Sebagai penyanyi senior Atiek CB tak kehilangan sense of art. Terlebih melihat industri musik Indonesia. Lalu bagaimana pendapatnya tentang perkembangan musik kini dibanding era 1980-an yang digelutinya?
-------------------
Kualitas vokalnya masih terjaga. Itu terdengar saat Atiek Prasetyawati alias Atiek CB mencoba mengambil nada tinggi untuk menyanyikan kembali lagu berjudul Kau Dimana. Single yang pernah dilantunkan tahun 1980-an itu ingin dikenalkan kembali ke penikmat musik Indonesia.
“Mungkin ini pilihanku Mas, tapi tentu punya perbedaan dengan yang dulu,” tuturnya kepada Jawa Pos Radar Kediri.
Umurnya yang tak lagi muda, Atiek menyadari power suaranya tidak sekuat ketika masih 20-an tahun. Kini usianya 54 tahun. Jelas mempengaruhi ketika mengambil nada tinggi. Maka, ia harus lebih sering berlatih untuk menyiapkan konsernya di Hotel Lotus Kediri, 14 Oktober nanti.
Lagi-lagi matanya tertutup kaca mata hitam. Sedangkan tangannya sering mengacak-acak rambut bagian depan. Mungkin hal itu sudah kebiasaannya sedari muda dulu. Penyanyi kenamaan Indonesia ini ternyata menyimpan banyak rahasia tentang musik.
Apalagi kini, Atiek menetap di State Daleware, USA. Tentu ia mempunyai banyak referensi. Kepekaannya menilai hal ini cukup detail. “Jalas sekarang perkembangannya sangat cepat dan luar biasa bagusnya,” ungkap perempuan kelahiran 25 Mei 1963 ini.
Namun bibirnya sejenak ditutup. Atiek tampak memikirkan sesuatu. Jari-jemarinya bergerak mengetuki meja di hadapannya. Tuk.tuk.tuk.tuk. Sembari kepala menunduk sedikit, Atiek terlihat serius berpikir. Tiba-tiba keluarlah kata yang sungguh tidak terduga. “Idealism (idealisme,red),” cetusnya.
Ada apa dengan idealisme musik? Kualitas penyanyi dan pesan lagu bagi Atiek bisa jadi ruh suatu project. Sebab, memadukan keduanya menjadi sangat sulit. Ada hal yang mungkin perlu menjadi perhatian para musisi yang bergelut dengan karya.
Idealisme bagi Atiek merupakan perpaduan komponen lirik, penyanyi, dan music director. Sehingga sebuah karya bisa abadi. “Coba deh dirasain beneran, sangat beda kok,” ujarnya.
Tantangan ini yang harus dipecahkan bersama oleh pegiat musik di Indonesia. Keabadian lagu itu menjadi bagian yang sangat penting bagi para musisi. Dengan mengangkat kedua tangannya, Atiek seolah terngiang kenangan masa lalunya.
Benar, ia langsung menceritakan awal kali memasuki blantika industri musik di Indonesia. Mengawali karir bersama band CB, Atiek mengikuti seleksi hingga bisa terkenal lewat siaran Televisi Republik Indonesia (TVRI). Persaingan menjadi kata kunci. “Tapi bukan dalam hal pasar lho ya,” sangkalnya sambil tertawa.
Sebab, pasar musik saat ini sangat mudah ganti. Atiek mengakui harus mengikuti ketatnya seleksi demi masuk dalam jajaran penyanyi nasional. Meskipun demikian, ia juga mempunyai catatan yang perlu dilihat kembali pada eranya. Seperti, pemilihan gaya lirik yang terkesan sangat puitis. Ditunjukkan dengan rima yang sama.
Sedangkan saat ini, banyak lagu anak muda yang bercerita. Ini baginya, lebih baik dari eranya. Tak hanya itu, Atiek juga memandang kuliatas musik saat ini sangat berkembang pesat dengan adanya perkembangan teknologi. Sehingga cukup punya akun youtube saja sudah bisa dikenal jagad dunia.
“Penakan saiki to (enakan sekarang kan), tapi ya gitu konsekuensinya kurang abadi. Apalagi, anak sekarang pinter-pinter main improve ,” katanya dengan dialek medok.
Akan tetapi dengan kemajuan tekonologi ada hal yang sangat disayangkan. Jika ada penyanyi yang hanya coba-coba peruntungan saja. Sebab, suara yang kurang pas diganti dengan kemajuan perkembangan alat rekaman. Tentu hal ini menjauhkan rasa dalam bernyanyi.
Bagi Atiek, pada zaman dulu antara lagu dan penyanyi sudah tidak bisa dilepaskan. Mereka telah bersenyawa. Jadi karakter menyanyikannya saat recording harus butuh waktu lama.
Karena harus memberi ruang mood dengan nada ketika bernyanyi. Atiek lantas mencontohkan reff lagunya yang berjudul Maafkan. Maafkanlah daku, maafkan atas dustaku selama ini tak berterus terang kepadamu.
Sepenggal reff tersebut dinyanyikan dengan penuh penghayatan. Atiek masih terlihat sangat menjiwai. Ini yang harus dipelajari musisi sekarang. “Pesan dari lagu ini sampai ke pendengar itu terpenting, dan itu baru kita bisa influencing (mempengaruhi) mereka,” tandasnya.
Editor : adi nugroho