Suasana kelasku hari ini terasa berbeda. Udara terasa lebih segar, bercampur aroma jasmine tea dari pengharum ruangan yang tergantung di dekat pendingin udara. Aroma itu membuat semangatku dan teman-teman untuk belajar semakin meningkat. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi, menandakan pelajaran ketiga akan dimulai.
Para siswa segera duduk di bangku masing-masing, siap menimba ilmu sambil menunggu guru Bahasa Jawa datang. Aku pun mulai membuka buku Kirtya Basa terbitan Dinas Pendidikan Jawa Timur. Kubuka pada bab 3 tentang Teks Crita Wayang. Aku menemukan gambar-gambar wayang. Sepertinya menarik belajar tentang wayang ini.
Tak lama kemudian, Bu Hanifa masuk dengan senyum ramah Di tangannya ada dua wayang kayu kecil berwarna cerah. “Anak-anak, hari ini kita belajar teks wewayangan,” ujarnya sambil mengangkat wayang itu. Suasana kelas langsung ramai penuh penasaran. Wayang tersebut terlihat unik, pipih dan ringan, terbuat dari kayu, berbeda dari wayang kulit di televisi.
“Kalian tahu ini wayang apa?” tanya Bu Hanifa. Kami kompak menggeleng. “Ini namanya Wayang Timplong. Asli dari Nganjuk, tepatnya Desa Kedungbajul, Pace.” Kami terkejut. Baru kali ini tahu bahwa daerah kami punya warisan seni sendiri.
Baca Juga: Puluhan Mading 3D Siap Ramaikan Final Party School Contest 2025 GenZverse LiterAction
Bu Hanifa menjelaskan bahwa Wayang Timplong pertama kali dibuat oleh Mbah Bancol, seniman rakyat dari Pace. Ia membuat wayang dari kayu tipis agar mudah dimainkan masyarakat desa tanpa gamelan besar. Dari tangan Mbah Bancol, lahir kesenian rakyat sederhana namun memiliki nilai yang tinggi.
“Tokoh wayang yang saya pegang ini, adalah Panji Asmarabangun dan Dewi Sekartaji,” lanjut Bu Hanifa. “Mereka legenda dari Kediri.” Beliau menerangkan bahwa kisah Panji bukan hanya cerita cinta, melainkan simbol kebijaksanaan dan perjuangan.
Dulu, kisah Panji sering dimainkan dalam berbagai seni tradisional, termasuk Wayang Timplong. “Kisah Panji sudah diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia,” tambahnya. Aku terpana, ternyata kisah Panji ini telah mendunia.
Bu Hanifa kemudian mengajak kami mencoba memainkan wayang itu. Kenzie dan Naufal maju, menggerakkannya dengan gaya lucu hingga membuat seisi kelas tertawa. Setelahnya, kami menonton film berjudul Wayang Timplong karya siswa ekstra teater MTsN 5 Nganjuk. Film itu menceritakan tentang persahabatan lewat permainan wayang. Ceritanya sederhana, namun seru dan banyak makna.
Baca Juga: Wooo! Ada Lomba Baru di School Contest 2025, Anak SD pun Bisa Ikut
“Film ini juara 1 Lomba Film HAB Kemenag 2023,” kata Bu Hanifa bangga. “Budaya bisa dijaga bukan hanya lewat pentas, tapi juga lewat film.” Kami bertepuk tangan gembira.
Seusai menonton, aku mewawancarai beberapa teman. Nayla bilang, “Aku jadi tahu kalau Nganjuk punya karya budaya yang keren.” Syifa menambahkan, “Wayang Timplong itu alat komunikasi dan simbol persahabatan.” Alia pun berkata, “Aku ingin belajar membuat wayang, supaya tradisi ini tidak hilang.” Aku setuju. Kalau bukan kita yang menjaga, siapa lagi?
Saat istirahat, aku menemui Bu Fitri dan Pak Ikhwan, pembimbing film Wayang Timplong. “Kami ingin siswa paham bahwa menjaga budaya bisa lewat karya kreatif,” kata Bu Fitri. “Anak-anak luar biasa semangatnya.” Pak Ikhwan menimpali, “Sekarang banyak remaja suka budaya luar seperti K-pop. Tak masalah, tapi jangan sampai lupa budaya sendiri.” Kata-kata itu membuatku merenung.
Aku sadar, literasi bukan hanya membaca atau menulis. Literasi juga berarti memahami budaya, sejarah, dan nilai bangsa. Literasi budaya menumbuhkan rasa cinta tanah air, karena dari cerita rakyat kita belajar tentang kejujuran, gotong royong, dan perjuangan. Wayang Timplong dengan kisah Panji mengajarkan nilai-nilai itu, tentang kesetiaan dan keberanian menegakkan kebenaran.
Melalui film dan pementasan, kita tidak hanya belajar seni, tapi juga membaca kehidupan. Itulah bentuk literasi budaya yang hidup, bukan sekadar materi di buku. Budaya bukan masa lalu, melainkan cermin masa depan. Dengan mengenal Wayang Timplong, kita belajar menjadi generasi yang menghargai akar negeri sendiri.
Baca Juga: Hebohnya Pelajar Kediri Sambut School Contest: Baru Ikut Sosialisasi Langsung Antusias Mendaftar
Menjaga budaya bisa dimulai dari langkah kecil, seperti menulis ulang cerita Panji, membuat film pendek, atau sekadar memperkenalkan teman tentang Wayang Timplong. Karena setiap langkah kecil adalah akan sangat berarti untuk pelestatian budaya Indonesia. (Athifah Vayla Uzmahani)
Editor : Andhika Attar Anindita