Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Mereka yang Gemilang di Ajang School Contest GenZverse LiterAction: Ciut Nyali, Tak Berani Datang saat Pengumuman

Emilia Susanti • Jumat, 7 November 2025 | 21:31 WIB
TOTALITAS: Reyvan Putra Ramadhan dari SMAN 7 Kediri (kiri) dan Daffa Faeyza Rosyid Al Wafiy dari SMPN 5 Nganjuk berhasil menjuarai Short Video Competition di ajang School Contest GenZverse 2025.
TOTALITAS: Reyvan Putra Ramadhan dari SMAN 7 Kediri (kiri) dan Daffa Faeyza Rosyid Al Wafiy dari SMPN 5 Nganjuk berhasil menjuarai Short Video Competition di ajang School Contest GenZverse 2025.

JP Radar Kediri - Video short yang dibuat Reyvan Putra Ramadhan dan teman-temannya terbilang sederhana. Menggambarkan sosok pemeran utama hanya berkaus putih dan celana abu-abu, celana seragam sekolah. Durasi video berjudul ‘Sekilas’ itupun singkat, tak sampai tiga menit.

Namun, saat menyaksikan video karya anak-anak SMAN 7 Kota Kediri tersebut, penonton seakan dibawa ke masa lalu pemeran utama. Ketika bersemangat dalam belajar dunia fotografi. Itu digambarkan ketika sang pemeran utama mengambil gambar di Candi Tegowangi, Kabupaten Kediri. Hanya saja, hobi fotografi itu mulai ditinggalkan lantaran kesibukan di sekolah.

“Inspirasinya dari teman kami sendiri. Dia memiliki ketrampilan fotografi, tetapi karena sibuk di OSIS, akhirnya tidak memiliki waktu untuk mengoptimalkan bakatnya. Akhirnya dia mengasah kembali bakatnya dengan waktu yang ada,” jelas Reyvan.

Saat ide ini disampaikan ke tim, semua anggota pun setuju. Nah pekerjaan rumah (PR) selanjutnya adalah menentukan latar video tersebut.

Kala itu, ada beberapa opsi lokasi pengambilan video. Selain di Candi Tegowangi, Reyvan dkk sempat mempertimbangkan Gua Jegles.

“Setelah kami searching, Candi Tegowangi memiliki struktur tumpukan batu yang memiliki suatu makna. Setiap tingkatan batu yang tertumpuk satu demi satu sama dengan proses berkembangnya perkembangan diri dalam berinovasi,” jelasnya sembari menyebut tagline Yamaha turut menjadi inspirasi timnya dalam pembuatan video.

Setelah lokasi dan naskah selesai, Reyvan dan teman-temannya pun memulai proses pengambilan gambar. Walau video tersebut terkesan sederhana, siapa sangka proses pembuatannya memakan dua hari. Sebab, saat di lokasi, tim masih harus melakukan diskusi-diskusi kecil untuk mendapatkan hasil terbaik.

“Kendalanya cuaca yang tidak menentu. Saat pengambilan video, kami harus berpikir bagaimana caranya agar pengambilan video tetap berjalan lancar sebelum hujan,” ceritanya.

Setelah proses pengambilan video itu, Reyvan dan teman-temannya pun mengebut pengerjaan editing video. Setelah ada beberapa revisi, video pendek dengan judul Sekilas itu pun rampung. Kala itu, dia dan teman-temannya pun optimis bisa mendapatkan juara di School Contest.

Namun demikian, mereka juga sempat pesimistis ketika menyaksikan karya siswa-siswa dari sekolah lain. Hanya saja, usai melakukan presentasi, Reyvan kembali merasa optimistis.

“Jadi awal itu masih semangat, tapi pas tim lawan upload itu pesimistis sedikit. Setelah masuk sepuluh besar dan mendengarkan komentar juri, langsung optimistis lagi. Alhamdulillah,” ungkap Reyvan sembari menyebut baru pertamakali mendapat juara 1 untuk Video Short Competition.

Serupa, Daffa Faeyza Rosyid Al Wafiy juga tak menyangka bisa mendapat juara 1 di Video Short Competition kategori SMP. Walau awalnya optimistis, kepercayaan dirinya dan teman-temannya menciut kala melihat karya sekolah lain. Hingga akhirnya, para siswa pun memilih untuk tidak datang ke Final Party School Contest.

“Presentasi kan H-1, itu merasa ah kayaknya nggak menang. Akhirnya guru pembina mengusulkan kalau pembinanya aja yang datang gimana kan kami dari luar kota. Jadi kami diminta nonton di rumah aja, live,” cerita siswa dari SMPN 5 Nganjuk ini.

Kala itu, remaja yang biasa disapa Daffa itu menurut lantaran memang tak yakin bisa menang. Terlebih lagi, dia merasa presentasi yang dilakukannya dan teman-temannya tidak berjalan lancar. Ya karena saat itu dirinya grogi.

“Eh ternyata kami yang juara satu dan gurunya yang naik,” katanya sembari menyebut dirinya sangat ingin maju ke panggung.

Sementara itu, proses pembuatan video pendeknya juga tidak berjalan dengan mudah. Sebab, dia dan teman-temannya memilih tempat yang jauh dari sekolahnya. Adalah di Gunung Kelud. Yang mana, timnya dan para guru pembina membutuhkan waktu sekitar tiga jam untuk sampai. Di sana pun mereka menemui kendala. Mulai dari susah sinyal hingga cuaca yang mendung.

“Sempat panik karena takut hujan,” akunya.

Namun demikian, semua perjuangan tersebut terbayarkan. Sebab, juara pertama berhasil dibawa pulang oleh dirinya dan teman-temannya.

“Ini baru pertamakali ikut, sekolah juga baru pertama ikut. Alhamdulillah,” tandasnya.

 

 Untuk mendapatkan berita-  berita terkini   Jawa Pos   Radar Kediri  , silakan bergabung di saluran WhatsApp "  Radar Kediri  ". Caranya klik link join  saluran WhatsApp Radar Kediri.  Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.

Editor : Shinta Nurma Ababil
#radar kediri #school contest #school contest radar kediri #event radar kediri