Penemuan Amanda, anak berkebutuhan khusus (ABK) yang tersesat di Loceret kemarin sempat membuat petugas Dinas Sosial pusing tujuh keliling. Sebab, selain tidak tahu alamat, dia hanya mengingat beberapa hal yang sangat lekat di benaknya.
REKIAN
“Bu Titin..Bu Titin,” kata bocah yang duduk di kursi empuk kantor Dinas Sosial, kemarin siang menjawab pertanyaan orang-orang yang ada di dekatnya. Dikelilingi oleh sejumlah petugas, bocah berambut pendek itu terlihat santai.
Bahkan, saat Jawa Pos Radar Nganjuk masuk ke dalam ruangan dia langsung menyapa dengan mengangkat tangan sambil berkata “Halo!” dengan ceria. Siapapun yang ada di depannya juga langsung disalami sambil meletakkan tangan kanannya di kening.
Bocah yang tak lain adalah Amanda itu mendadak jadi perhatian banyak orang. Sebelum dibawa ke ruangan pekerja sosial (peksos) di Dinas Sosial, Amanda ditemukan warga di pinggir jalan Desa Loceret, Kecamatan Loceret.
Melihat anak berambut pendek itu kebingungan di pinggir jalan, warga lantas membawanya ke Polsek Loceret. Untuk penanganan tindak lanjut, Amanda lantas diserahkan ke Dinas Sosial Nganjuk sekitar pukul 13.00 kemarin.
Jika saat di pinggir jalan Amanda terlihat kebingungan. Tidak demikian saat dia berada di ruangan peksos. Bocah yang sepintas terlihat seperti anak laki-laki karena rambutnya yang pendek itu terlihat santai.
Sesekali dia juga bercanda dengan beberapa orang yang menanyainya. Termasuk saat Kasi Rehabilitasi Dinas Sosial Nganjuk Samini. Jika di awal dia terus menyebut nama Titin, jawaban dia perlahan berubah setelah diajak berbincang selama beberapa jam oleh petugas.
Seperti saat Peksos Angga Kusuma Wardana menanyakan nama Ayahnya, dengan terbata-bata dia menyebut, “Aguuusss,”. Saat ditanya tentang nama ibunya, dia juga menjawab, “Laiiiilaa,”.
Pertanyaan tentang nama ayah dan ibu itu diulang hingga beberapa kali. Pemilik mata sipit itu tetap memberi jawaban yang sama. Karena itu, petugas dinas sosial meyakini jika nama orang tuanya memang Agus dan Laila.
Sayangnya, saat ditanya alamat rumahnya, dia hanya menjawab gelengan kepala sambil tersenyum. Beberapa saat kemudian, dia kembali menyebut nama “Bu Titin,” hingga beberapa kali.
Setelah diajak ngobrol selama beberapa jam, Amanda lantas bercerita jika dia bersekolah di SLB Madiun. Hal itu pula yang awalnya memunculkan dugaan jika bocah yang memakai celana selutut itu asal Madiun. “SLB Bu Titin,” kata Amanda sambil meletakkan dua jari telunjuknya di pipi kanan dan pipi kiri sambil tersenyum.
Jawaban bocah yang diperkirakan berusia 10 tahun itu langsung membuat sejumlah staf dinsos tertawa. Karena tak kunjung mengetahui alamat bocah yang gigi depannya bolong dan keropos itu, dinsos lantas memasukkan foto Amanda di sejumlah forum media sosial.
Sembari menunggu kejelasan tentang alamat si anak hilang, para pekerja sosial dinsos berusaha mengajak Amanda bermain. Untuk menggali kemampuannya, Samini meminta Amanda menuliskan namanya di kertas.
Berbeda dengan tulisan anak seumurnya yang sudah tertata rapi, Amanda menulis M A D N A. Selebihnya, dia tidak mau menulis lagi. Agar Amanda tak bosan, Samini mengajaknya bernyanyi.
Saat Samini berteriak , “Merdeka!” di akhir lagu, Amanda juga tak segan untuk menirukannya. Dia juga ikut bertepuk tangan meski ekspresinya sangat datar.
Setelah puas bermain, Samini menawarkan sepotong roti. Meski perempuan berjilbab itu baru saja dilihatnya, Amanda terlihat tak canggung. Dia langsung mengambil roti dari tangan Samini dan menghabiskannya hanya dalam beberapa potongan.
Demikian juga saat Amanda disuguhi satu mangkuk bakso. Tak butuh waktu lama bagi bocah bertubuh kurus itu untuk menghabiskannya. Pun, satu kotak nasi yang diberikan setelahnya juga langsung ludes.
Yang membuat sejumlah staf dinsos terenyuh, setiap kali hendak mengonsumsi sesuatu, mulut Amanda terlihat komat-kamit seolah melafalkan doa. Saat ditanya doa apa yang diucapkan, dia hanya menjawab dengan senyuman.
Saat mendengar suara azan, Amanda juga dengan sigap memeragakan gerakan salat. Surat Alfatihah juga mampu dilafalkan dengan baik meski tetap dengan kalimat yang terbata-bata.
Selama sekitar enam jam berada di kantor dinsos, rupanya pencarian melalui media sosial membuahkan hasil. Setelah foto dan nama disebar, sekitar pukul 18.00 dinsos mendapat informasi tentang alamat Amanda. Ternyata dia berasal dari Panti Asuhan Siti Hajar Kota Madiun. “Dia meninggalkan panti asuhan sejak Senin malam,” sambung Angga yang tadi malam langsung mengantar Amanda ke Madiun. (ut)
Dengar Azan Langsung Peragakan Gerakan Salat//
Editor : adi nugroho