Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Ublik dan Lilin jadi Gantinya

adi nugroho • Rabu, 1 November 2017 | 20:14 WIB
ublik-dan-lilin-jadi-gantinya
ublik-dan-lilin-jadi-gantinya


Usianya 66 tahun ketika dia merasakan pengalaman baru. Rumahnya diterangi listrik! Walaupun hanya dari panel surya. Dan, ketika PLN masuk ke dukuhannya pada 2016 lalu, lelaki ini justru enggan berlangganan. Takut tak kuat membayar.


 


RINO HAYYU SETYO


 


Senja itu, tak terlihat cahaya merah di langit. Yang ada adalah gumpalan awan menghitam. Menutup sinar matahari sore. Hal itulah yang membuat ruang tamu di rumah Sumadji menjadi temaram. Apalagi nyala lampu di ruangan itu tak begitu terang. Remang-remang. Bajunya yang berwarna kuning pun tidak bisa dilihat secara jelas. Efek dari cahaya lampu tersebut. Baju itu terlihat seperti berwana cokelat.


Lelaki 60-an tahun itu sama sekali tidak merisaukan keremang-remangan tersebut. Baginya, ada cahaya temaram sudah jauh lebih baik. Setidaknya bila dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.


“Lha nembe mawon enten lampu kok, dados riyen lak samsoyo peteng (baru saja ada lampu, jadi dulu malah sangat gelap,Red),” tutur bapak tiga anak ini.


Ia seperti menahan tawa ketika menjelaskan hal itu. Sedangkan matanya tidak berpaling dari lampu yang berada di sebelah kanannya. Sejenak berdiam.


“Riyen rumaos kulo kados goa ngoten niku, sak kampung peteng dedet (dulu menurut saya keadaannya seperti gua, sekampung gelap gulita, Red),” sambungnya. Sambil tertawa.


Kondisi seperti itu, gelap gulita, sudah terbiasa dirasakannya sejak lahir. Hingga 2012 ia baru mengetahui terangnya lampu listrik menerangi rumahnya, di Dukuh Crembung, Desa Blimbing, Kecamatan Mojo.


Lampu itu memang tak tak sebenderang seperti di dusun-dusun lain di Desa Blimbing. Sebab, sumber listriknya berasal dari panel surya (solar cell). Solar cell itu merupakan bantuan pemerintah untuk daerah-daerah yang belum terjangkau listrik PLN.


Dusun yang ditempati Sumadji memang terpencil. Berada di lereng Gunung Wilis. Berbatasan dengan Kabupaten Trenggalek dan Tulungagung. “Ndek  walik kkono yow is Nggalek karo Tulungagung (di balik sana sudah Trenggalek dan Tulungagung, Red) ujarnya sembari menikmati kopi.


Selain itu, Dukuh Crembung juga dihuni sedikit keluarga. Hanya ada 14 kepala keluarga saja yang menetap di sana. Terasa sepi.


Sumadji kemudian menunjuk ke aki warna merah. Aki itulah yang digunakan untuk menyimpan serapan cahaya matahari pada pagi hingga sore hari. Pemasangan panel surya berbentuk persegi di atap genteng itu akhirnya bisa menambah pengalaman hidupnya di masa renta. Merasakan terang yang menyibak kegelapan selama berpuluh-puluh tahun hidupnya.


Dalam perkembangannya, di akhir 2016 lalu, pedukuhan itu sebenarnya mendapatkan aliran listrik dari Perusahaan Listrik Negara (PLN). Namun, dari belasan KK itu ternyata hanya rumah Sumadji saja yang tidak mau dialiri listrik PLN.


Mengapa? “Kulo wedi mboten saget mbayar mangke(saya takut tak kuat bayar, Red),” ujar Sumadji polos.


Meskipun pemerintah menyiapkan daya hanya 50 watt pada setiap rumah, Sumadji tetap gamang. Penghasilannya sebagai petani lebih baik untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Bukan untuk bayar ongkos listrik.


Karena itu, saat musim hujan ia hampir tak bisa menyalakan lampu. Karena panel suryanya sangat bergantung pada ada tidaknya sinar matahari. Jangankan hujan, kondisi mendung saja maka ia tidak bisa menyalakan lampu.


Gantinya, ia hanya bisa mengandalkan api untuk menerangi rumah dengan tembok bata yang belum dicat itu. Bisa dengan cara menyalakan lilin atau ublik yang telah bertahun-tahun menjadi perkakas simpanan wajib di rumah.


Selama ini, Sumadji memang tak pernah mempunyai peralatan elektronik. Kecuali aki dan radio itu. Baginya televisi atau magic jar bukan sesuatu yang penting. Yang tak perlu ia miliki.


Bila berhasrat nonton televisi Sumadji memilih berjalan sekitar satu kilometer dari rumahnya. Menuju kampung sebelah yang warganya punya televisi. Menonton bersama di rumah warga tersebut.


Kini kondisinya lebih baik. Bila ingin nonton televisi Sumadji tak perlu berjalan jauh. Cukup ke tetangga depan rumah.


Untuk urusan menanak nasi, Sumadji tetap bersikukuh dengan cara lama. Menggunakan kayu bakar. Itupun dia menanak sendiri. Sang istri sudah meninggal puluhan tahun lalu. Sedangkan ketiga anaknya merantau ke kota lain.


“Nggih ngeten niki mawon sagete, badhe pripun malih. Pokok niki saget murup pun sae sanget (Ya bisanya cuma begini, mau bagaimana lagi. Asal lampu bisa menyala sudah bagus, Red),” tandasnya.

Editor : adi nugroho