Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Sumadi, Ahli Percantik Ikan Koi dengan Teknik Cutting

adi nugroho • Minggu, 20 Mei 2018 | 21:27 WIB
sumadi-ahli-percantik-ikan-koi-dengan-teknik-cutting
sumadi-ahli-percantik-ikan-koi-dengan-teknik-cutting

Tak mudah melakukan cutting pada ikan koi. Salah sedikit, bukannya ikan bersisik indah yang diperoleh. Tapi, ikan piaraan yang hendak dijadikan kontes pun jadi bangkai.


 


RAMONA TIARA VALENTIN


 


Tak banyak yang punya keahlian cutting ikan koi. Utamanya di wilayah Kediri. Salah satunya adalah Sumadi. Penduduk Desa Deyeng, Kecamatan Ringinrejo, Kabupaten Kediri ini punya salon khusus bagi ikan koi. Tugasnya, memotong (cutting) sisik ikan koi yang hendak ikut kontes.


“Agar motifnya semakin terlihat,” terang lelaki yang sejak 2015 menekuni pekerjaan mempercantik ikan koi ini.


Bagi ayah seorang anak perempuan ini, dunia ikan koi sudah tak asing lagi. Sumadi sudah hobi memelihara ikan koi sejak 1997. Saat dia masih duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP).


“Sejak kecil sih sebenarnya sudah suka nangkepin ikan di sungai,” kenangnya sambil tertawa.


Ikan koi pula yang ‘membiayai’ dirinya. Tak hanya saat ini tapi juga saat menempuh pendidikan dulu. Biaya sekolah mulai SMP hingga SMA dia peroleh dari hasil beternak dan jual beli ikan koi. Saat itu, selain beternak sendiri dia juga ikut orang lain.


Lamanya bergelut dengan ikan koi itulah yang membuat dia bersinggungan dengan dunia cutting. Bermula ketika dia bersama dengan komunitas penyuka ikan koi mengunjungi salah satu tempat budidaya ikan tersebut di Blitar. Saat berkunjung itulah dia melihat ada salah satu orang yang tengah melakukan pengerikan pada sisik ikan. Dia pun jadi tertarik karena hasil setelah di-cutting, motif di tubuh koi tersebut semakin terlihat bagus.


“Saya hanya kepikiran satu saat lihat orang melakukan cutting koi. Ada bahan, kenapa tidak dicoba?” ujarnya menceritakan pemikirannya saat itu.


Sumadi kemudian mencari informasi tentang keahlian cutting itu. Setelah ketemu dia pun berguru. Belajar hingga satu tahun lamanya. Sebelum akhirnya benar-benar berani melakukan aksi cutting sendiri.


Keberanian Sumadi tak terlepas dari aktivitasnya sebagai pemelihara ikan koi. Sebab, dengan menggunakan ikan miliknya sendiri Sumadi lebih berani. Karena secara teknik, melakukan cutting juga berisiko pada matinya ikan. Sebab, sebelum disalon, sang ikan harus dibius terlebih dulu.


“Kalau takaran bius ndak pas, ikan bisa mati,” ingat Sumadi.


Saat berpraktik sendiri, ternyata ada kesulitan tersendiri. Agak berbeda dengan yang dia pelajari. Terutama dari sisi takaran dosis obat bius. Sebab, saat belajar ukuran ikan koi yang di-cutting berbeda dengan saat dia berpraktik sendiri. “Jadi saya harus menentukan sendiri takaran dosis bius yang pas,” kenangnya.


Usai memahami takaran dosis, kesulitan lain masih menunggu. Dan ini bisa jadi lebih bahaya lagi. Yaitu saat pengangkatan ikan dalam proses cutting. Saat dikerik sisiknya, ikan memang harus berada di luar air.


“Terlalu lama di luar air ikan bisa langsung mati. Ini yang harus cermat dan hati-hati,” terangnya.


Menurut lelaki asal Plosoklaten, Kabupaten Kediri ini, agar bisa memunculkan kekuatan motif, ia harus bisa menyeimbangkan keberadaan ikan koi baik saat di air maupun di luar air. Setidaknya, setiap pengangkatan tak boleh lebih dari 30 detik.


“Setiap kali angkat, melakukan pengerikan selama tiga puluh detik. Setelah itu dimasukkan lagi ke air. Juga selama 30 detik,” jelasnya.


Selain itu, proses pengerikan tak boleh melebihi waktu sepuluh menit. Sebab hal itu juga menyesuaikan dengan dosis obat bius yang diberikan. Lebih dari sepuluh menit pengerikan bisa berakibat buruk bagi ikan.


Sebenarnya, kenapa ikan koi harus di-cutting? Menurut Sumadi, hal itu tak lepas dari persaingan performa ikan koi saat kontes. Untuk performa lomba, motif yang bagus dan indah sangat diperlukan. Dan itu bisa terwujud dengan teknis pengerikan.


Kini, kemampuan cutting Sumadi banyak dikenal oleh para penghobi ikan hias jenis ini. Pelanggannya datang dari seantero tanah air. Paling sering dari wilayah Kalimantan dan Batam.


Untuk jasa cutting itu, Sumadi membedakan jadi dua. Ada yang datang sekaligus dengan ikannya. Tapi ada yang membeli ikan di Sumadi sekaligus jasa cutting-nya. Tapi banyak pula konsumen yang membeli ikan yang sudah di-cutting dan sudah memenangi kontes.


“Untuk konsumen yang beli ikan yang sudah menang, sekaligus saya beri dengan piala dan piagam kontesnya,” terang Sumadi, yang mengaku lupa berapa kali menang kontes karena seringnya ini.

Editor : adi nugroho