Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Ketika Ibu-Ibu PKK Gurah Menang Lomba Masak Kreasi Mi di Ajang Festival Kuno Kini 2025

Hilda Nurmala Risani • Senin, 2 Juni 2025 | 08:45 WIB
Ibu-ibu anggota PKK Menang Lomba Masak Kreasi Mi di Ajang Festival Kuno Kini 2025.
Ibu-ibu anggota PKK Menang Lomba Masak Kreasi Mi di Ajang Festival Kuno Kini 2025.

Ibu-ibu anggota PKK ini paham betul dengan konsep Festival Kuno Kini 2025, yang menggelar lomba masak kreasi Mi. Karena itu mereka padukan gaya jadul dan gaya kekinian. Pepes mi yang enak dan seblak ndower yang benar-benar pedas.

HILDA NURMALA RISANI, Kabupaten JP Radar Kediri

Mereka sudah terlihat kompak dari outfit-nya. Atasan warna putih dipadu bagian bawah warna hitam. Jilbabnya warna biru dongker. Lengkap dengan beragam asesoris bernuansa jadul alias kuno. Ada pula mahkota dari kertas merah putih bertuliskan ‘Tempo Doeloe’.

Mereka adalah Lin Hartatik, Siti Sarafah, Rofaidah, dan Indrawati, anggota tim penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Desa Gurah, Kecamatan Gurah.

Yang tengah berjuang mengalahkan 44 rivalnya dalam Lomba Masak Kreasi Mi di arena Festival Kuno Kini 2025, Sabtu (31/5).

“Kami siapkan konsep sejak seminggu lalu. Hasil diskusi dengan banyak pihak, termasuk ketua PKK,” aku Lin, yang bertindak sebagai ketua kelompok bernomor urut 6 itu.

Ketua PKK yang dia maksud adalah ketua PKK di desanya, Maryani. Dari Maryani itu pula mereka tahu tentang lomba ini.

“Semua fasilitas dan dukungan kami peroleh dari desa melalui ibu Mariyani ini. Jadi kami pun juga semangat mengikuti perlombaan,” akunya.

Konsepnya pun masih terkait dengan tema festival tahunan yang menggabungkan aspek kuno dan modern itu. Yaitu, mengombinasikan makanan tradisional dengan modern atau yang tengah viral.

“Yang bagian tradisional ada Pepes Mi Semlohai. Lalu yang viral ya Seblak Mi Ndower. Makanan penutupnya ada Bolu Mi Maknyus,” ucapnya, menjelaskan tiga jenis makanan yang sudah terhidang di meja lomba.

Bagi para ibu yang usia 40-an tahun ini, mengkreasikan makanan seperti itu tak terlalu ribet. Sebab, bahan utama lomba adalah mi. Yang relatif mudah dipadukan dengan beragam jenis makanan. Baik untuk makanan berat, camilan, hingga dessert.

Mengapa pepes dan seblak? Menurut Lin realita di masyarakat masih menunjukkan orang tua senang dengan makanan seperti pepes atau botokan.

Sedangkan anak mudanya senang makanan cepat saji kekinian yang berasa pedas ekstrem.

Apalagi, latar belakang anggota tim juga para pelaku usaha mikro kecil menenangah (UMKM) makanan. Ada yang berjualan gorengan, botok, olahan sayur, dan lainnya.

“Kami berempat sudah berjualan makanan hampir 20 tahun. Jadi lika-liku dalam mengolah bumbu masakan sudah ahlinya,” akunya, yang ditemui seusai lomba.

Bagi Lin dan Kawan-kawan, mengikuti lomba memasak tidak sekali ini. Meskipun, tidak pernah membawa pulang piala. Hingga semangat pantang menyerah mereka terbayar lunas saat lomba kemarin.

“Bukankah kegagalan itu keberhasilan yang tertunda,” tandas Lin, penuh keyakinan.

Khusus menghadapi lomba memasak kreasi mi, Lin dan kawan-kawan benar-benar mempersiapkan diri dengan matang. Dua hari sebelum lomba mereka berlatih memasak. Berusaha memenuhi tenggat waktu yang disyaratkan, 45 menit.

“Saat berlatih ternyata waktunya tidak cukup. Akhirnya kami evaluasi apa yang perlu dan tidak perlu dilakukan,” jelasnya.

Yang paling penting adalah pembagian tugas. Masing-masing sesuai keahliannya. Pembuatan garnish tanggung jawab Rofaidah, perbumbuan Indrawati, dan desert diserahkan Siti Sarafah.

“Kalau saya yang bagian melengkapi keseluruhan,” aku Lin sembari mengoseng-oseng masakannya itu.

Untuk diketahui, bumbu yang digunakan dalam mengolah masakannya itu juga berbahan dasar tradisonal.

Yaitu bawang merah, bawang putih, kencur, garam, dan gula. “Kalau yang dari sini (panitia Festival Kuno Kini, Red) kan dapat mi, saos, dan kecap. Ya itu saja yang kami gunakan. Selebihnya pakai bumbu tradisional saja,” jelas Lin sembari menyebut jika semua masakannya tidak menggunakan penyedap rasa berbahan kimia.

“Ternyata benar adanya meskipun bumbu yang kami gunakan tradisonal realitanya tetap memperoleh juara satu. Yang terpenting itu rasa dan keunikannya. Agar dapat menarik perhatian,” tandasnya.

Baca Juga: Long Weekend, Ramai-Ramai Kunjungi Festival Kuno-Kini, Pengunjung Membeludak, Panitia Optimalkan Pengawasan Stan

Dengan perolehan juara satu ini, tidak lantas membuatnya puas dan berbangga hati. Dia bersama timnya tetap bersikap rendah hati dan ingin terus belajar. Agar perolehan juara tidak berhenti sampai di sini saja.

“Kami akan terus belajar agar bisa memenangkan perlombaan memasak di event-event yang akan datang,” pungkasnya sembari berharap setiap tahun Festival Kuno Kini bisa mengadakan lomba memasak.

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#radar kediri event #Festival Kuno Kini