KEDIRI KABUPATEN – Puluhan siswa setingkat SMA/SMK/MA telah terseleksi menjadi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Kabupaten Kediri. Mereka menjalani karantina sejak Senin (7/8) hingga Jumat nanti (18/8).
Selama karantina di Pusdiklat, pendapa Kecamatan Pare, para pelajar tersebut tidak boleh pulang dan terus mendapat materi. Selain harus disiplin latihan baris-berbaris (LBB) bermetode semi-militer di Stadion Chanda Bhirawa Pare, paskibraka diwajibkan mandiri.
Pantauan Jawa Pos Radar Kediri, latihan utamanya mengibarkan bendera. Pelatih dari personel Kodim 0809 dan Polres Kediri. “Kami latih semi-militer agar 17 Agustus nanti siap dan tidak melakukan kesalahan,” terang Koordinator Pelatih Peltu Sugeng Purnomo.
Anggota Koramil Pare ini menerangkan, seleksi sudah dimulai dari sekolah masing-masing, Juli lalu. Setiap sekolah mengirimkan 10 delegasinya. Kriterianya, tinggi perempuan minimal 160 cm dan laki-laki 165 cm. Harus lulus tes wawancara wawasan kebangsaan. Hasilnya, terseleksi 80 siswa. “Seleksi tidak main-main. Tes kesehatan juga kami lakukan karena latihan yang berat membutuhkan fisik yang sehat,” ujarnya.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo ) Kabupaten Kediri Krisna Setiawan menambahkan, tahun lalu paskibraka mewakili Jawa Timur dan bertugas di Istana Negara. Dia adalah Melinnia Hilda Mareta, siswi SMAN 2 Pare.
Namun tahun ini paskibraka Kabupaten Kediri hanya tampil di tingkat Provinsi Jatim. Mereka, Deki Maksi Wongkar, siswa SMAN Plosoklaten, dan Riski Asrin, siswi SMAN 1 Pare, pada 17 Agustus nanti akan bertugas di kantor Gubernur Jatim. “Kini sudah latihan di Surabaya,” terangnya.
Tiara Suci Aspitasari, anggota paskibraka asal SMAN 2 Pare, mengaku, tak bisa pilih-pilih makanan saat karantina. Dia yang tak doyan pepaya, mau tak mau harus memakannya. Pelatihnya mengatakan, buah pepaya bagus untuk kesehatan dan mampu meningkatkan stamina. “Saya sudah bisa makan pepaya walaupun harus dipaksa. Kata pelatih, ini untuk kebaikan saya sendiri,” ungkapnya.
Ratna Putri Mei Wulandari, teman sekolah Tiara yang menjadi Ibu Lurah di paskibraka mengaku, harus mencuci baju sendiri. Padahal jika di rumah biasa pakai mesin cuci. Selama karantina, mereka mereka juga mengikuti latihan berat, seperti dijemur di bawah matahari atau push up.
Meski begitu, Alfanul Ikhwanullah yang jadi Pak Lurah, mengaku, tidak keberatan. Dia telah lama mempersiapkan diri masuk tim paskibraka. “Latihan berat pastinya untuk kebaikan kami nanti Mas,” terang siswa MAN Krecek ini.
Editor : adi nugroho