Namun, pernyataan itu hampir pasti bakal diamini oleh 400 ribuan pengunjung yang memadati acara ini sejak pembukaan. Juga, oleh 300-an lebih pengisi stan yang panen cuan.
Ya, Festival Kuno Kini 2026 ditutup dengan berbagai catatan yang luar biasa. Baik dari sisi jumlah stan UMKM yang menjadi peserta, pengunjung yang datang selama 11 hari pelaksanaan, hingga omzet yang melewati pencapaian tahun sebelumnya.
“(Festival Kuno Kini) dampaknya luar biasa. Yamaha saja omzetnya meningkat (tahun ini). Sudah lebih dari 100 SPK (surat pemesanan kendaraan, Red) unit motor terjual. Belum lagi stan UMKM yang sehari omzetnya bisa (antara) Rp 5 juta sampai Rp 6 juta,” tegas Direktur JP Radar Kediri Kurniawan Muhammad, saat memberi sambutan dalam acara penutupan dan pengundian hadiah sepeda motor Yamaha untuk pengunjung.
Memang, berdasarkan data dari panitia, area Festival Kuno Kini telah dikunjungi sekitar 400 ribu pengunjung.
Jumlah itu diperoleh selama sebelas hari pelaksanaan pameran dan bazar UMKM yang berlokasi di kawasan Simpang Lima Gumul (SLG) tersebut.
Setiap hari puluhan orang yang datang, sejak siang hingga malam hari. Hanya satu hari yang jumlah pengunjungnya ‘hanya’ belasan ribu. Yaitu di hari kedua, Jumat (15/5).
Itupun jumlahnya mendekati 18 ribu orang.
Sedangkan saat pembukaan festival telah menyedot lebih dari 28 ribu orang. Hari ketiga melonjak menjadi 60 ribu orang lebih. Serta 61 ribu lebih pengunjung di hari berikutnya.
Setelah itu, berturut-turut acara tahunan yang juga ditujukan meramaikan Hari Jadi Kediri ini dikunjungi puluhan ribu orang.
Lebih 25 ribu pengunjung di hari kelima, 21 ribu lebih pengunjung di hari keenam, hampir 22 ribu pengunjung di hari ketujuh, serta meningkat menjadi hampir 25,5 ribu di hari berikutnya.
Puncak kepadatan tersaji di weekend, mulai Jumat (22/5). Saat itu warga yang datang menyentuh angka 30 ribu lebih. Serta masing-masing hampir 62 ribu di Sabtu dan Minggunya.
“Setiap hari panggung ini tidak pernah sepi sejak Festival Kuno-Kini digelar. Mudah-mudahan ini menjadi event tahunan yang benar-benar dinanti dan dirindukan masyarakat Kediri Raya,” tandas Kurniawan, mengomentari soal tingginya tingkat kunjungan di acara tersebut.
Menurut pria yang biasa disapa Kum tersebut, angka kunjungan sengaja dicatat oleh panitia. Di tiga pintu masuk lokasi ada petugas khusus yang melakukan penghitungan.
Data tersebut penting. Sebagai bahan evaluasi sekaligus gambaran dampak ekonomi kegiatan ini pada masyarakat.
Kum berharap Festival Kuno-Kini bisa terus digelar setiap tahun. Serta menjadi ikon event Kabupaten Kediri. Menurutnya, keberhasilan festival tidak lepas dari dukungan masyarakat dan Pemkab Kediri, Polres Kediri, serta pihak lainnya yang turut mensukseskan acara.
“Kalau masyarakat mendukung dan Pemkab Kediri mendukung, tentu kami akan terus berusaha konsisten menghadirkan yang terbaik,” tegasnya.
Membeludaknya pengunjung berkorelasi langsung pada omzet para pedagang. Hingga hari penutupan, sudah tercatat perputaran uang sebanyak Rp 7 miliar lebih. Jumlah itu berpotensi berubah karena ada beberapa stan yang belum melaporkan perolehan omzetnya.
Santoso, yang membuka stan bikang congkel mengatakan, Festival Kuno Kini telah membuka pasar baru bagi UMKM seperti dirinya. Tidak hanya laku di lokasi namun juga mendapat pesanan lanjutan.
“Awalnya belum punya pelanggan di sini. Ternyata banyak yang balik lagi beli. Jadi dapat pelanggan baru,” sebut warga asal Gogorante, Kecamatan Ngasem ini.
Selama festival kali ini Santoso mengaku beromzet lebih dari Rp 21 juta. Dengan rata-rata per hari mencapai Rp 2,5 juta.
“Kalau hujan bisa tinggal Rp 600 ribu sampai Rp 700 ribu. Tapi secara keseluruhan bagus banget, UMKM sangat terbantu,” jelas lelaki 39 tahun ini sambil menyebut produk paling larisnya adalah bikang dan donat.
Hal serupa dikatakan Eko Wiyono, 46. Penjual jajanan kuno asal Kota Batu. Dia mengaku tertarik ikut Festival Kuno-Kini karena melihat perkembangan event yang semakin besar setiap tahunnya.
“Konsepnya menarik dan perkembangannya bagus. Makanya kami tertarik ikut,” katanya.
Selama sebelas hari berjualan, Eko memperkirakan omzetnya mencapai Rp 30 juta hingga Rp 40 juta. Dalam kondisi normal, omzetnya bisa di atas Rp 3 juta per hari. Bahkan saat ramai mampu mencpai Rp 5 juta hingga Rp 10 juta per hari.
Dia berharap tahun depan bisa kembali ikut serta apabila masih diberi kesempatan oleh panitia. “Semoga tahun depan bisa ikut lagi dan event-nya makin bagus,” jelasnya.
Baca Juga: Omzet Kuno-Kini Capai Rp 2,63 Miliar, Guncang Panggung Utama Deviana Safara Siap Hibur Pengunjung
Sementara itu, cuaca cerah menjadikan malam penutupan Festival Kuno-Kini 2026 makin meriah. Penampil di panggung utama adalah Campursari Surya dan DJ Onzo.
Lagu-lagu campursari serta dagelan yang dibawakan membuat penonton ikut bernyanyi dan berjoget bersama hingga acara selesai.
Bambang Balowo berharap Festival Kuno-Kini terus dipertahankan. Sebagai ruang mengenalkan budaya dan potensi Kabupaten Kediri kepda masyarakat luas.
“Jangan lupa kebudayaan dan potensi Kediri terus ditampilkan. Ini penting supaya generasi sekarang tetap kenal budaya daerahnya,” pungkasnya.
Untuk diketahui, Festival Kuno Kini 2026 terselenggara berkat support Yamaha dan BRI.
Editor : Andhika Attar Anindita