Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Periksa Gigi dan USG-pun Bisa Dilakukan di Kereta

adi nugroho • Sabtu, 14 Oktober 2017 | 01:57 WIB
periksa-gigi-dan-usg-pun-bisa-dilakukan-di-kereta
periksa-gigi-dan-usg-pun-bisa-dilakukan-di-kereta



Gerbong kereta api yang disulap jadi restoran atau sering disebut kereta makan, sudah lazim ditemui. Bagaimana jika gerbong disulap menjadi klinik kesehatan yang lengkap? Ratusan warga di Kecamatan Sukomoro kemarin merasakan sensasi berobat di sana.


 


SRI UTAMI


 


Sulasi tidak bisa menyembunyikan keheranannya. Begitu namanya dipanggil, perempuan yang memakai kebaya itu terlihat kebingungan. Termasuk saat dia dipandu petugas memasuki gerbong kereta api yang terparkir di depan ruang kontrol Stasiun Sukomoro.


Menaiki tangga setinggi sekitar satu meter, perempuan berusia 55 tahun itu terlihat melangkahkan kakinya dengan hati-hati. Matanya menyapu empat rangkaian gerbong kereta api yang catnya masih kinyis-kinyis itu. “Teng pundi niki? (kemana ini, Red),” tanya setelah melihat sejumlah peralatan kesehatan yang ada di dalam gerbong.


Belum hilang rasa herannya, seorang petugas pria langsung menuntunnya ke salah satu ruangan yang ada di dalam gerbong kereta. Melihat beberapa petugas kesehatan berbaju putih, perempuan yang tinggal di Kelurahan Sukomoro, Kecamatan Sukomoro itu berangsur tenang.


Jika awalnya Sulasi terlihat bingung, dia mulai tersenyum. Apalagi di dalam ruangan ada beberapa kenalannya. Perempuan yang memiliki riwayat penyakit diabetes dan mengeluhkan pandangannya yang buram itu lantas dibawa ke klinik umum.


Setelah menjalani pemeriksaan, perempuan berkerudung itu diarahkan menuju apotek yang juga ada di dalam gerbong. Proses pengobatan hingga pengambilan obat harus dijalaninya selama sekitar 30 menit.


Begitu keluar dari gerbong sembari menenteng beberapa lembar obat, senyum langsung tersungging di bibirnya. “Ternyata di bagian dalam luas. Seperti rumah sakit,” kata Sulasi sembari menyebut dirinya tak menyangka jika di dalam gerbong itu ada banyak alat kesehatan yang lengkap.


Sejak mendapat undangan dari perangkat desa untuk mengikuti pengobatan gratis, Sulasi sama sekali tak menyangka jika dia akan mengikuti pemeriksaan kesehatan di gerbong kereta api. Seumur hidupnya, perempuan tua itu baru sekali mengikuti pengobatan di tempat yang tak lazim itu.


Berbeda dengan sejumlah kereta api yang biasa berhenti di Stasiun Sukomoro, kereta api berisi empat rangkaian gerbong berwarna putih itu memang tidak mengangkut penumpang. Dua gerbong kereta api difungsikan sebagai klinik kesehatan lengkap.


Dua gerbong kereta api disekat menjadi beberapa ruangan dengan fungsi yang berbeda. Mulai lokasi pendaftaran pasien, klinik umum, klinik gigi, klinik kebidanan dan kandungan.


Ada pula laboratorium dan apotek. Saat Jawa Pos Radar Nganjuk memasuki gerbong kereta api yang disebut rail clinic atau klinik kereta milik PT Kereta Api Indonesia (KAI) itu, sejumlah petugas kesehatan terlihat hilir-mudik. Beberapa dokter terlihat sibuk melakukan anamnese sebelum menuliskan resep.


Satu set dental unit yang ada di gerbong kedua juga tak menganggur. Beberapa pasien antre untuk diperiksa giginya. Sebagian lain meminta agar kotoran di giginya diangkat. “Walaupun klinik kereta, peralatan kesehatan dasar di sini memang lengkap,” kata Humas PT KAI Daop 7 Supriyanto.
Seperti namanya, rail clinic memang biasa berpindah dari satu stasiun ke stasiun lainnya. Stasiun Sukomoro dipilih mewakili Nganjuk karena lokasinya bisa dijangkau warga dari beberapa desa dengan mudah.


Sebelum pelaksanaan pengobatan gratis di rail clinic kemarin, PT KAI memang sudah berkoordinasi dengan perangkat desa. Mereka diminta memberi tahu warga yang membutuhkan pengobatan.


Selain peralatan yang lengkap, rail clinic juga dilengkapi dengan tenaga kesehatan yang mumpuni. Seperti kemarin, setidaknya ada empat dokter umum, dua dokter gigi, satu bidan.


Kemudian, ada pula 3 apoteker, 10 paramedis dan satu petugas laboratorium. “Semua pemeriksaan kesehatan bisa dilayani di rail clinic. Termasuk pemeriksaan USG (ultra sonografi, Red),” lanjut pria berusia 42 tahun itu sembari menunjukkan peralatan USG yang ada di klinik kebidanan dan kandungan.


Dari mana puluhan tenaga kesehatan itu berasal? Pria asli Madiun itu mengatakan, mereka merupakan petugas kesehatan dari sejumlah daerah operasional (daop). Begitu dibutuhkan, para petugas kesehatan itu akan diajak bergabung ke dalam rail clinic dan melayani pasien di sejumlah daerah. “Kami berkeliling terus. Sudah dijadwalkan,” imbuh pria berkacamata ini.


Meski lelah, menurut Supriyanto seluruh petugas kesehatan mengaku senang bisa bergabung di rail clinic. Sebab, mereka bisa mengobati ribuan masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia.


Untuk di Stasiun Sukomoro saja, hingga pukul 13.00 kemarin rail clinic sudah mengobati total 385 pasien. Mayoritas memeriksakan diri di klinik umum, klinik mata, klinik gigi dan klinik kebidanan. “Kami akan terus berkeliling ke beberapa daerah yang membutuhkan,” imbuh Supriyanto sembari menyebut satu unit rail clinic saat ini stand by di Banyuwangi untuk mengantisipasi meletusnya Gunung Agung di Bali.

Editor : adi nugroho
#sukomoro