KEDIRI, JP Radar Kediri–Festival Kuno-Kini 2026 sudah berakhir pada 24 Mei lalu. Namun, pameran yang sukses mendatangkan lebih dari 300 ribu pengunjung selama 11 hari itu tetap jadi perbincangan.
Terutama oleh ratusan pedagang yang sukses panen cuan karena membukukan keuntungan berlipat di ajang tahunan tersebut. Mereka pun berharap pameran bisa digelar lagi tahun depan.
Seperti dikatakan oleh Nanik Mahmudah, pedagang asal Desa Pehwetan, Papar. Menurutnya, Festival Kuno-Kini jadi salah satu event yang paling ditunggu pelaku usaha kecil.
Sebab, menjadi pameran dengan jumlah pengunjung yang sangat besar.
Terkait adanya biaya yang dibebankan kepada peserta, perempuan yang juga ketua Paguyuban UMKM Joyoboyo itu mengaku peserta tidak mempersoalkannya.
Sebab, mereka memahami penyelenggara juga harus menanggung berbagai kebutuhan operasional.
Mulai pemasangan tenda, penyediaan area parkir gratis, hingga menghadirkan hiburan setiap hari selama festival berlangsung untuk memeriahkannya.
“Menurut kita Kuno-Kini ini event yang sangat dan sangat ditunggu oleh UMKM kecil yang butuh wadah untuk berjualan. Kalau soal bayar, kami tidak keberatan karena memang semua butuh biaya. Ada tenda, parkir gratis, hiburan setiap hari. Itu semua tentu ada biayanya,” ujar Nanik.
Baca Juga: Empat LSM Mempersoalkan Festival Kuno Kini
Para pedagang senang karena mereka berhasil meraih keuntungan berlipat. Nanik sendiri bisa meraih omzet sekitar Rp 2-4 juta per hari.
Selama 11 hari pelaksanaan, dia bisa mendapat keuntungan bersih hingga Rp 15 juta!
Karenanya, meski rumahnya relatif jauh dari lokasi pameran di Taman Hijau Simpang Lima Gumul (SLG), dia tetap memutuskan ikut berjualan karena melihat keberhasilan penyelenggaraan tahun sebelumnya.
“Rumah saya jauh, tapi tetap nekat ikut karena dengar tahun kemarin banyak yang untung dan laris. Alhamdulillah memang sangat membantu,” jelas perempuan yang berjualan gado-gado itu.
Hal senada dikatakan oleh Pasanda, pedagang otak-otak yang sejak awal selalu mengikuti Festival Kuno-Kini. Menurutnya, penyelenggaraan tahun ketiga ini terbilang paling sukses dan tertata.
Dia menilai kebijakan panitia membatasi jumlah peserta merupakan langkah yang tepat.
Sebab, mempertimbangkan keterbatasan lahan serta upaya menghindari kesamaan jenis dagangan agar seluruh peserta mendapatkan kesempatan yang sama.
“Pembatasan peserta juga wajar karena lahan terbatas dan supaya tidak terlalu banyak pedagang dengan barang yang sama,” ungkapnya.
Terkait biaya, Pasanda menyebut seluruh peserta yang lolos seleksi telah mengetahui serta menyetujui aturan yang ditetapkan panitia. Sehingga mereka tidak mempermasalahkannya.
“Kalau tidak menarik tentu tidak akan banyak yang mendaftar. Faktanya banyak yang ingin ikut tetapi tidak kebagian stan. Itu menunjukkan antusiasmenya tinggi,” tuturnya.
Baca Juga: Menakar Nalar Kritis LSM; Yang Menyoal Festival Kuno-Kini
Pasanda bersyukur, keikutsertaannya di Festival Kuno-Kini tahun ini membuatnya membukukan keuntungan bersih hingga puluhan juta rupiah. “
“Alhamdulillah nyucuk dan masih ada lebihnya. Kalau dihitung bersih kurang lebih Rp 50 juta (keuntungan) selama 11 hari,” ujarnya.
Terpisah, Pengamat Ekonomi Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri Dr Subagyo menilai dampak Festival Kuno-Kini tidak hanya dirasakan para tenant UMKM.
Menurutnya, kegiatan pameran tersebut menimbulkan multiplier effect atau efek pengganda yang cukup besar terhadap perekonomian daerah.
Uang yang dibelanjakan pengunjung di pameran, lanjut Subagyo, tidak berhenti pada pedagang yang berjualan di area festival saja.
Melainkan juga turut menggerakkan berbagai sektor lain seperti jasa parkir, ojek online, hotel, penginapan, pedagang kaki lima, penyedia sound system, pekerja event organizer hingga sektor transportasi.
“Multiple effect-nya cukup tinggi. Dampak ekonomi festival itu tidak hanya berhenti pada tenant,” jelasnya.
Keikutsertaan ratusan pelaku UMKM di Festival Kuno-Kini, menurut Subagyo juga memberi manfaat jangka panjang.
Selain meningkatkan penjualan langsung, pelaku usaha dapat memperluas jaringan pelanggan. Serta memperkuat promosi melalui media sosial para pengunjung.
Fenomena itu juga disebut temporary economic acceleration atau percepatan ekonomi sementara.
Baca Juga: Bulog Kediri Apresiasi Festival Kuno Kini 2026, Jadi Ruang Edukasi Pangan untuk Masyarakat
Yakni kondisi ketika aktivitas ekonomi suatu daerah meningkat signifikan dalam waktu tertentu akibat adanya kegiatan berskala besar.
“Pengunjung yang datang membelanjakan uangnya, lalu uang itu kembali berputar di masyarakat sekitar. Untuk daerah seperti Kediri, event semacam ini penting karena mampu menciptakan temporary economic acceleration atau percepatan ekonomi sementara,” tegas Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis itu.
Editor : Andhika Attar Anindita