KEDIRI KABUPATEN – Sudah seminggu tim peneliti dari Arkeologi Nasional (Arkenas) Jakarta melakukan penggalian (ekskavasi) di situs Adan-Adan, Desa Adan-Adan, Kecamatan Gurah. Mereka banyak menemukan temuan penting.
Yakni arca Dwarapala atau arca Penjaga dan lapik atau wadah tempat persembahan. Terbaru, tim menemukan satu bagian arca kepala kala. Temuan ini menguatkan bahwa situs tersebut adalah sebuah candi.
Ditemui saat sosialisasi di area penggalian, Ismail Lutfi, salah satu tim peneliti Arkenas, menerangkan bahwa dalam penelitian mendapati satu kepala kala baru. Lokasinya tepat di sisi kanan makara.
Padahal pada penelitian tahun lalu, pihaknya juga menemukan satu kepala kala. Ketika itu, tempatnya ada di permukaan tanah. Benda purbakala itu terlihat mecungul di atas.
“Sehingga saat ini sudah kita temukan dua kepala kala dalam dua kali penggalian,” terang pria yang fokus pada epigraf (cabang arkeologi yang meneliti benda-benda bertulis berasal dari masa lampau, Red) dalam penelitian ini.
Karena ditemukan dua kepala kala, Lutfi menduga, masih ada yang lain yang masih terkubur. Indikasinya, biasanya bangunan candi memiliki total empat kepala kala. Posisinya terdapat pada keempat sisi candi.
“Karena tempat kepala kala selalu di dinding-dinding candi. Sehingga kami menduga candi Adan-Adan ini juga punya di empat dinding bangunannya,” terang Epigraf dari Universitas Negeri Malang (UM) ini.
Lutfi menilai, banyak keistimewaan Candi Adan-Adan. Beberapa di antaranya terdapat makara dan arca Dwarapala. Hal itu memiliki bentuk berbeda dari candi lain. “Ya bisa dikatakan baru kali ini ditemukan makara dan Dwarapala seperti ini,” papar pria berambut gondrong ini.
Seperti keistimewaan pada Dwarapala yang posisinya berdiri, menurut Lutfi, berbeda dengan kebanyakan Dwarapala yang posisinya jengkeng ataupun agak jongkok. Selain itu, penemuan sepasang makara yang ukurannya sangat besar juga istimewa.
“Makara ini hanya ada di Adan-Adan. Jadi memang sudah waktunya candi ini dimunculkan agar masyarakat luas juga tahu,” urainya.
Keistimewaan ini bisa dimunculkan agar berguna dari segi edukasi. Terutama sejarah bagi generasi muda Kabupaten Kediri sendiri. Tidak hanya itu, makara tersebut memiliki nilai seni tinggi, mulai dari bentuk dan ukirannya. Sehingga bisa dituangkan ke media lain, seperti batik atau karya lain.
“Ini malah bisa menjadi motif batik khas Adan-Adan dan memperkaya motif batik di Kabupaten Kediri,” papar pria yang kemarin bertopi ini.
Jika candi dimunculkan, lanjut Lutfi, juga akan mendukung beberapa prosesi keagamaan di Kediri. Sehingga candi akan sangat berguna bagi semua lini. Terlebih kekayaan budaya hingga pariwisata di Kabupaten Kediri kelak.
“Sangat istimewa. Makara berukuran setinggi dua meter belum pernah ditemukan di mana pun. Hanya ada di Kediri ini saja,” tegasnya.
Editor : adi nugroho