Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Pesantren dan Tantangan Literasi Gen Z: Menyemai Bilingual, Menumbuhkan Daya Pikir

Redaksi Radar Kediri • Senin, 20 Oktober 2025 | 23:43 WIB
Bersemangat dan aktif dalam kosakata pagi.
Bersemangat dan aktif dalam kosakata pagi.

Pagi yang riuh di Ponpes Matlabus Salik (Al-Matlab) kian lengkap ketika bel berdentang, memanggil para santri segera bergegas menuju ruang makan. Setibanya disana, mereka mengantre sembari berbincang ringan, dan kemudian menunggu arahan untuk berdoa bersama.

Menariknya, doa itu dipimpin menggunakan bahasa inggris. “Before having breakfast, let’s start by reciting basmalah”. Awalnya momen seperti ini terasa asing bagi santri baru. Namun, seiring berjalannya waktu hal sederhana ini justru menjadi awal untuk memupuk budaya literasi yang menghidupkan interaksi di kalangan generasi Z, dengan bilingual sebagai wadahnya.

Perlahan, banyak orang mulai paham bahwa literasi bukan hanya sekedar membaca dan menulis, melainkan juga menerima dan mengolah informasi. Mengutip dari UNESCO, literasi juga diartikan dengan kemampuan untuk memahami, menafsirkan, menciptakan, serta menyampaikan informasi dalam segala bentuk, termasuk kemampuan berbahasa asing.

Namun, tantangan literasi bagi gen Z di era digital tidak lagi mudah. Seiring dengan masifnya video pendek atau short video di berbagai platform media, gen z lebih tertarik menghabiskan waktu mereka dengan gawai.

Baca Juga: Santri dan Literasi Bahasa Asing

Menurut survei dari Good Stats pada tahun 2025, sekitar 63% gen z di Indonesia menghabiskan lebih dari 2 jam setiap hari untuk scrolling media sosial atau menonton short video. Kebiasaan ini membuat kemampuan mereka dalam menghadapi persoalan kompleks jadi menurun.

Pesantren yang berada di Nganjuk ini menjawab tantangan tersebut dengan menerapkan budaya bilingual (Bahasa Arab & Inggris) dalam komunikasi sehari-hari bagi para santri. Di awal tentu mereka kerap mengalami beberapa kesulitan.

Meski begitu, ada rasa tertantang yang membuat mereka tetap berusaha untuk menguasainya. “Walau susah, tapi kadang muncul rasa tertantang buat nguasainya, kayak pas main game gitu,” ungkap salah satu santri, Syaiful.

Sebagai pengamalannya, setiap setelah mengaji para santri antusias mengikuti kegiatan ‘kosakata pagi’. Di sana mereka mendapat 3-4 kosakata baru dari ustadz untuk dihafalkan dan kemudian dipakai sehari-hari.

Kemudian setiap hari Selasa, mereka mengikuti muhadharah atau public speech yang tentunya menggunakan bahasa Arab dan Inggris. Kegiatan pidato ini bertujuan mengasah kemampuan santri melalui bilingual sekaligus melatih mental mereka untuk berbicara di depan umum.

Selain itu, budaya ini juga menuntut para santri untuk konsisten. Karena jika tidak mereka akan ditegur lewat mahkamah lughah. Yakni program konseling bagi santri yang melanggar atau tidak menggunakan bahasa Arab atau Inggris.

Di sore hari, pengurus OP3 (semacam OSIS di sekolah umum) akan memanggil santri yang melanggar untuk diberi arahan serta konsekuensi agar semakin termotivasi. “Biasanya kita akan melakukan pemanggilan, kemudian kita tegur dan nasihati untuk konsisten memakai bahasa yang sudah menjadi aturan,” ujar Alfian, anggota OP3 bagian bahasa.

Secara bertahap, budaya ini meningkatkan kemampuan kognitif mereka. Selain memahami dan mengolah informasi, bilingual juga mengarah ke pemahaman budaya asing yang sedikit banyak membantu keterampilan sosial mereka.

Ini terjadi karena adanya peningkatan kepadatan gray matter pada area bahasa di otak yang berperan dalam kemampuan kognitif, seperti yang dijelaskan oleh Dr. Andrea Mechelli et al dalam jurnalnya Structural Plasticity in the Bilingual Brain (2004).

Lebih dari itu, kemampuan bilingual menjadi bekal berharga bagi santri bukan hanya di pesantren saja, tetapi juga di lingkungan masyarakat. Seperti yang dirasakan oleh Galih Indra. Santri asal  Tulungagung itu menceritakan bahwa ia pernah berbicara dengan orang asing yang juga tetangganya.

Berbekal kemampuan bahasa Inggris yang dipalajari, ia tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga menambah relasi dan kepercayaan diri untuk berkomunikasi. “ketika ngobrol sama orang itu, dia kaget karena saya bisa bahasa Inggris. Dari situ saya jadi tahu banyak hal baru,” ungkapnya sambil tersenyum.

Hal serupa juga diungkapkan oleh Musthofa, santri kelas IX. Sejak belajar bahasa Arab di pesantren, ia menjadi terbantu dalam memahami arti dari ayat Al-Qur’an. Tak jarang, ia dapat mengambil hikmah atau pelajaran melalui kisah-kisah di dalamnya. “Alhamdulillah, sekarang lebih ngerti maknanya jadi bisa ambil hikmah juga,” tandasnya.

Melalui cerita diatas, terlihat bahwa bilingual dapat menjadi sarana penunjang literasi, utamanya di kalangan gen z. bilingual tidak hanya meningkatkan kemampuan gen z dalam hal komunikasi, melainkan juga melatih bagaimana menjawab tantangan yang kelak mereka hadapi saat terjun ke masyarakat, terlebih-lebih di era digital ini.

Akhirnya, bilingual dapat membuka modal intelektual gen z yang akan membawa generasinya beradaptasi dengan budaya global serta membuat literasi menjadi hidup dan nyata. (Maulana Hadrian Kusuma Agung)

Editor : Andhika Attar Anindita
#daya pikir #literasi #Gen Z #Bilingual #pesantren