Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Fahmi Syahrul, Murid TK yang Berjuang Melawan Penyakit Kelainan Usus

adi nugroho • Minggu, 26 November 2017 | 18:54 WIB
fahmi-syahrul-murid-tk-yang-berjuang-melawan-penyakit-kelainan-usus
fahmi-syahrul-murid-tk-yang-berjuang-melawan-penyakit-kelainan-usus


Meski menderita kelainan usus, Fahmi masih terus semangat belajar. Namun orang tuanya ‘meliburkan’ sementara karena kesehatannya belum stabil. Dia pun menghabiskan waktunya dengan mewarnai dan mendengar kisah nabi-nabi.


 


RIZAL ARI ANDANI


 


Ditemani rintik hujan, Kamis siang (23/11) sekitar pukul 13.00, Jawa Pos Radar Kediri tiba di kediaman pasangan suami isteri (pasutri), Purwanti, 36, dan Tarmidi, 43. Tepatnya, di Dusun Tempursari, Desa Puhjarak, Kecamatan Plemahan. Purwanti menyambut ramah.


Sambil mempersilakan wartawan koran ini masuk, ibu empat anak tersebut terlihat menggendong anak kecil. Ternyata dialah Fahmi Syahrul Akbar Jaya, 5. Balita itu anak bungsu Purwanti dan Tarmidi. “Ini anak keempat saya Mas,” ujarnya.


Namun bocah yang akrab dipanggil Fahmi tersebut tidak sedang dalam kondisi yang sehat. Itu karena sejak lahir, bocah ini divonis menderita hisprung atau kelainan usus. Akibatnya, sisa makanan di pencernaan Fahmi pun tertahan di usus.


Oleh sebab itu, ia mengalami kesulitan untuk membuang sisa pencernaannya tersebut. “Karenanya perut anak saya membesar dan keras seperti sedang kembung,” ungkap Purwanti.


Keadaan itu terdeteksi beberapa hari setelah Fahmi dilahirkan. Bocah yang kini duduk di bangku taman kanak-kanak (TK) tersebut harus keluar masuk rumah sakit. “Pertama kita ke RS Amalia. Kemudian ke RSUD Kabupaten Kediri dan RS Aura Syifa,” papar Purwanti.


Tidak hanya itu, berbagai pengobatan alternatif juga telah ditempuh pasutri itu. Bahkan sampai saat ini (sebelum menjalani perawatan di RSUD Dr Soetomo, Surabaya) masih dijalani. Semua itu pun dibiayai secara mandiri oleh Purwanti dan suaminya.


Namun hal itu ternyata membuat Purwanti dan Tarmidi mengalami kesulitan. Pasalnya, Tarmidi yang bekerja sebagai tukang di sebuah proyek di Kota Surabaya hanya berpenghasilan pas-pasan.


Apalagi, anak keempatnya itu tidak terdaftar sebagai penerima Kartu Indonesia Sehat (KIS) layaknya ketiga kakak kandungnya. “Akhirnya kita daftarkan BPJS Mandiri. Tapi selama empat bulan berjalan, kita sudah nunggak dua bulan,” aku Purwanti.


Beruntung, pihak pemerintah desa membantunya. Karena itu, Fahmi pun kini terdaftar sebagai peserta Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda). Itulah yang kemudian Purwanti manfaatkan untuk mengobatkan putranya ke RSUD Dr Soetomo di Surabaya. Tepatnya pada hari Rabu lalu (23/11).


“Untuk biaya transportasi dan akomondasi kita sudah dapat bantuan dari donatur dan bantuan ambulans dari puskesmas,” terangnya.


Rencananya, jadwal pengobatan Fahmi akan dilakukan tiap seminggu sekali atau tiap Rabu. Karena itu, demi kesembuhannya, minggu depan Purwanti akan kembali membawa Fahmi ke Surabaya.


Selama sehari di RSUD Dr Soetomo, Fahmi mendapatkan sejumlah perawatan. Seperti pengeluaran sebagian sisa hasil pencernaan di dalam tubuhnya. Karena itu, meski terlihat rewel kondisi balita ini masih lebih baik dibandingkan sebelumnya.


Pada Kamis kemarin, ia pun mau makan tiga kali sehari. Fahmi juga telah bisa buang air selama seminggu sekali. Tidak hanya itu, ia mau berjalan sendiri di dalam rumahnya.


Kondisi itu tentu sangat berbeda dengan saat penyakit Fahmi sedang kambuh. Saat kondisi fisiknya menurun akibat penyakit tersebut ia tidak akan kehilangan nafsu makannya. Tidak hanya itu, saat sakit Fahmi akan sering muntah dan buang air besar.


“Kalau kambuh sakitnya, Fahmi ini malah seperti diare dan sering buang air besar,” kata Purwanti. Belum lagi, saat kambuh bocah itu kesulitan bergerak.


Ternyata kondisinya itu sempat membuat Fahmi merasa minder. Apalagi, ia tidak dapat bergerak leluasa layaknya teman-teman sebayanya. Jika terlalu banyak gerak, Fahmi akan cepat merasa kelelahan. Makanya, bocah itu seringkali terduduk diam di tengah kawan-kawan seusianya yang asyik bermain.


Tidak hanya itu, saat ibunya mengunggah fotonya ke media sosial (medsos) sebulan yang lalu, Fahmi sempat protes. “Saat itu ada orang baca yang kemudian datang ke rumah kami untuk menemui Fahmi secara langsung,” ungkap Purwanti.


Fahmi sempat minder dan mempertanyakan keputusan ibunya. “Kok sakitku disebar-sebarkan ke orang-orang,” tanya Fahmi. Tetapi Purwanti pun langsung memberi penjelasan, jika tindakannya justru demi membantu kesehatan Fahmi.


Walaupun begitu, ternyata Fahmi punya semangat besar untuk bersekolah. Sadar Fahmi sudah masuk usia sekolah, Purwanti pun memperkenalkan taman kanak-kanak (TK) kepadanya. “Sempat saya ajak dia untuk masuk ke TK yang ada di dekat sini,” imbuhnya.


Saat itu, Fahmi terlihat mampu mengikuti berbagai pelajaran dari guru mulai awal hingga akhir. “Tidak rewel. Baru saat istirahat, dia lari keluar ruang kelas dan mencari saya. Tapi kalau mulai jam pelajaran lagi, dia juga mau masuk ke kelas dan ikut sekolah sampai selesai,” beber Purwanti.


Tapi sayang, kondisi kesehatan Fahmi yang belum stabil membuatnya terpaksa kembali tidak bersekolah. Sekitar beberapa minggu sekolah, Purwanti memutuskan untuk kembali meliburkan Fahmi.


Meski begitu, Tarmidi tak ingin membuat anaknya itu sedih. Karena itu, suami Purwanti tersebut kerap membelikan anak bungsunya buku kumpulan cerita. “Biasanya saat pulang kerja ayahnya beli buku dari pedagang yang ada di bus-bus itu,” urai Purwanti.


Tiap ada waktu luang, seperti saat sebelum tidur, Fahmi sering meminta Purwanti menceritakan kisah-kisah yang ada di buku tersebut. Kebetulan, buku yang dimiliki Fahmi banyak bercerita tentang kisah-kisah nabi.  “Memang itu yang jadi favorit anak saya,” ujarnya.


Tak hanya itu, ternyata Fahmi juga gemar mewarnai. Sama halnya dengan buku cerita, ternyata Tarmidi juga banyak membelikan buku-buku mewarnai untuk Fahmi. Gambar-gambar tokoh kartun di dalam buku itu seperti “Syifa” yang menemani waktu senggang bocah itu sehari-hari.


“Saya berharap, kalau anak saya sembuh bisa segera sekolah lagi dengan kawan-kawannya yang lain,” tutur Purwanti.


 

Editor : adi nugroho
#plemahan