Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Batalyon Tukang Sikat Tak Pernah Gagal Tugas

adi nugroho • Minggu, 27 Agustus 2017 | 00:27 WIB
batalyon-tukang-sikat-tak-pernah-gagal-tugas
batalyon-tukang-sikat-tak-pernah-gagal-tugas


Saat menjadi Panglima Brigade II, Soerachmad dikenal sebagai pembentuk batalyon elite. Uniknya, pasukan batalyon ini diberi nama-nama burung.


 


Keampuhan dan kekuatan batalyon bentukan Soerachmad terkenal karena track record-nya. Seperti Batalyon Sikatan misalnya. Pasukannya terkenal tidak pernah gagal dalam tugas. “Makanya dijuluki Batalyon Tukang Sikat,” kata Zainal Fachris, ahli sejarah yang juga penggiat Komunitas Budayawan Eling Handarbeni Hangrungkepi Upaya Madya (Edhum) Kediri.


Dia mengungkapkan, Soerachmad memang piawai membentuk batalyon-batalyon elite di brigadenya. Bahkan pasukannya kerap diandalkan Divisi I Brawijaya (sekarang Kodam V Brawijaya, Red). Hal ini dikuatkan dalam dua buku karya Soejoedi Soerahmad (anak Kolonel Soerachmad, Red).


“Ada di buku berjudul Soerachmad Profil Seorang Prajurit Pejuang dan buku Soerachmad Penyusun Divisi I Brawijaya,” terangnya.


Pembentukan batalyon-batalyon di Brigadenya dengan nama-nama burung bermula saat Agresi Belanda II. Saat itu wilayah Kediri diduduki tentara Belanda dari arah Lodoyo, Blitar.


Karena itu, Komando Militer Daerah (KMD) Kediri yang dipimpin Soerachmad sebagai Panglima Brigade S menerapkan strategi gerilya. Itu untuk menghadapi tentara Belanda dengan taktik hit and run. “Strateginya pukul kemudian menghindar. Pukul lagi, menghindar lagi. Terus menerus,” papar ahli sejarah lulusan Universitas Negeri Malang ini.


Demi keperluan bergerilya itulah, Soerachmad membentuk batalyon-batalyon yang diberi nama burung. Pasalnya, dianggap cocok dengan sifat hit and run. Terdapat enam batalyon dalam Brigade S. Di antaranya Batalyon Moedjajin dengan nama Batalyon Branjangan (Burung Branjangan, Red).


Ada pula batalyon dari pimpinan kompi Sobiran dengan nama Batalyon Mliwis (Burung Mliwis, Red). Selain itu untuk Batalyon Banoeredjo disebut dengan Batalyon Sriti. “Untuk Batalyon Soenandar Prisoedarmo dengan nama Batalyon Merak. Sedangkan Batalyon H. Machfoed dengan nama Batalyon Gelatik,” beber Fachris.


Adapun yang terakhir adalah Batalyon Sikatan pimpinan Sabirin Mochtar. Di batalyon inilah terkenal dengan pasukan yang paling hebat. Sampai-sampai dijuluki si Tukang Sikat karena jarang gagal dalam tugasnya. Termasuk dalam tugas yang disebut-sebut memburu Tan Malaka beserta pengikutnya saat di Gunung Wilis dan mengeksekusinya.


“Semua tergantung pada Soerachmad. Batalyon mana yang dipakainya untuk gerilya menghalau taktik Belanda saat itu. Tidak semua batalyon dilepas saat penyerbuan,” urai sejarawan juga guru MAN 2 Kota Kediri.


Batalyon dengan ciri khas nama burung ini hanya ada di Brigade S yang dikomandani Letkol Soerachmad. Brigade lain yang tersebar di kota-kota selain Kediri, umumnya batalyon diberi nama komandan kompi.


Seperti di Brigade Madiun taerdapat batalyon yang dinamakan Batalyon Soeprapto Soekowati. Pemberian nama burung oleh Soerachmad ini dimaksudkan untuk memberikan efek positif dalam perang gerilya di Kediri dan sekitarnya. “Juga agar mudah diingat masyarakat,” imbuh Fachris.


Melihat sepak terjang Kolonel Soerachmad dalam perjuangan kemerdekaan. Mulai menginisiasi terbentuknya Badan Keamanan Rakyat (BKR) di Kediri hingga pembentukan Divisi I Brawijaya. Juga perjuangannya saat bergerilya melawan Belanda.  Agaknya Soerachmad layak jika diajukan menjadi pahlawan nasional.


“Kalau Kabupaten Kediri sudah memiliki Mayor Jenderal TNI (purnawirawan) Prof Dr Moestopo asli Ngadiluwih sebagai pahlawan nasional. Agaknya Kota Kediri seharusnya punya Kolonel Soerachmad sebagai pahlawan nasionalnya,” tegas Fachris.  


 


 

Editor : adi nugroho