Namanya, Festival Pelepasan Siswa Berbudaya. Diinisiasi oleh Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Kediri. Konsep perpisahan siswa yang sederhana namun memiliki dampak luar biasa untuk orang-orang sekitar.
HILDA NURMALA RISANI, Kabupaten JP Radar Kediri
Ide acara ini datang dari sesuatu yang tidak terduga sebelumnya. Larangan pelaksanaan wisuda muncul di berbagai daerah di Tanah Air. Termasuk di Jawa Timur.
Hal itu membuat Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Kediri mencari cara. Bagaimana agar tetap bisa melaksanakan perpisahan bagi siswa namun lebih bermanfaat dan bermakna. Baik bagi siswa maupun orang-orang sekitarnya.
Acara tersebut pun disambut baik oleh pihak sekolah yang ada di Kabupaten Kediri. Mulai dari tingkat PAUD hingga SMP. Mereka berlomba-lomba menampilkan konsep perpisahan terbaik. Mulai dari ide atau tema acara pelepasan, pelaksanaan, hingga konten video di media sosial.
Untuk kelompok SMP, yang menjadi juara adalah SMPN 3 Pare. Dalam pemilihan ide, pihak sekolah melibatkan para guru, siswa hingga para orang tua.
“Termasuk melibatkan stakeholder yang ada di sekitar kami. Yaitu dari dunia usaha dan dunia industri yang membantu untuk kegiatan pelaksanaan di sekolah kami,” terang Agus Sutjahjo, kepala SMPN 3 Pare.
Saat ditemui di Gedung Bagawanta Bhari usai menerima hadiah juara 1, lelaki yang akrab disapa Agus itu antusias menceritakan proses yang dilalui oleh pihak sekolah hingga akhirnya dinyatakan sebagai juara.
“Pertama yang kami lakukan ya menentukan tema apa yang paling cocok untuk diangkat. Kemudian kami juga menyampaikan kepada siswa terkait kegiatan ini,” imbuhnya.
Lelaki yang mengenakan pakaian warna khaki PNS itu menjelaskan jika tema yang diusung SMPN 3 Pare adalah karakter dan budaya. Dengan rangkaian kegiatan yang diselenggarakan berlangsung selama dua hari.
Adapun kegiatan yang pertama adalah kerja bakti di tempat ibadah yang ada di sekitar sekolah. Kemudian melakukan juga kegiatan santunan atau sumbangan kepada orang tua dan siswa yang sangat membutuhkan. Bantuan yang diberikan salah satunya adalah sembako.
“Di hari kedua kami mengadakan kegiatan doa bersama. Dengan menghadirkan ustad untuk memberikan tauziah kepada para siswa,” bebernya dengan melempar senyum.
Masih dengan nada yang menggebu-gebu dia menerangkan jika ada kegiatan arak-arakan siswa. Siswa diarak mengelilingi halaman sekolah dengan alas kaki dilepas. Kemudian ujungnya siswa diminta untuk sungkem kepada orang tuanya.
Setiap orang tua ini akan duduk di bangku yang telah disediakan di bawah pohon. Bahkan karena tingginya antusiasme para orang tua mereka pun rela membawa ember sendiri dari rumah untuk digunakan pembasuhan.
“Acara sungkeman ini diiringi dengan petuah-petuah yang disampaikan oleh ustad,” ungkapnya kepada wartawan Jawa Pos Radar Kediri,
Konsep perpisahan yang luar biasa ini berasal dari sumbang saran masing-masing pihak yang dilibatkan. Dari hasil diskusi mentah hingga menjadi konsep yang sempurna.
“Proses penciptaan ide hingga jadi konsep matang tidak sampai satu hari,” akunya.
Lebih jauh Agus menyebut, konsep yang luar biasa ini berhasil mengambil hati banyak pihak. Itu dibuktikan dengan banyaknya air mata yang menetes ketika acara sungkeman siswa kepada orang tua.
Selepas acara haru, pihak sekolah juga menyediakan hiburan yang dapat dinikmati oleh para siswa.
“Hampir sembilan puluh persen orang tua menangis karena trenyuh. Menyentuh kalbunya,” papar lelaki yang sehari-hari memakai kacamata itu.
Agus mengaku senang ketika sekolahnya berhasil memperoleh juara 1. Sebab untuk sampai di titik ini tidaklah mudah. Banyak stakeholder yang turut dilibatkan hingga saat ini.
“Alhamdulillah kerja keras kami semua membuahkan hasil. Dan semoga menjadi motivasi sekolah lain untuk terus berinovasi,” pungkasnya.
Ke depan pihaknya juga tertarik untuk mengikuti acara serupa. Itu karena memiliki dampak luar biasa baik bagi siswa, orang tua maupun warga sekitar. Siswa memiliki kenangan indah, begitupun warga yang merasakan dampak kegiatan kebersihannya.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira