Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Tarian Blibeseta Hingga Perang Celeng Hibur Penonton Festival Kuno Kini Kediri 2025

Habibah Anisa M. • Sabtu, 31 Mei 2025 | 00:29 WIB

 

Tarian Dewi Kili Suci dibawakan sanggar tari flying dance memeriahkan Festival Kuno Kini Kamis lalu (29/5)
Tarian Dewi Kili Suci dibawakan sanggar tari flying dance memeriahkan Festival Kuno Kini Kamis lalu (29/5)

KABUPATEN, JP Radar Kediri - Di hari ketujuh Festival Kuno Kini (FKK) 2025 dimeriahkan oleh penampilan dari empat sanggar tari. Mereka ada yang tampil secara berkelompok dan juga ada yang menari individu. Tarian yang mereka bawakan beraneka ragam, ada tari blibeseta, tari dewi kilisuci, tari dewi sangkrah, dan tari perang celeng. Semua penari tampil dengan energik, dan memukau penonton. “Kami satu kelompok bertujuh menampilkan tari blibeseta,” jelas Arumi Afuw Ganiy Syahida salah satu anggota penari dari Sanggar Dworowati, Kecamatan Mrican, Kota Kediri.

Kepada wartawan Jawa Pos Radar Kediri, Arumi menjelaskan bahwa tari blibeseta ini merupakan tarian yang menggambarkan tentang burung jelmaan angling darma. Dimana burung jelmaan ini sedang merayu dewi ambarwati. Dengan menggunakan kostum warna putih dan biru, Arumi menari dengan lemah gemulai di hadapan pengunjung FKK 2025. “Untuk tampil acara ini latihan hanya satu kali, sebab kami sudah sering menarikannya,” ungkap Arumi.

Penampilan meriah juga dilakukan sanggar tari Flying Star Dance. Kelompok tari yang beranggotakan enam orang ini menarikan tentang Dewi Kilisuci. Untuk melakukan penampilan ini, mereka membutuhkan waktu latihan selama enam hari.  “Sebelum tampil tadi sempat deg-degan, tapi sekarang sudah lega,” aku Akifa Yumna Fahir.

Berbalut busana dengan dominasi warna putih, hitam dan emas kelompok tari ini tampil energik sambil membawa properti seperti gunungan, wayang, dan topeng.

Setelah penampilan tari blibeseta dan dewi kilisuci, dilanjutkan dengan penampilan tunggal dari Balqis Adzara Iqlila. Meski tampil sendiri, bocah berusia 10 tahun ini tampil dengan energik. Tidak hanya gerak tarinya yang memukau, namun mimik wajahnya bisa berubah sesuai gerakan tarinya. “Saya latihan tari ini selama satu minggu,” aku Balqis.

Bocah yang kini duduk dibangku kelas empat SD NU Pare ini tahu acara FKK 2025 dari brosur. Karena penasaran, ia akhirnya mendaftarkan diri.

Perrtunjukan tari ini kemudian ditutup dengan pertunjukan tari dari sanggar Darmo Saputro. Kelompok berisikan delapan orang ini menarikan tari perang celeng. “Jadi celeng ini ibaratnya adalah hama, dimana petani ini kesulitan karena hama. Tari ini tentang petani yang mengusir hama,” ungkap Anidy Naura Azalia Putri.

Sesuai dengan judul tarian, Naura bersama dengan Elrlita Della, Alviram Munaff Putri Widyasari, Priyamka Aulia Putri Santoso, Kirana Putri Larsati, Aska Savira Azzar, Frisikyla Zahranina Maulida, dan Ghaitsa Shafyyla Arinda Saffa lengkap membawa kuda lumping dan celeng. (ara)

 

Editor : Jauhar Yohanis
#Festival Kuno Kini