Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Duga Batalyon Sikatan Eksekusi Tan Malaka

adi nugroho • Jumat, 25 Agustus 2017 | 13:45 WIB
duga-batalyon-sikatan-eksekusi-tan-malaka
duga-batalyon-sikatan-eksekusi-tan-malaka


Ada kisah kontroversi saat Soerachmad memimpin Brigade II di bawah komando Divisi I Brawijaya. Pasukannya disebut mengeksekusi Tan Malaka.


 


Kolonel Soerachmad tak hanya disegani para prajurit pejuang kemerdekaan di Jawa Timur. Itu karena perannya dalam pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR) Kediri hingga Divisi I Brawijaya.


Di balik itu, anak wedana ini disebut-sebut yang telah mengeksekusi Tan Malaka. Kala itu, Soerachmad memimpin pasukan sebagai Panglima Brigade II atau Brigade S. Pasukan ini di bawah komando Panglima Divisi I Brawijaya Mayjend Soengkono. Namun hingga kini kisahnya masih menjadi kontroversi.


Kejadian itu bermula saat Agresi Belanda II pecah dan Jogjakarta dalam penyerangan tentara Belanda. Saat itulah Tan Malaka bersama pengikutnya Mayor Sabaruddin bergerilya di dan mengambil alih perjuangan.


Mereka bergerilya di Gunung Wilis sambil mengobarkan penolakan anti Soekarno-Hatta karena berdiplomasi dengan pihak Belanda. Bahkan Tan Malaka mendirikan Pemerintahan Republik Rakyat Indonesia di Kediri. “Tan Malaka mengangkat diri sebagai presiden dan mengangkat Sabaruddin sebagai panglimanya,” terang Zainal Fachris, pengamat sejarah.


Karena Kediri merupakan wilayah kekuasaan ataupun pengamanan Brigade S pimpinan Soerachmad, maka pasukannya bertugas memburu Tan Malaka dan Sabaruddin yang merupakan mayornya di Batalyon 38 atas perintah Panglima Divisi I Brawijaya.


Hingga Tan Malaka dieksekusi pasukannya di Hutan Wilis oleh Batalyon Sikatan, anak buahnya Soerachmad. “Diduga Tan Malaka tewas di tangan anak buah Letkol Soerachmad saat itu,” ungkap ahli sejarah yang juga penggiat Komunitas Budayawan Eling Handarbeni Hangrungkepi Upaya Madya (Edhum) Kediri.


Fachris menerangkan, beberapa buku menjadi dasarnya bahwa anak buah Soerachmadlah yang mengeksekusi Tan Malaka. Di antaranya ada di buku karya Junior Hafiz Herry berjudul Terbunuhnya Tan Malaka. Juga buku karya Aboe Bakar Loebis berjudul Kilas Balik Revolusi. Hingga karya Harry A. Poeze berjudul Tan Malaka, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia. “Juga ada di bukunya Soejoedi Soerachmad berjudul Soerachmad Profil Seorang Prajurit Pejuang,” paparnya.


Dari beberapa referensi tersebut, Fachris menyebutkan bahwa diduga Tan Malaka tewas di tangan Batalyon Sikatan yang terkenal dengan mahir menyikat dan dalam operasinya tidak pernah gagal. Batalyon tersebut di bawah komando Brigade S yang panglimanya adalah Letkol Soerachmad. “Yang menembak Tan Malaka anak buah Letnan II Soekotjo (pernah jadi Wali Kota Surabaya, Red),” ungkap ahli sejarah lulusan Universitas Negeri Malang ini.


Adapun Letnan II Soekotjo sendiri adalah anak buah Letnan I Soekadji Hendrotomo Komandang Kompi Dekking dari Komando Brigade S Kediri. Setelah tertangkap oleh bagian dari Batalyon Sikatan di hutan Gunung Wilis. Tan Malaka pun dieksekusi mati. Namun setelah pengeksekusian itu terjadi. Ternyata di petinggi TNI banyak yang menyayangkan insiden pengeksekusian Tan Malaka ini.


“Sehingga banyak yang menyalahkan Soerachmad. Karena kematian Tan Malaka di tangan anak buahnya,” ujarnya.


Karena banyak yang menyalahkan Soerachmad inilah. Fachris menduga menjadi alasan Soerachmad memilih untuk pensiun dini di pangkat terakhirnya kolonel. Padahal melihat sepak terjangnya di BKR dan TNI yang begitu tinggi. Juga sebagai senior Mayjen Soengkono dan paling disegani oleh pasukan di Jawa Timur karena perannya. Soerachmad sebenarnya memiliki jenjang karir yang tinggi jika dia tidak memilih pensiun dini. Bisa menyamai Mayjend Soengkono. “Setelah pensiun dia memilih tinggal di rumahnya yang sekarang ada di Jl. KDP Slamet selatan Gereja Merah itu,” terang pria yang juga guru sejarah di MAN 2 Kota Kediri.


Fachris menambahkan, adapun saat Soerachmad masih hidup. Pernah pula sejarawan asal Belanda Harry A. Poeze pernah menemuinya dan menanyakan terkait eksekusi anak buahnya terhadap Tan Malaka. Namun dalam keterangannya, Soerachmad enggan menjawab dan hanya menerangkan bahwa kejadian eksekusi itu dia tidak tahu menahu. “Soerachmad hanya menjawab tidak tahu kepada Harry A. Poeze terkait eksekusi itu,” ungkap Fachris. (fiz/ndr/bersambung)  


 


 


 

Editor : adi nugroho