Sebagai perintis BKR, karir kemiliteran Soerachmad ternyata tak dimulai dari tentara. Pekerjaan anak wedana ini justru berawal dari pamong praja.
Kolonel Soerachmad dikenal sebagai penggagas berdirinya Badan Keamanan Rakyat (BKR) di Kediri. Lembaga militer itu merupakan cikal bakal Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang kini menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Tetapi siapa sangka, karir kemiliteran pahlawan kelahiran 12 Desember 1904 ini ternyata dimulai dari jabatannya sebagai wedana pada masa pemerintahan kolonial Belanda. Soerachmad adalah anak seorang Wedana Baron, Nganjuk Raden Hadiwijoyo.
Makanya semasa muda, dia bisa bersekolah di Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA) Blitar pada 1925. Sekolah tersebut adalah sekolah bagi calon pegawai dari Bumiputra. Lulusannya dipersiapkan sebagai pamong praja pada masa kolonial.
“Penjelasan ini ada di buku karya putra Soerachmad sendiri, yaitu Sujudi Soerachmad. Bukunya berjudul Soerachmad Profil Pejuang dan Soerachmad Penyusun Divisi I Brawijaya,” terang Achmad Zainal Fachris ahli sejarah yang juga penggiat Komunitas Budayawan Eling Handarbeni Hangrungkepi Upaya Madya (Edhum) Kediri.
Dia menerangkan, setelah Soerachmad lulus ditugaskan menjadi calon pegawai pamong praja pribumi di Kawedanan Pare. Namun saat bertugas di sana, dia mendapatkan masalah. Gara-garanya dia berkasus dengan perusahaan gula Handels Vereeningen Amsterdam (HVA) di Pare.
Akibatnya, Soerachmad dipindah ke Blitar. “Di Blitar hingga tahun 1941 saat itu dia diangkat menjadi Wedana Blitar,” ungkap Fachris.
Sampai zaman Jepang menjajah, Soerachmad tetap menjadi wedana. Dia berhasil meredam penjarahan hingga perampokan di Blitar. Sehingga pihak Jepang mengangkatnya sebagai calon perwira Peta. Jabatannya sebagai Daidancho atau setingkat Letnan Kolonel (Letkol).
Saat itulah karir militernya terus melejit. Daidancho Soerachmad membawahi wilayah se-Karesidenan Kediri. “Anak buahnya meliputi Chudancho (sekelas mayor, Red), Shodancho (kapten, Red), dan Budancho (letnan satu, Red),” terang sejarawan lulusan Universitas Negeri Malang ini.
Karena pangkatnya yang tinggi, Soerachmad juga membawahi pahlawan Peta asal Blitar Shodancho Supriyadi. Dia menjadi anak buahnya. Adapun saat terjadi pemberontakan Peta yang dipimpin Supriyadi di Blitar pada Februari 1945, Soerachmad sebagai atasannya sempat diinterogasi Kenpeitai. Sebab para pemberontak Peta adalah anak buahnya.
“Supriyadi dan pasukan Peta lain nekat memberontak karena melihat kesengsaraan rakyat saat dijadikan pekerja romusha,” ungkap Fachris.
Namun setelah diinterogasi Soerachmad kembali dilepas. Itu karena dia terbukti tidak terlibat. Meski Supriyadi anak buahnya, Fachris menerangkan, Soerachmad menolak pemberontakan tersebut. Walau begitu, dia juga tidak bisa menghalangi kenekatan anak buahnya membela rakyat.
“Soerachmad menolak karena tahu kekuatan mereka belum siap dan mudah dipatahkan. Atau sama saja bunuh diri,” ungkap ahli sejarah yang juga guru MAN 2 Kota Kediri ini.
Ternyata benar, serangan Peta mudah sekali dipatahkan. Selain itu, Soerachmad pun tahu sebatas mana kekuatannya. Terlebih Peta di Blitar termasuk baru. Karena kekuatan Jepang terlalu besar, jika nekat memberontak justru kalah.
“Supriyadi sebenarnya sudah dilarang nekat berontak. Tapi karena terlalu kasihan dengan rakyat yang dijadikan romusha, pemberontakan tetap meletus,” tegas Fachris.
Editor : adi nugroho