KEDIRI, JP Radar Kediri- Sekumpulan siswa SMAN 7 Kota Kediri ini tak langsung masuk kelas ketika selesai mengikuti mengikuti apel di Hari Anak Nasional beberapa waktu lalu. Tak seperti teman-temannya, mereka berkumpul. Membagi cerita tentang keberhasilan yang baru saja mereka dapatkan.
Ya, siswa-siswa gabungan dari kelas XI dan XII ini adalah anggota tim majalah dinding (mading) sekolahnya. Yang baru saja meraih gelar dalam kategori Best Mascot dalam Mading Wars School Contest XVI GenZverse 19-21 Juli di Convention Hall SLG.
“Setiap hari mengajar sehingga juga tahu bagaimana kebiasaan mereka dan kemampuan mereka. Jadi memang dipilih karena itu. Ada yang suka menggambar, ada yang suka kelistrikan, ada juga yang suka dan sering main jaranan,” terang Hikmah Firsada, salah seorang pembina tim mading wars sekolah ini. Dari kemampuan mereka yang beragam itu, menciptakan kostum maskot yang bisa meraih juara.
Walaupun punya skill masing masing, namun tidak mudah untuk menyatukannya. Butuh kerja ekstra untuk itu. Terlebih, awalnya mereka tidak saling kenal. Dan masing-masing punya idenya sendiri-sendiri.
“Memang awalnya tim belum solid. Selain awalnya tidak sama-sama kenal, semua juga punya ide masing-masing. Jadi harus menyatukan itu semua,” terang Zulham Ali Madani, sang ketua tim.
Berbekal dari bakat mereka masing-masing, dan juga mengerjakan secara otodidak setelah melihat referensi dari TikTok, akhirnya kostum yang mereka buat membawa mereka mendapatkan juara best mascot.
“Ketika lihat Bindarti Shinta Dewi yang jadi maskot ini maju pakai kostum yang kami buat, langsung terharu semua. Ketua juga nangis,” aku Rasya Meiva Rayhana salah satu anggota yang dibenarkan semua anggota lainnya.
Perjuangan keras juga dirasakan oleh tim dari MAN 1 Kota Kediri. Banyak suka duka dialami oleh tim ini. Persiapan yang dilakukan pun sempat terkendala karena koordinasi kurang maksimal. Sebab kala itu tengah libur. Alhasil koordinasi antara pembina dengan anggota tim juga sempat terhambat.
“Dipersiapkan dengan posisi sedang libur sekolah, sehingga koordinasi dengan mereka kurang maksimal. Tapi, menguntungkan karena tidak mengganggu jam belajar mereka di kelas.” Aku Nurani Effendi, yang merupakan guru pembina sekaligus guru Bahasa dan Sastra Indonesia itu.
Yang membuat kesulitan juga karena material mading 3D yang digunakan terbuat dari koran bekas. Sementara untuk mendapatkan itu dari siswa-siswi lain yang tengah libur. Alhasil untuk mendapatkan bahan itu juga memerlukan waktu dan usaha yang ekstra. Namun, usaha tim yang diketuai oleh M. Faiq Zuchridin itu membuahkan hasil gemilang. Hasil karya mereka mendapatkan juara best content.
“Ketika dapat juara itu, saya lihat anak-anak sangat senang, lega. Dan juga marem, Mas. Ekspektasinya tercapai,” terangnya.
Tim dari SMK 2 PGRI Kota Kediri yang juga menggunakan barang bekas untuk membuat mading dengan menonjolkan miniatur anomannya juga turut mendapatkan juara. Yakni, best performance.
Selain antusias mereka dalam mengikuti perlombaan ini, agaknya niat baik mereka untuk mengurai sampah di sekolahan juga menjadi nilai plus.
“Memang kita tidak hanya berusaha untuk menang. Namun juga berpikir bagaimana mempergunakan sampah untuk dibuat sesuatu hal yang bagus. Dan akhirnya jadilah mading ini,” terang Kevin January yang merupakan ketua tim.
Walau sempat beberapa kali mengalami trial and error, namun perjuangan yang dilakukan sampai harus merelakan hari liburan untuk mengerjakan mading mereka itu terbayar.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah