Semangat Ayu Fitriani di bidang atletik tak pernah surut. Siswi SMAN 8 Kediri ini berhasil memboyong medali dari berbagai kejuaraan tolak peluru. Yang terbaru, ia meraih medali perak dari 9th ASEAN School Games di Singapura.
DINA ROSYIDHA
Sosoknya yang tinggi besar membuat Ayu Fitriani terlihat berbeda dibandingkan siswi-siswi SMAN 8 Kediri. Meski memakai seragam dengan bawahan rok panjang menjuntai, hal itu tidak menghambat pergerakannya yang gesit dan lincah.
Siapa sangka gadis 15 tahun tersebut adalah atlet tolak peluru yang beberapa kali meraih medali emas, perak, maupun perunggu dari berbagai kejuaraan. Mulai dari tingkat provinsi, nasional bahkan internasional.
Yang terbaru, gadis yang karib disapa Ayu ini berhasil merebut silver medal dari 9th Asean School Games di Singapura. “Alhamdulillah baru dapat Juli kemarin,” terangnya saat ditemui Jawa Pos Radar Kediri di SMAN 8 Kediri, Kamis kemarin (3/8).
Perjalanan Ayu sebagai atlet tolak peluru sebenarnya sudah dimulai sejak kelas VI SD dulu. Saat itu, dirinya tidak sengaja ditunjuk guru olahraganya untuk diikutkan lomba-lomba tolak peluru. Setelah dicoba ternyata memang bakat Ayu ada di cabang olahraga atletik tersebut.
“Awalnya dulu guru saya cuma tanya, siapa yang kelahiran tahun 2001. Saya angkat tangan kemudian dilatih ternyata bisa,” kenang gadis asal Lingkungan Gande, Kelurahan Bawang, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri tersebut.
Bukan berarti asal bisa saja. Bakat Ayu memang di bidang tolak peluru. Bakat tersebut juga ditunjang dengan latihan intensif bahkan hampir setiap hari. Sulung dari tiga bersaudara ini pun sangat menikmati kegiatan latihannya bersama Coach Abi Permana dan Mukono.
“Senang-senang aja latihan hampir setiap hari. Tetapi minimal tiga hari seminggu,” beber gadis yang kala itu mengenakan seragam batik hijau.
Porsi latihannya pada Senin untuk melatih teknik. Kemudian, Selasa fitness dan Rabu latihan stabilitas. Semuanya dijalani dengan enjoy meski melelahkan karena dilaksanakan setiap pulang sekolah. Bahkan kadang tidak sempat makan, Ayu sudah meluncur ke Stadion Brawijaya, Kota Kediri untuk berlatih.
“Jaraknya dekat dengan lokasi latihan, jadi senang bisa sekolah di sini,” katanya dengan tersenyum.
Pada 2016 silam, banyak kejuaraan yang berhasil dimenangkan Ayu. Mulai dari Kejurda Jatim, Jatim Open, POPDA Jember, hingga kejuaraan nasional (kejurnas). Namun yang paling berkesan adalah ketika kali pertama ditunjuk menjadi salah satu wakil Indonesia untuk berlomba di 12th Sea Youth Filipina di akhir tahun 2016. Pasalnya, itu ajang internasional pertama yang diikutinya.
“Sampai panas dingin bahkan saat perlombaan. Kan belum pernah ikutan di tingkat internasional sebelumnya,” jelas peraih medali perunggu dalam event tersebut.
Dan yang terbaru adalah ketika dirinya ditunjuk untuk mengikuti 9th Asean School Games di Singapura, Juli lalu. Ayu sendiri sebenarnya sempat pesimistis saat mengikuti lomba keduanya di mancanegara itu. Pasalnya, sejak Kejurnas Junior akhir 2016 lutut kanannya terasa sakit.
“Katanya tali ligamennya longgar,” urainya saat diwawancara didampingi Kepala SMAN 8 Kediri Suhadi.
Agar tetap bisa berangkat, Ayu tidak mengenakan deker atau taping apapun untuk meredakan nyeri di lututnya. Ini karena dirinya khawatir malah dilarang berangkat dan mengikuti lomba. Makanya gadis kelas X SMA tersebut berusaha menahan sakitnya ketika lomba.
“Sempat dimotivasi pelatih, kalau sudah basah harus berusaha berenang sekalian apapun kondisinya,” tandasnya.
Meski dengan kondisi tidak optimal, Ayu akhirnya berhasil meraih medali perak di event internasional tersebut. “Tidak percaya bisa bawa pulang medali, sangat senang sekali,” urainya sambil tersenyum lebar.
Meski sering memborong medali emas dan perak, bukan berarti Ayu tidak pernah gagal. Dirinya sempat down ketika mengikuti lempar lembing di Popda Jember 2016. Pasalnya rival yang selalu dikalahkan di lomba tolak peluru justru mengalahkannya di lomba lempar lembing. “Saya sempat nangis di penginapan,” curhatnya.
Saat itu Ayu hanya mendapatkan perunggu. Sedangkan rivalnya berhasil meraih perak. Namun teman-temannya banyak yang menghibur agar tidak kecewa. “Namanya lomba pasti ada kalah ada menang. Sekarang jadi lapang dada ketika kenyataan tidak sesuai target,” tegasnya.
Sementara itu, Suhadi mengaku, bangga dengan bibit unggul di bidang atletik yang dimilikinya. Pria berkacamata tersebut sangat men-support anak-anak didiknya agar bisa semakin optimal mendalami bakat dan keahlian masing-masing. Terutama di bidang olahraga.
“Sekolah ini memang terkenal sebagai sekolah atlet. Kami pasti akan sangat mendukung sekali,” pungkasnya.
Editor : adi nugroho