Berlaga di Liga 2 Indonesia musim ini, Persik punya striker andalan. Namanya Abdul ‘Abanda’ Rahman. Berpostur tinggi besar, pemain berusia 27 tahun ini punya segala atribut untuk menjadi ujung tombak Macan Putih.
ADI NUGROHO
Pertandingan di Stadion Brawijaya, Kota Kediri berjalan dengan tempo cepat. Persida beberapa kali mengancam gawang Macan Putih. Slamet Sampurno dkk pun kerap dipaksa bertahan. Namun Persik punya strategi. Melalui serangan balik cepat di menit ke-20, Abdul Rahman yang turun ke lini tengah langsung berlari.
Umpan pendek ia berikan ke Arif Yanggi yang menyisir sisi kiri pertahanan Persida. Yanggi mengumpan balik ke tengah. Dengan sekali kontrol, Abanda, julukan Abdul Rahman , yang sudah merangsek ke kotak penalti langsung menembak. Keras! Namun Ricky Nugraha, kiper Persida berhasil mengeblok.
Bola sempat dipantulkan Benio Oktovianto sebelum disergap oleh Ady Eko Jayanto. Liar, bola kembali ke kaki Abanda dan baaang...! Sepakan Abanda ke sudut sempit meluncur deras ke gawang Ricky yang sudah salah langkah. 1 – 0 untuk keunggulan Persik.
Gol Abanda memang menjadi satu-satunya gol di pertandingan sore itu (25/7). Sangat berharga. Gol ini memberi tiga poin. Persik pun tetap dalam persaingan menjadi juara Grup 6 Liga 2 musim ini. “Saya selalu berusaha memberikan yang terbaik,” ujar pemain asli Kendari, Sulawesi Tenggara ini.
Mantan pemain PSM Makasar dan Persegres Gresik tersebut memang selalu ngotot di tiap pertandingan. Kendati masih tiga gol ia ciptakan, namun kontribusinya untuk membuka ruang dan memberikan assist pada pemain lainnya cukup brilian.
Berposisi sebagai striker tengah dalam formasi trisula 4-3-3, Abanda tak ragu turun ke tengah untuk menjemput bola. Tak heran, dalam skema counter attack Persik Kediri, ia justru kerap berperan sebagai penyuplai bola. Badannya yang kokoh, dengan postur 181 sentimeter dan berat 75 kilogram juga jaminan pemain ini mampu menjadi tembok pemantul di lini serang.
Gaya permainan yang bisa menarik dua atau tiga pemain lawan untuk mengawalnya. Hal ini membuat sayap-sayap Persik bisa leluasa bereksplorasi di kedua sisi lapangan. Atribut yang tentu saja memikat Bejo Sugiantoro, pelatih Persik Kediri. Apalagi Abanda juga memiliki tendangan keras serta penempatan posisi yang jempolan. Tak heran, pemain bernomor punggung 20 ini dipercaya menghuni skuad inti, meski striker Persik lainnya, seperti Ahmad Zakky Makhtary dan Gugum Gumilar memiliki kualitas tak kalah hebat.
Lahir dari keluarga nelayan, Abanda sudah mencintai sepak bola sejak kecil. Pemuda kelahiran 24 Agustus 1990 ini kerap bermain dengan rekan-rekan seusianya. “Ada lapangan di kompleks AL (TNI Angkatan Laut, Red) dekat rumah. Anak-anak sering main bola di sana, saya selalu ikut. Karena kalau nggak ikut dikatain bencong,” ujarnya saat ditemui usai latihan bersama pemain Persik di lapangan Wali Barokah, Ngronggo, Kamis (27/7) lalu.
Berawal dari sanalah, Arman Arsyad dan Rahmatiah, orang tua Abanda, melihat potensi putra sulungnya. Apalagi Abanda antusias saat bermain bola. “Katanya orang tua, kalau main jangan setengah-setengah,” kenangnya. Apalagi Arman, ayahnya, juga atlet dayung yang terbiasa kerja keras dan olahraga. “Harus serius,” paparnya.
Makanya, Abanda kecil pun dimasukkan ke Makasar Football School (MFS) dan mulai rutin berlatih di sana. Dari sekolah sepak bola itu, karirnya lantas berlanjut. Mulai dari berkompetisi di level junior hingga memperkuat klub seperti PSM Makasar, Madiun Putra, dan Persegres Gresik. Juga berbagai jenjang usia Timnas.
Meski saat ini ia dipatok sebagai striker, namun siapa sangka, saat remaja Abanda justru menempati posisi gelandang bertahan. Saat itu ia terinspirasi mantan gelandang Arsenal dan Inter Milan, Patrick Viera. “Ya, dulunya gelandang bertahan kayak Viera. Tapi sama pelatih MFS dulu diminta jadi striker. Katanya, kamu tinggi, shooting bagus. Striker saja,” ungkapnya.
Lalu bagaimana bisa sampai ke Persik Kediri? Sebenarnya, musim ini Abanda nyaris memperkuat Persegres Gresik di Liga 1 setelah sebelumnya memperkuat tim itu di Piala Presiden. Namun karena suatu sebab, kesepakatan itu gagal. Saat itu, sebenarnya ia banyak mendapat tawaran.
Namun pendekatan manajemen Persik membuatnya yakin. “Bos Anang (manajer Persik Anang Kurniawan, Red) langsung memberi tawaran yang sulit saya tolak. Saya langsung bilang iya,” ujarnya.
Apalagi, Kota Kediri ternyata tak asing baginya. Pada 2012, saat memperkuat PPSM Magelang yang bertandang melawan Persik, ia sempat jalan-jalan dan menikmati indahnya Kota Tahu. Paling berkesan barang-barangnya murah. “Di sini murah-murah. Terutama makanannya,” ungkapnya.
Di Persik, Abanda tinggal di mes. Ia satu kamar dengan Ahmad Taufik, full back serta Maldini, gelandang muda Persik. Namun kebersamannya bukan hanya dengan dua pemain itu saja. Bersama pemain lainnya yang mayoritas juga tinggal di mes, ia juga akrab.
Saat luang, ia sering mengajak rekan-rekannya nonton bioskop. Hobi yang ia salurkan untuk menghilangkan lelah usai berlatih atau bertanding. “Terakhir kemarin nonton Dunkirk. Buat refreshing saja,” tuturnya.
Sebenarnya ada hobi lain yang sudah lama tidak ia lakukan. Tapi rasanya di Kediri itu tidak mungkin. “Saya suka mancing. Tapi di laut. Di sini tidak ada..ha..ha..haa,” ujarnya. Beberapa waktu lalu ia juga tertarik dengan sepeda fixie. Namun saat lebaran, sepeda yang ia rakit di Kediri itu ia bawa ke Makasar dan sekarang belum terpikir merakit lagi. “Belumlah sekarang. Tapi sepertinya mau ngrakit lagi nanti,” tandasnya lantas tersenyum.
Editor : adi nugroho