Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Riuh Otok-Otok Tandai Pembukaan Festival Kuno-Kini, Hari Pertama, Ratusan Stan UMKM Langsung Ramai Pembeli

Hilda Nurmala Risani • Sabtu, 24 Mei 2025 | 05:04 WIB
Direktur Kurniawan Muhammad dan Wabup Dewi Maria Ulfa beserta sejumlah undangan membunyikan mainan otok-otok dalam pembukaan Festival Kuno-Kini di SLG.
Direktur Kurniawan Muhammad dan Wabup Dewi Maria Ulfa beserta sejumlah undangan membunyikan mainan otok-otok dalam pembukaan Festival Kuno-Kini di SLG.

KABUPATEN, JP Radar Kediri-Festival Kuno-Kini resmi dibuka kemarin sore (23/5). Pembukaan ajang pameran budaya dan UMKM terbesar di Kediri Raya di kawasan Simpang Lima Gumul (SLG) itu ditandai dengan riuh bunyi otok-otok bambu.

Di hari pertama kemarin, ratusan UMKM langsung diserbu pembeli yang bertransaksi tunai dan menggunakan QRIS.

          Pembukaan Festival Kuno-Kini dihadiri oleh Wakil Bupati Dewi Mariya Ulfa dan sejumlah pejabat. Membacakan sambutan Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana, Dewi menyebut UMKM punya peran strategis menggerakkan perekonomian daerah.

Karenanya, Pemkab Kediri berkomitmen mendukung melalui berbagai kegiatan. Salah satunya seperti Festival Kuno-Kini.

          “Dan tahun ini diikuti 257 UMKM, lebih banyak dari tahun kemarin. Bahkan pengalaman tahun kemarin dengan adanya festival seperti ini di hari ketiga sudah balik modal. Harapan kami di tengah musim efisiensi, lewat pameran ini teman-teman pelaku usaha mendapatkan banyak keuntungan,” ungkapnya.

          Direktur JP Radar Kediri Kurniawan Muhammad mengatakan, Festival Kuno-Kini merupakan salah satu wujud keberpihakan Radar Kediri terhadap UMKM. Apalagi, usaha mikro kecil menengah termasuk penyumbang Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) terbesar.

          “Dan ini tidak sekadar pameran tetapi Radar Kediri ingin membuat event dengan konsep yang kuat. Konsepnya ini adalah Kuno-Kini. Memadukan antara masa lalu dan masa kini,” ujar pria yang akrab disapa Kum itu.

          Selama 10 hari ke depan, tidak hanya pameran UMKM saja yang akan digelar. Melainkan juga berbagai hiburan masyarakat seperti pertunjukan seni budaya, workshop, hingga berbagai perlombaan.

Pun dengan pengalaman ‘kembali ke masa lalu’ yang dihadirkan lewat berbagai permainan tradisional, pameran barang antik, hingga kuliner jaman dulu (jadul).

          “Acara seperti ini selain menggerakkan perekonomian dengan mengikutsertakan pegiat UMKM, juga bisa menjadi alternatif hiburan bagi masyarakat. Kabupaten Kediri harus banyak kegiatan-kegiatan yang menarik, yang punya konsep kuat, untuk menarik wisatawan datang ke Kabupaten Kediri,” tandas Kum.

          Digelar hingga 1 Juni mendatang, pengunjung tidak hanya bisa bertransaksi secara tunai saja.

Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kediri memfasilitasi pelaku UMKM dan konsumen agar bisa bertransaksi dengan lebih mudah, aman, dan cepat melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS).

Di penghujung acara, stan dengan transaksi QRIS tertinggi akan mendapat hadiah jutaan rupiah.

          Hari pertama kemarin, ratusan stan di Festival Kuno-Kini dibanjiri pembeli. Mereka bertransaksi di stan sejak sore hingga jelang penutupan pukul 22.00.

Tak sekadar berbelanja, pengunjung juga menikmati berbagai pertunjukan seni dan hiburan. Salah satunya pentas pedangdut kenamaan Eny Sagita dengan beberapa lagu dangdut religinya.

Pembukaan acara yang juga merupakan rangkaian Hari Jadi Kabupaten Kediri Ke-1.221 itu turut dihadiri Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kediri Yayat Cadarajat, Anggota DPRD Kabupaten Kediri Wasis.

Kemudian, Kepala Perum Bulog Cabang Kediri Harisun, perwakilan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Kediri, hingga jajaran kepala organisasi perangkat daerah (OPD).

Sementara itu, selain ratusan stan yang dibanjiri pembeli, usai pembukaan Festival Kuno-Kini kemarin sejumlah pengunjung anak-anak langsung antusias menjajal sejumlah permainan jadul.

Seperti Nur Aini, 34, yang kemarin langsung mengajak anaknya menjajal permainan dakon dan lompat tali.

“Sejak dua hari lalu saya sudah survei lokasi. Tadi pagi (23/5) saya lihat belum ada. Ini langsung saya ajak agar (anak-anak, Red) puas bermain,” ungkap perempuan asli Jawa Barat yang kini tinggal di Gurah itu.

          Menurutnya, permainan tradisional harus dilestarikan. Caranya dengan mengenalkan kepada anak-anak untuk memerangi dominasi gawai yang ‘meracuni’ anak-anak. “Ini (permainan tradisional, Red) juga untuk nostalgia,” lanjut perempuan yang di masa kecilnya sering bermain egrang itu.

          Pantauan koran ini, sejumlah wahana permainan tradisional asyik dimainkan oleh anak-anak. Selain dakon dan lompat tali, tidak sedikit yang bermain egrang, engklek, hingga gangsing.

          “Baru tahu cara bermainnya setelah diajari ayah. Ternyata seru juga,” aku Vania, 8, salah satu anak yang rela antre agar bisa bermain engklek.

          Keberadaan permainan tradisional membuat interaksi hangat antara orang tua dan anak tersaji di sana.

Beberapa orang tua sibuk mengajarkan cara bermain kepada anak-anaknya. Tak jarang hal tersebut diwarnai canda tawa. 

“Ini (lompat tali, red) yang sudah jarang ditemui. Tadi waktu melihat tertarik untuk mencoba. Dan langsung saya mainkan,” ucap Yosep, pengunjung lain yang mengajak anaknya bermain lompat tali.

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#event radar kediri #Festival Kuno Kini