Mei 2018 | 18:53 WIB
nyantri-ramadan-di-pondok-alabama-pare-1
nyantri-ramadan-di-pondok-alabama-pare-1


Tidak ada nama yang paten untuk pondok yang berada di Jalan Teuku Umar, Desa Gedangsewu, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri ini. Sang pendiri, KH Baidhowi, tak pernah memberi nama pada pondok yang diasuhnya ini.


 


M. FIKRI ZULFIKAR


 


Walaupun tanpa nama, pondok di tepi Sungai Serinjing terkenal dengan ilmu bahasa dan sastra Arabnya. Santrinya pun relatif banyak. Datang dari berbagai kota. Apalagi saat Ramadan seperti saat ini. Bahkan, ada satu santri dari Malaysia yang belajar di pondok yang sederhana ini.


Kesederhanaan memang terlihat di pondok yang kompleksnya dikelilingi kebun bambu ini. Mulai dari bangunannya yang terbuat dari kayu hingga konstruksinya. Kamar-kamar para santri semuanya merupakan rumah ankring alias rumah panggung.


Tidak hanya itu, tempat ngajinya juga berbentuk rumah panggung. Bertembokkan udara segar. Alias langsung berbaur dengan alam yang hijau di sekitar pondok . Suara deras sungai yang berada tepat di utara pondok itupun masih terdengar di sela-sela Kiai Dhowi-sebutan bagi sang pengasuh KH Baidlowi- memberikan pelajaran kepada santri-santrinya. “Ya memang dari dulu tidak ada namanya. Saya pun juga tidak pernah memberikan nama,” ungkap Kiai Dhowi.


Justru santrinya yang memberikan nama sendiri pada pondok ini. Seperti misalnya, beberapa orang mengenal pondok ini dengan sebutan Pondok Alabama Pare. Nama yang merujuk pada ilmu yang diajarkan di pondok tersebut. Di antaranya ilmu alfiyah, balaghoh, dan mantiq. Yang disingkat menjadi Alabama. Di pondok ini tiga pelajaran itu yang menjadi andalan. “Memang tiga itu adalah tingkatan belajar bahasa Arab. Yaitu pertama alfiyah atau bahasa Indonesianya tata bahasa, balaghoh atau sastra Arab, dan mantiq adalah logika bahasanya,” ucap kiai dua anak ini.


Tidak hanya terkenal dengan sebutan Pondok Alabama, pondok ini juga pernah secara administrasi dikenal dengan Al-Asasyah. Namun lagi-lagi Kiai Dhowi tidak bisa menyebutnya sebagai nama pondok. Karena memang nama Al-Asasyah tersebut dulunya hanya digunakan untuk pengurusan wesel. Seperti mulai dari tanda tangan sampai stempel wesel saja. “Ya pokoknya pengen belajar ke pondok ini tinggal datang. Wong juga tidak ada namanya,” ujar Kiai yang hobinya membuat bandul pancing ini.


Pada era 2000-an pondok ini pernah didatangi Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Saat datang Gus Dur memberikan bantuan untuk pondok ini. Karena memang belum ada namanya,  Gus Dur waktu itupun sempat memberi nama untuk pondok ini dengan sebutan Pondok Pesantren Al-Ishlah. Namun nama ini pun tetap tidak dipakai maupun disematkan pada pondok hingga saat ini.


“Kalau memang ada namanya ya sudah lama saya pasang bor (papan nama, Red) di depan pondok ini,” terang Kiai Dhowi.


Walaupun di pondok ini konsen alfiyah, balaghoh, dan mantiq sebagai tingkatan-tingkatan berbahasa arab, tidak jarang ilmu-ilmu dasar bahasa Arab diajarkan dari awal. Ilmu-ilmu dasar itu seperti shorof, mriti, dan jurumiyah. Semua tentang bahasa Arab ini pun diajarkan di pondok yang santrinya sekitar 40-an itu.


“Tidak wajib nyantri terus harus tinggal di sini. Banyak juga yang nduduk (berangkat dari rumah, Red). Kadang yang rumahnya jauh-jauh ya tinggal di sini,” ungkapnya.


Para santrinya pun dari berbagai kalangan dan berbagai umur. Mulai dari ada yang baru lulus sekolah dasar. Ada pula yang sudah menjadi dosen. Juga ada pula yang sudah memiliki cucu tiga juga masih belajar bahasa dan sastra Arab di pondok ini. “Ilmu-ilmu yang diajarkan di sini mulai dari hahwu hingga shorof ini memang inti pelajaran di pondok pesantren. Kalau belum bisa ilmu bahasa Arab ini jelas kesulitan belajar di pondok. Karena seperti untuk baca kitab kuning saja harus bisa ilmu-ilmu ini,” tegas Kiai Dhowi. (bersambung)

Editor : adi nugroho
#pondok #pare #santri