Petani bawang merah di Desa Siman, Kecamatan Kepung gundah karena tanamannya diserang kaper dan ulat. Lahannya rusak. Mereka terancam gagal panen. Sampai akhirnya ditemukan perangkap hama yang efektif.
-----------------------------------------------------
Ada pemandangan tak biasa di hamparan hijau sawah bawang merah meluas di lereng utara Gunung Kelud. Keindahan alam di kawasan dekat Waduk Siman, Desa Siman, Kecamatan Kepung itu banyak tertancap botol-botol plastik bekas tertancap di sela tanaman.
Botol yang ditancapkan di batang bambu dengan posisi terbalik itu bukanlah sampah. Namun, sisi-sisi botol yang telah dilumuri lem (perekat, Red) tersebut adalah alat perangkap untuk menjebak hama yang biasa merusak tanaman petani.
Tertancap dengan posisi vertikal, ketinggiannya sekitar 0,5 meter hingga 1 meter. Sasaran alat perangkap itu adalah berbagai hama jenis serangga, seperti kaper, gerandong, apit, trip, kutu kibul, hingga gurem. Hewan-hewan ini dipastikan mati jika terekat di botol.
“Alat jebakan ini efektif membunuh hama dan pastinya ramah lingkungan,” terang Suyono, ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Siman.
Meski berbahan botol bekas minuman hingga gelas plastik tak terpakai, perangkap hama tersebut cukup ampuh. Manfaatnya sangat besar memberantas hama, terutama kaper yang kini sangat gencar menyerang lahan bawang merah.
“Warga Siman banyak menggunakan jebakan ini. Mereka pakai botol lem untuk tangkal hama,” ungkap petani 55 tahun ini.
Selain bahannya cukup mudah didapat, cara membuatnya pun sederhana. Botol bekas diberi batang bambu untuk penancapnya. Sisi botol dilumuri lem tikus. Satu bungkus bisa untuk 18 botol ukuran tanggung. Setelah itu, ditancapkan di sela tanaman bawang merah.
“Karena serangan hama kaper besar, petani tak mau kalah bikin banyak perangkap,” kata Suyono.
Makanya mereka pun berburu botol. Bahkan, menghadang tukang rosok yang lewat. Lalu botol-botolnya diborong. “Sekarang sulit cari botol bekas di sini Mas,” ungkap pria yang juga petani bawang ini.
Apalagi, serangan kaper bukan serangan hama biasa. Sekali serang, lahan bisa rusak berat. Petani pun terancam gagal panen. Informasi yang diterima Suyono ketika ikut pelatihan di Bogor, dalam 1x24 jam satu kaper bisa bertelur 30 sampai 40 biji. Bila menetas, satu telur bisa mengeluarkan 15 hingga 25 larva yang siap jadi ulat.
“Bisa dibayangkan berapa jumlah ulatnya yang akan memakan tanaman brambang para petani,” paparnya.
Terlebih saat musim kemarau. Dalam dua hari saja, telur itu bisa segera menetas. Berbeda dengan saat musim hujan. Setidaknya butuh waktu lima hari untuk menetas. Namun dengan perangkap botol lem ini, induk hamanya bisa langsung diberantas. Sebab kaper terburu mati terperangkap sebelum sempat bertelur atau menetaskannya.
Dalam sehari satu botol minimal bisa menangkap sekitar 25 kaper. “Sepertujuh hektare biasanya ditancapi 16 hingga 20 botol lem,” ujar ketua Paguyuban Petani Cabai Kabupaten Kediri ini.
Ada beberapa warna mencolok yang disukai dan bisa menarik perhatian hama kaper. Yakni kuning, hijau, dan biru. “Namun yang paling menarik tetap biru. Makanya disarankan botol dicat atau cari botol warna biru,” jelas bapak tiga anak ini.
Perangkap lebih efektif lagi jika botol dilubangi kecil-kecil. Kemudian, di dalamnya dimasukkan kapas yang telah dicampur petrogenol. Itu semacam cairan kimia yang aromanya sangat disukai hama. “Dengan aroma itu, kaper yang mendekat akan langsung terjebak,” katanya.
Cara ini terbukti ampuh. Apalagi ramah lingkungan. Cara kerja memberantas hama tersebut berbeda dengan penyemprotan pestisida. “Tetapi kebanyakan petani tidak mau ribet membuat alat seperti ini. Mereka inginnya simple. Tinggal disemprot pakai obat, hama akan hilang,” terang kakek dua cucu ini.
Padahal kebanyakan menggunakan pestisida berbahan kimia dapat berpotensi merusak kualitas tanah. Selain itu, juga tidak aman bila nanti bawang merah dikonsumsi. Karena bahan kimia yang setiap hari disemprotkan nantinya bisa masuk ke tubuh orang yang mengonsumsinya. Itu bisa mengganggu kesehatannya.
“Lebih aman pakai cara botol lem ini daripada dengan pestisida. Hasilnya pun sama. Kini kebanyakan petani Siman sudah pakai untuk berantas hama,” papar Suyono.
Editor : adi nugroho