Sungguh berbeda sekali jaranan ini dari pada jaranan pada umumnya. Selain nyentrik mereka membawa konsep lucu untuk menghibur masyarakat. walaupun demikian mereka juga menyelipkan pesan moral hingga religius yang dapat dipetik.
MOH. FIKRI ZULFIKAR
Pagi masih menunjukkan dinginnya. Mentari juga masih enggan menampakkan kehangatannya. Namun beberapa pria yang, lebih tepat disebut kakek-kakek, sudah berlenggak-lenggok. Menari jaranan di depan gerbang masuk kawasan wisata Gunung Kelud yang juga jadi garis start Kelud Volcano Road Run (KVRR) pada Minggu (8/10).
Semangat menghibur para lelaki yang giginya sudah banyak yang ompong ini sangatlah besar. Namun, tarian jaranan yang mereka bawakan tak segarang seperti biasanya. Sebaliknya, sangat jenaka dan mengundang tawa. Maklum, mereka adalah kelompok Jaranan Dagelan Swasta Onyo Budoyo.
Sesuai namanya, kelompok jaranan asal Desa Ngadi, Kecamatan Mojo ini cukup nyentrik. Gerakan-gerakan jaranan yang mereka tampilkan berbeda. Juga kepang jaranan dan kostumnya. Bila tampil pakaiannya sangat sederhana. Hanya berkaos dalam putih dipadu dengan celana panjang warna hitam yang dilipat agak tinggi.
“Kami ingin tunjukkan kesederhaan yang memang menunjukkan asli warga desa. Seperti kaos swan putih itu kalau perlu kita cari yang paling lecek atau yang sudah jamuren gitu untuk menunjukkan kesederhanaan jaranan ini,” ungkap Basuki Eko Margono, pemrakarsa jaranan dagelan ini.
Kepang yang dipakai njaran juga berbeda. Bukan dari anyaman bambu. Tapi dari daun kelapa yang dianyam sendiri. Atau sesekali mereka menggunakan kuda-kudaan dari pelepah pisang. Selain sederhana, pembuatannya mudah dan kerap digunakan hanya untuk satu pertunjukan saja.
“Jadi sebelum pentas, kami nganyam jaran dulu,” ungkap pria yang juga Kepala Desa Ngadi ini.
Alat musik pengiringnya pun berbeda. Tidak menggunakan gamelan asli.Semua diganti dengan alat musik bumbung, yang terbuat dari bambu. Gongnya dari bambu, kenong bambu, hingga ditambah tiga angklung untuk memperindah ritme tetabuhan itu.
Walaupun rata-rata diganti oleh alat musik bambu tapi ada satu alat musik gamelan yang tidak bisa tergantikan dalam jaranan dagelan ini yaitu kendang. “Kendang sebagai pengatur retme, tidak bisa kami gantikan,” ujar Eko.
Aksi para pemain yang sudah renta, berusia 75 sampai 80-an tahun, sering membuat penonton tak henti tertawa. Aksi joget yang sederhana tapi dibumbui celotehan atau narasi yang berisi dagelan khas Jawa Timuran. “Kadang kami juga gaya kesurupan. Tapi kami atur agar malah membuat penonton ketawa saat melihat kesurupan itu,” terangnya.
Kelompok jaranan dagelan ini sebenarnya belum setahun berdiri. Tapi sudah beberapaka kali pentas. Selain di Gunung Kelud kemarin mereka juga pernah bermain di Pekan Budaya di Simpang Lima Gumul (SLG) hingga di acara suroan di Desa Ngadi.
Dalam perjalanannya memang jaranaan ini masih mempertontonkan dagelannya sambil njaran. Namun Eko menerangkan bahwa kedepannya akan mencoba memasukkan cerita panji seperti jaranan pada umumnya. “Tapi tetap kami kemas dengan jenaka,” ujarnya.
Nyentrik sekali memang kelompok jaranan ini. Beberapa kenyentrikannya juga terlihat dari lirik-lirik musik jaranannya. Kerap juga diselipkan seruan salawatan hingga mengajak istighfar.
Lucunya, ada ritual khusus yang wajib dilakukan 25 anggota kelompok ini sebelum pentas. “Kalau biasanya jaranan lain sebelum pentas selalu bakar menyan maka kami bakar sate bersama,” ujar lelaki yang jadi kades sejak 2013 ini.
Saat membakar sate bersama itu narasi-narasi yang dibawakan Eko pun diiringi dengan musik jaranan. Dengan syair-syair salawatan. Setelah matang sate-sate itupun dimakan bersama anggota dan para penonton yang melihat jaranan dagelan tersebut. “Memang lebih Islami jaranan kita, wong anggota-anggota jaranan kami beberapa ada yang menjadi kiai musala yang setiap harinya ngimami salat,” ungkap Eko.
Eko mengaku telah mempersiapkan atraksi baru ke depannya. Seperti atraksi makan api dan kempit api. Tapi, tetap dikemas dalam suasana lucu. Agar tetap menghibur.
Moto grup jaranannya, menurut Eko, juga dibuat lucu. Yakni ‘Memasyarakatkan Waras dan Mewaraskan Masyarakat’. Dengan guyonan yang diselipi pesan religi dan pendidikan, Eko berharap masyarakat bisa mengambil kebaikan dalam kearifan seni jaranan dagelan ini. “Yang penting heppy mas. Walaupun terlihat tua-tua kayak waras ora, gendeng ora (normal tidak, gila juga tidak, Red). Yaitu arti onyo sendiri,” ujarnya.
Apakah tak diprotes grup jaranan asli? Eko menerangkan sebelum mendirikan dulu mereka sudah berembug dengan tetua Paguyuban Seni Jaranan (PASJAR) Kediri. Khususnya terkait konsep jaranan yang lucu dan tidak terikat dengan pakem jaranan pada umumnya. “Kata mereka tidak masalah. Malah dengan jaranan dagelan ini menambah warna untuk seni jaranan di Kabupaten Kediri ini. Mereka malah mendukung kami,” tegasnya.
Editor : adi nugroho