Sebelum menggagas Divisi I Brawijaya, Soerachmad ternyata telah memimpin beberapa resimen tentara di Kediri dan sekitarnya.
Salah satu kiprah Soerachmad yang fenomenal adalah ketika memimpin Resimen 34. Saat menjadi Panglima Brigade II atau Brigade S itu, ia mampu meredam pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang meletus di Madiun.
Zainal Fachris, ahli sejarah yang juga penggiat Komunitas Budayawan Eling Handarbeni Hangrungkepi Upaya Madya (Edhum) Kediri, menerangkan, kala itu organisasi ketentaraan di Resimen 34 masih sangat sederhana. Resimen ini di bawah komando Divisi Narotama pimpinan Soengkono saat masih bernama Tentara Republik Indonesia (TRI).
“Walaupun jadi pemimpin di Resimen 34 di Kediri saat itu, Soerachmad juga mengorganisasikan resimen-resimen lain di sekitar Kediri,” ujarnya.
Hingga kini, lanjut Fachris, markas Resimen 34 masih utuh. Namun kegunaannya sudah berubah. Bangunan yang ada di Jl Brawijaya, Kota Kediri itu berubah menjadi Bagian Keuangan Brigif 16 Wirayuda Kediri.
“Setelah Divisi I Brawijaya terbentuk, Soerachmad menjadi Panglima Brigade S. Dia terlibat aktif memimpin pasukan menumpas PKI Madiun pada 1948,” ujar lulusan Universitas Negeri Malang ini.
Atas perintah Gubernur Militer Jatim Mayjen Soengkono itulah, Soerachmad memasukkan Batalyon 38 yang dikomandani Mayor Sabarudin ke Brigade II untuk melumpuhkan PKI pimpinan Musso. Peristiwa itu, menurut Fachris, berdasar buku karya Sundhaussen yang berjudul Politik Militer Indonesia 1945-1967.
Selain itu, juga pada buku karya anaknya, Sujudi Soerachmad. Judulnya Soerachmad Profil Pejuang dan Soerachmad Penyusun Divisi I Brawijaya
Adapun Sabarudin dikenal sebagai perwira psikopat bengis. Konon ia pernah ditahan di Ambarawa karena mengumpulkan perempuan Belanda untuk dijadikan harem dan melucuti perhiasannya. “Markas Brigade S itu ada di Jl Brawijaya tapi saat ini tidak bersisa. Tempatnya tepat di Ruko Brawijaya,” beber Fachris.
Dengan pimpinan Letkol Soengkono inilah, Sabarudin kembali mendapatkan pangkat mayornya lagi akibat penahanan itu. Memimpin Batalyon 38 di bawah Soerachmad mampu menggempur PKI Madiun dari arah timur. Salah satu kekuatan PKI, yaitu Brigade 29 pimpinan Letkol Dachlan berhasil ditangkap Sabarudin.
Sabarudin pun mengeksekusi Dachlan di daerah Ngantang, Malang. “Walaupun ada di bawah komandonya. Soerachmad sebenarnya tidak sepaham dengan sepak terjang Sabarudin,” ungkap sejarawan yang juga guru MAN 2 Kota Kediri ini.
Ketika Agresi Belanda di Jogjakarta, rival Musso, Tan Malaka sedang berpetualang di Jawa Timur. Dia menolak diplomasi Soekarno dengan Belanda. Sabarudin terpengaruh oleh ide-ide Tan yang radikal. Bahkan saat Tan mendirikan Pemerintahan Republik Rakyat Indonesia di Kediri dan menyebut dirinya presiden, Sabarudin diangkat menjadi panglimanya. “Inilah yang membuat Soerachmad murka dengan Sabarudin,” urai Fachris.
Soerachmad pun menugaskan Kompi Macan Kerahnya untuk menangkap Sabarudin. Namun sialnya saat itu Divisi I Brawijaya digempur Belanda. Sabarudin pun berhasil meloloskan diri. Dia menyeberang Sungai Brantas ke arah timur.
Saat meloloskan diri Sabarudin berpapasan dengan Mayor Banoeredjo dan Kapten Roestamadji, kepala stafnya. Tak ingin tertangkap, dia pun membunuh keduanya. “Hingga tahun 1949 saat penyerahan kedaulatan Belanda ke RI, Sabarudin menyerahkan diri pada Kolonel Soengkono dan dieksekusi lewat proses pengadilan militer. Sabarudin ditembak mati di hutan Wilangan, Nganjuk,” papar Fachris. (fiz/ndr/bersambung)
Editor : adi nugroho