Nurysta Thamarindus Sugiarto mencintai seni tari sejak kanak-kanak. Bahkan, ia melanjutkan kuliah di Fakultas Seni Drama Tari dan Musik (Sendratasik) Unesa. Namun ketika menyusun skripsi, gadis ini justru meninggalkannya. Ia memilih menjadi polwan.
YAYI FATEKA DP
Suasana di Ruang Pertemuan Utama (Rupatama) Polres Kediri Kota tampak berbeda, Rabu (30/8) sore lalu. Ruangan yang berada di depan tempat kerja Kapolresta AKBP Anthon Haryadi itu biasanya digunakan untuk pertemuan anggota, baik pertemuan rutin maupun membicarakan hal penting. Namun kala itu, terlihat empat perempuan cantik di sana.
Dua di antaranya berseragam polisi. Sedangkan dua lainnya berkemeja. Meski begitu, keempatnya adalah polisi wanita (polwan) muda polresta. Mereka sedang melenggak-lenggokkan tubuhnya di lantai yang sedikit tinggi (seperti panggung).
Sedangkan satu polwan lainnya – yang berbaju biru –seperti sedang menghitungi gerakan-gerakan ketiga polwan rekannya. “Tiga.. empat.. lima.. mendak (gerakan tari menundukkan pinggul)..,” katanya sambil mengarahkan. Satu-satunya polwan berjilbab itu ikut mencontohkan gerakan. Seketika ketiga rekan di belakangnya ikut mendak dan melanjutkan gerak tari.
Satu polwan berkemeja putih adalah Bripda Veta Iskadinantias. Dia bertugas di Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Polresta Kediri. Sedangkan dua lainnya yang berseragam lengkap adalah Bripda Dewi Kartika dan Bripda Elisa Aprilianti. Mereka sama-sama masih berusia 20 tahun.
Ketiganya ternyata sedang latihan tari untuk keperluan pementasan pada 5 September mendatang. Itu dalam rangka memeringati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-69 Polwan. “Ini namanya tari Lenggang Nyai, dari Betawi,” celetuk Elisa.
Kompak, Elisa, Tika dan Veta mengaku bukan penari, bahkan basic seni tari pun tak dimiliki. Namun ketiganya menyukai kesenian tersebut. “Hobi, jadi ya seneng aja, kalau nari sih terakkhir kali pas SD,” terang Tika sambil tertawa.
Dalam latihan tersebut ketiganya dilatih oleh kakak seniornya, yakni polwan berbaju dan berjilbab biru, Bripda Nurysta Thamarindus Sugiarto. Polwan yang biasa disapa Rysta ini sebelumnya memang sudah berkecimpung di dunia seni tari. “Tapi ini ngelatih aja nggak ikut tampil,” terang polwan yang akrab disapa Rysta ini.
Kesukaannya pada seni tari ini sudah ada sejak masih duduk di bangku sekolah dasar (SD). Saat itu, Rysta kecil mendengar sebuah lagu dan menari iseng, tanpa diketahuinya sang ibu melihat tariannya.
“Waktu itu dilihat sama mama, akhirnya aku sering diminta naik ke panggung untuk menari, dan aku seneng,” terang gadis 25 tahun tersebut.
Sejak saat itulah Rysta jadi sering dipanggil menari dari desa ke desa untuk tampil di berbagai acara seperti acara 17 Agustusan. Hal ini juga membuat sang ibu, Sri Agustina, memasukkannya ke sanggar tari Ayu Sekar Putih di Kecamatan Kertosono, Kabupaten Nganjuk.
“Saya ikut sanggar kira-kira dari SD hingga SMP,” terang polwan asal Desa Ngasem, Kecamatan Jatikalen, Kabupaten Nganjuk ini.
Ketika SMA kegiatan menari dituangkannya dengan mengikuti ekstrakurikuler menari, ia tak lagi belajar di sanggar tari. Kecintaannya pada tari pun berlanjut hingga lulus SMA.
Di usia tersebut, Rysta sebenarnya suudah terbesit ingin menjadi anggota Polri. Namun ayahnya lebih menyarankan untuk melanjutkan pendidikan. Ia pun mengambil prodi pendidikan tari di Fakultas Seni Drama Tari dan Musik (Sendratasik) Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
Menjalani kulliah selama hampir tujuh semester, ada suatu momen yang mengngatkannya pada keinginannya menjadi anggota Polri. Rysta menceritakan, saat itu ia semester enam. Ketika dirinya sudah menyusun proposal skripsi dan tinggal disidangkan tiba-tiba ada yang memberinya informasi pendaftaran polisi. “Keinginan saya yang dulu jadi muncul lagi, langsung saya minta izin papa,” terangnya.
Sang ayah pun menyetujui, Rysta mencoba mendaftar di usia yang hampir saja tak masuk kriteria. “Waktu itu, selesai menjalani rangkaian seleksi usia maksimalnya 22, sedangkan saya kurang lima bulan lagi sudah 22 tahun, ngepres banget,” imbuhnya.
Dengan segala niat, dia beranikan diri untuk mencoba ikut seleksi. Tak disangka, anggota Satreskrim Polresta Kediri ini masuk daftar peserta yang lolos, padahal ia menjalani seleksinya sembari kuliah. “Alhamdulilah lolos,” terangnya girang mengingat momen lalu.
Namun sayang sekali, kelolosannya ini tak dibarengi dengan izin rektor yang memperbolehkannya kuliah sambil pendidikan. Alhasil Rysta pun melepas enam semester lebih belajarnya di Sendratasik. “Iya saya keluar dari sana, tapi selesai pendidikan saya ambil S1 lagi di Kediri,” terangnya.
Walau sudah menjadi anggota Polri, Rysta tak melupakan kecintaannya pada seni tari. Di rumahnya, ia mengajari anak-anak kecil menari, tanpa dipungut biaya. Tak hanya mengajari tari Rysta juga mengkreasikan tari itu. Ia membuat operet anak atau drama musikal.
Editor : adi nugroho