Perlu kreativitas tinggi agar bisa mengubah barang tidak bernilai bahkan merugikan menjadi barang yang berguna. Ini berhasil diterapkan dua tim siswa MAN 3 Kota Kediri dalam lomba KIR tingkat nasional. Seperti apa karyanya?
DINA ROSYIDHA
Empat siswa berseragam pramuka tampak berkumpul di bawah pohon rindang di salah satu sudut MAN 3 Kota Kediri. Bukan berbincang biasa, mereka terkesan serius membicarakan lomba yang rencananya diikuti dalam waktu dekat.
Padahal keempat siswa tersebut merupakan dua tim yang belum lama ini membawa pulang piala dari Lomba Karya Ilmiah Remaja (KIR) di Jogjakarta. Mereka adalah Achmad Dzulfikri Almufti Asyhar dan Syahrina Maulida Majid juara II tingkat nasional. Tim Mochammad Ainurroziqin dan Ulfa Nur Khasanah menjadi juara harapan III.
“Ada dua tim yang berhasil bawa piala dari lomba KIR yang diadakan di Universitas Islam Indonesia (UII) tanggal 3-6 Agustus kemarin,” terang Achmad Zainal Facris, guru pembimbing yang tampak mendampingi mereka.
Karya yang akhirnya mengantarkan Fikri dan Rina menjadi juara II adalah penelitian mereka tentang briket dari tongkol jagung. Tongkol jagung menjadi alternatif yang cukup masuk akal untuk menjadi sumber energi baru. Pasalnya, selama ini ada jumlah tongkol jagung di sekitar lingkungan dua pelajar itu cukup banyak.
“Di satu sisi harga elpiji juga lumayan tinggi, makanya kita coba mengubah tongkol jagung menjadi salah satu sumber energi baru,” terang Fikri saat ditemui di sekolahnya, Sabtu lalu (19/8).
Namun prosesnya tidak mudah. Fikri dan Rina harus mengumpulkan tongkol jagung. Kemudian bahan tersebut dikeringkan. Diperlukan setidaknya waktu dua sampai tiga hari untuk membuat tongkol jagung siap untuk diproses lebih lanjut menjadi arang.
Setelah itu, arang ditumbuk hingga halus dan dicampur tepung kanji. Baru kemudian dicetak. Untuk mencari komposisi yang tepat antara arang dengan tepung kanji membuat Fikri dan Rina harus mencoba beberapa kali.
Hingga akhirnya ditemukan perbandingan yang menghasilkan panas yang paling optimal. Yakni arang tongkol jagung 11,25 gram dicampur dengan tepung kanji sebanyak 3,75 gram.
“Itu kita coba beberapa kali hingga akhirnya ketemu perbandingan komposisi tersebut,” tambah siswa asal Nganjuk itu.
Mengubah tongkol jagung menjadi arang sendiri tidak mudah. Diperlukan cara khusus agar arang yang dihasilkan memiliki kualitas panas yang baik. Fikri dan Rina yang hanya menggunakan kaleng roti bekas dikasih bensin membuat mereka kesulitan saat arangisasi. “Seharusnya ada alat khusus, tetapi kita gunakan alat seadanya,” beber Rina.
Faktor keterbatasan alat percobaan tersebut juga dihadapi Ulfa dan Ainur. Penelitian mereka tentang pemanfaatan limbah tempe cair menjadi biogas tidak diketahui kadar CH4-nya. Sehingga itu menjadi kelemahan hasil percobaan mereka.
“Kita tidak punya alat untuk menganalisanya karena harus nunut ke kampus yang memiliki laboratorium lengkap,” terang Ainur kepada Jawa Pos Radar Kediri.
Meski demikian, kekecewaan tersebut tidak terlalu mereka rasakan. Pasalnya, Ulfa dan Ainur berhasil mengubah limbah tempe yang sebelumnya mencemari lingkungan menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat. Yakni menjadi bahan bakar baru.
“Sebelumnya limbah tempe di sekitar rumah saya mencemari lingkungan makanya kemudian mencoba melakukan sesuatu,” tambah siswa asal Desa Kranggan, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri ini.
Untuk mengubah limbah tempe menjadi biogas, Ainur dan Ulfa mencampurnya dengan tletong atau kotoran sapi. Meski bersentuhan dengan kotoran, Ulfa dan Ainur tidak canggung. Sebab untuk membuat percobaan jumlah kotoran yang diperlukan tidak banyak. Sehingga tidak terlalu menimbulkan efek samping.
“Kita hanya perlukan 1500 mililiter (ml) limbah cair ditambah 150 gram kotoran sapi,” bebernya.
Ulfa sendiri sempat mengalami gatal-gatal ketika proses perlombaan berlangsung. Itu karena gadis berjilbab tersebut memiliki alergi terhadap makanan yang mengandung MSG.
Kendati demikian, panitia saat itu cepat tanggap. Sehingga Ulfa bisa segera sembuh tanpa mengganggu performanya ketika mengikuti lomba. “Alhamdulillah langsung sembuh jadi tidak sampai menganggu pelaksanaan lomba,” tandasnya.
Kepala MAN 3 Kota Kediri Nur Salim berupaya terus melengkapi sarana-prasarana sekolah. Ini demi mendukung potensi akademis berbasis riset di sekolah yang dikelolanya. Apalagi kegiatan riset dan penulisan karya ilmiah sangat penting bagi anak-anak saat menempuh pendidikan tinggi. “Akan terus kita kembangkan dan fasilitasi penuh kegiatan riset siswa-siswa,” pungkasnya.
Editor : adi nugroho