Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Menulis di Tengah Gempuran Layar: Kisah Jurnalis Muda MTsN 5 Kediri Menjadikan Literasi sebagai Gaya Hidup

Redaksi Radar Kediri • Senin, 20 Oktober 2025 | 19:33 WIB

 

Suasana pojok literasi MTsN 5 Kediri, Jumat (4/10). Siswa-siswi tampak menikmati waktu membaca di E-Library madrasah.
Suasana pojok literasi MTsN 5 Kediri, Jumat (4/10). Siswa-siswi tampak menikmati waktu membaca di E-Library madrasah.

Jumat siang di pojok literasi MTs Negeri 5 Kediri terasa berbeda. Di antara deretan rak, sekelompok siswa tampak sibuk berdiskusi. Ada yang membaca buku, ada yang memegang globe kecil, ada pula yang menandai paragraf di buku catatan. Di ruangan sempit inilah, semangat literasi hidup— bukan sekadar tugas sekolah, melainkan gaya hidup baru generasi Z madrasah. 

Di antara maraknya dunia digital yang sering membuat remaja tertuju pada layar ponsel, sekelompok jurnalis muda menentukan pilihan lain. Mereka mengindikasikan bahwa aktivitas membaca dan menulis tidak kalah seru dengan bermain game atau berkelana di media sosial. Salah satu dari mereka, Tirta, selalu terlihat antusias saat membicarakan topik literasi.

“Sebelum ikut ekstra jurnalistik, aku memang sudah suka baca novel dan majalah,” ujarnya sambil menutup buku catatan yang dipenuhi coretan ide. “Tapi di sini, aku belajar bahwa bacaan bisa menginspirasiku untuk menulis. Kini aku nggak hanya merasakan cerita, tapi juga ikut menulisnya," ujar Tirta sambil meringis.

Baginya, dunia jurnalistik bukan sekedar wadah untuk menyalurkan hobi menulis, tapi juga cara untuk menjadikannya sosok yang lebih peduli. Setiap berita yang ia tulis, katanya selalu punya arti—ibarat catatan kecil dari empati yang tumbuh di dalam dirinya. “Aku jadi lebih mengerti akan hal-hal di sekitar. Rasanya keren bisa menyampaikan sesuatu yang bermanfaat buat orang lain,” tambahnya. 

Cerita serupa datang dari Dimas, siswa pendiam yang kini menjadi pembawa acara podcast sekolah. Ia tersenyum saat mengenang dirinya yang dulu gugup berbicara di depan umum. “Dulu saya orangnya pendiam banget. Tapi setelah ikut jurnalistik, saya jadi sering wawancara dan latihan bicara. Sekarang malah suka jadi host podcast,” katanya.

Sebelum setiap siaran, Dimas selalu menyiapkan riset. Ia membaca artikel, menonton video, dan menulis catatan kecil agar obrolannya tidak kering. “Ternyata literasi nggak melulu soal membaca buku. Literasi itu juga tentang memahami topik, menggali makna, dan menyampaikannya dengan bahasa kita sendiri,” ujarnya sambil tersenyum. 

Sementara itu, Zalfa punya kisah berbeda. Awalnya ia hanya ikut-ikutan teman saat mendaftar ekstra jurnalistik. Tapi lama-kelamaan, ia menemukan dunianya sendiri. “Dulu aku nggak pernah nyangka bakal suka nulis berita. Tapi waktu pertama kali liputan acara sekolah, aku merasa seperti penemu yang sedang mencari fakta,” ujarnya. 

Kini, setiap kegiatan sekolah adalah bahan liputan baginya. Ia terbiasa bertanya pada guru, mencatat jawaban dengan teliti, lalu menulis berita di ruang redaksi kecil madrasah. “Aku jadi lebih kritis dan berani. Kalau ada isu, aku nggak langsung percaya. Aku cari sumbernya dulu,” katanya dengan nada yakin. 

Pembina jurnalistik MTsN 5 Kediri juga menambahkan bahwa kegiatan ini bukan hanya melatih keterampilan teknis, tetapi juga membentuk karakter. “Anak-anak belajar berpikir kritis dan tanggung jawab. Mereka tahu pentingnya ketepatan dalam menyampaikan berita,” tuturnya. Ia menambahkan, semangat literasi para siswa adalah bukti bahwa generasi Z madrasah tak kalah adaptif dengan perubahan zaman. 

Setiap Jumat sepulang sekolah, ruang jurnalistik itu selalu ramai. Di sana, ide-ide lahir dari percakapan sederhana: tentang buku baru di perpustakaan, tentang kegiatan sosial madrasah, hingga tentang peringatan Hari Santri. Dari obrolan itu, lahirlah berita, artikel, reels IG dan naskah podcast yang kemudian dibagikan di majalah dinding digital madrasah. 

Kegiatan literasi ini telah mengalihkan cara para siswa memandang dunia. Mereka tidak lagi hanya menjadi konsumen informasi, tapi pencipta narasi. “Sekarang aku paham, jadi jurnalis itu harus pegang komitmen,” kata Tirta di akhir wawancara. “Tulisan kita bisa menginspirasi, tapi juga bisa menyesatkan kalau asal. Karena itu, aku selalu memastikan setiap berita punya data yang benar.” 

Dari ruang kecil itu, madrasah membangun peradaban literasi barunya. Melalui jurnalistik, para siswa di madrasah tidak hanya membaca untuk memahami teks, tetapi juga belajar mengenali peristiwa nyata. Bagi mereka, literasi bukan hanya tugas membuat berita dari tutor dan membuat reels IG sekolah yang dijadwalkan setiap minggu, tetapi bagian dari cara mereka membaca, menulis, hingga berbicara dengan penuh percaya diri.

Kini, MTsN 5 Kediri menunjukkan bahwa mereka bukan hanya lembaga pendidikan, tetapi juga menjadi tempat berkembangnya generasi cerdas yang gemar menyuguhkan fakta. Dari ruang kecil jurnalistik di madrasah, muncul kebiasaan besar: berpikir kritis dan menjunjung kebenaran. (FAIZA ZIDNI ULYA)

 

Editor : Andhika Attar Anindita
#literasi #jurnalis #MTSN 5 KEDIRI #gaya hidup #menulis #layar