Dia tak menghitung berapa bom yang dibuatnya. Yang ada dalam benaknya, saat itu, adalah membunuh tentara Belanda sebanyak-banyaknya. Tak peduli meski nyawanya sendiri menjadi taruhan.
Puspitorini Dian H
Saat itu, usianya belum genap 20 tahun. Tukiran muda hanyalah pemuda desa yang direkrut menjadi tentara. Tergabung dalam Batalyon Seni Tempur nomor 46. Oleh komandannya, Slamet, Tukiran mendapat tugas penting. Yaitu membuat bom.
Menggunakan bahan-bahan sederhana. Terdiri dari pecahan besi, kayu, malam atau lilin, dan tentu saja bubuk mesiu. Tugas itu diselesaikannya dengan baik. Setelah itu dibawanya bom-bom ke tempat yang ditentukan. Di desa-desa yang suwung.
Suwung dalam bahasa Jawa artinya kosong. Desa yang disasar Tukiran adalah desa yang sudah ditinggalkan penduduknya karena menghindari Belanda. Tukiran tinggal di Dusun Jagung, Desa/Kecamatan Kras. Berada tak jauh dari markas Belanda. Beberapa desa sekitar kediamannya memang menjadi sasaran kedatangan Belanda. Mereka biasanya menggeledah rumah-rumah yang ditinggalkan. Inilah yang dimanfaatkan Tukiran.
Bersama temannya sesama prajurit Tukiran memasang bom-bom itu. Di dalam lemari-lemari yang terhubung dengan kunci. “Jadi..saat kuncinya diputar..duarrrr...bom meledak, banyak yang kena,” kenang Tukiran yang kini sudah berusia 89 tahun itu dengan suara terpatah-patah.
Mbah Tukiran-dia biasa disapa- mengaku sudah tidak ingat lagi berapa tentara Belanda yang sudah dijatuhkannya. Termasuk berapa jumlah bom yang sudah dibuatnya. Tetapi, jika ditanya bagaimana cara membuat bom, Tukiran dengan lancar bercerita. Meski dengan suara cadel, Mbah Ran menuturkan tahap demi tahap membuat senjata mematikan tersebut.
Tidak takut kena bom? “Tidak,” jawabnya dengan cepat. Mbah Ran mengaku kalau sejak dirinya ditunjuk sebagai prajurit, ada semacam kontrak tak tertulis yaitu ‘tidak takut mati’. “Hujan peluru sudah biasa, apalagi dilempar bom,” tuturnya.
Untunglah, nasib baik selalu menyertainya. Selama berjuang dia tidak pernah mengalami luka yang berarti.
Kini, di usianya yang senja, ayah delapan anak ini hidup sangat sederhana. Berdua dengan istri tercintanya Darmi yang kini berusia 80 tahun. Rumah yang ditinggalinya sejak 1950 itu tidak pernah berubah. Tetap berdinding anyaman bambu. Hanya lantai yang dulunya tanah sekarang sudah disemen. Meski di sana-sini terlihat sudah terkelupas. Tak cukup ventilasi udara. Hanya ada dua dipan yang diletakkannya di ruang tamu. Satu dipan jadi tempat tidurnya bersama istri. Satu lagi disiapkannya untuk cucu yang datang berkunjung. Saking banyaknya cucu yang dimilikinya, dia mengaku tidak bisa lagi menghitungnya. “Kalau canggah, saya punya tiga,” tuturnya. Canggah tak lain adalah cicit, anak dari cucunya.
Kesederhanaan juga terlihat dari dapur rumahnya yang hanya memiliki luweng, semacam pembakaran yang menggunakan kayu. Bukan karena tak ada bantuan kompor gas, istrinya-Mbah Darmi- yang biasa memasak mengaku takut kena ledakan.
Tepat di samping rumahnya berdiri kandang kambing. Harta sekaligus sumber pendapatannya sehari-hari. Meski sudah hampir menginjak usia 90 tahun, Mbah Ran memelihara sendiri kambingnya. Termasuk menyediakan pakan. Kebiasaan inilah yang menjadi resep sehat di usia tua.
“Biasa jalan-jalan, dan jaga makanan,” tutur pria yang pantang menyantap daging ini. Hanya saja, makanan yang paling disukainya tak lain olahan sayur pepaya muda dari sang istri.
Tepat di peringatan hari Pahlawan, ada sedikit kesedihan yang dirasakan Tukiran. Sebab, teman-temannya sudah terus berkurang. Bahkan, pembuat bom seperti dirinya pun sudah tidak ada lagi. Selanjutnya, harapan sederhana yang diucapkan Mbah Tukiran. “Semoga Indonesia tetap damai. Sandang pangan tercukupi,” harapnya seraya tersenyum.
Perjuangan merebut kemerdekaan yang dilalui Tukiran rupanya memantik kepedulian Bupati Kediri Haryanti Sutrisno. Kemarin pagi (11/11), Haryanti sengaja berkunjung ke kediaman Tukiran.
“Beliau ini sudah berjuang, kalau tidak sekarang membalas jasa-jasa beliau, kapan lagi,” ucap bupati dan juga dokter ini.
Tidak butuh waktu lama, Haryanti berjanji akan membantu memperbaiki kediaman Tukiran agar lebih layak huni. Termasuk memberi sejumlah perlengkapan lainnya. “Semoga bantuan ini bermanfaat,” harapnya. (fud)
Judul Sambungan\\Lancar Ceritakan Tahapan Bikin Bom
Caption foto : TANPA PAMRIH: Bupati Haryanti saat mengunjungi rumah Mbah Tukiran di rumahnya yang sederhana, berdinding bambu.
Editor : adi nugroho