KEDIRI, JP Radar Kediri– Mading itu bertema ‘Menjunjung tinggi tradisi di era modernisasi agar tetap lestari’. Berbentuk balon udara. Seakan-akan menarik benda berbentuk tabung di bawahnya.
Di tabung itulah tema itu diwujudkan. Ada minaitur Jembatan Brawijaya yang dipadu dengan bangunan petilasan Sri Aji Jayabaya. Simbol modernisasi yang dipadu tradisi. Mading bikinan tim dari SMPN 3 Kota Kediri inipun terpilih menjadi Best Overall dalam Mading Wars School Contest XVI GenZverse yang berlangsung di Convention Hall SLG, 19-21 Juli lalu.
“Diskusi masalah konsep ini memakan waktu lama, satu bulan. Lebih lama dari membuatnya,” aku Angga Purwita, pendamping tim.
Mereka juga beberapa kali ganti tema. Memilih untuk mematangkan konsep terlebih dulu. Agar ketika membuat lebih mudah dan cepat.
Perjuangan mereka menghasilkan karya pun tidak setengah-setengah. “Mereka itu dari pagi sampai sebelum magrib di sekolah, jadi pendampingnya ya harus ikut membantu, apalagi ada alat-alat kayu, itukan pemotongnya mereka ngga bisa,” ungkapnya.
Beda lagi dengan mading SMPN 5 Kota Kediri. Peraih best creative ini menonjolkan aspek unik. Yakni dengan tema air sebagai sumber kehidupan.
“Kami menggunakan ide the water is adaptalitas atau air itu sebagai sumber kehidupan. Jadi ada monumen Simpang Lima Gumul dan air terjun,” urai Benzema Abdillah Sukma Surgawi, ketua tim mading.
Sebelum menghasilkan karya yang seperti itu, mereka harus melewati proses yang tak mudah. Tim beranggota tujuh orang ini sering cekcok. Sampai perlu melakukan voting untuk ambil keputusan. Semua itu terbayar dengan prestasi. Padahal event ini kali pertama mereka ikut.
“Awalnya pas pengumuman itu sudah pesimistis, soalnya pada bagus-bagus semua. Terus kami mau balik ke mading dan ternyata nama kita dipanggil oleh juri,” ujarnya ceria.
Begitu pula dengan MTsN 2 Kota Kediri. Saking kreatifnya, mereka mengusulkan dua desain sekaligus. Keduanya sama-sama berkesinambungan. Sama-sama bertemakan jaranan namun mereka membedakan antara jaranan tempo dulu dan sekarang.
“Saya dari kecil memang suka jaranan dan kebetulan tema yang diambil juga jaranan, jadi cukup mudah bagi saya untuk mempresentasikan ini,” jelas Mochammad Azriel Indra Murti, yang menjadi maskot mading.
Pada saat lomba Mading Wars dimulai, tim dari MTsN 2 Kota Kediri sempat minder. Terutama melihat mading karya dari sekolah-sekolah yang lain. Untuk itu mereka lebih memaksimalkan ke yang lain. Sehingga mereka bisa mencari peluang lain yang bisa didapat. Dari situlah tim MTSN 2 mendapat juara best perfomance.
“Temen-temen merasa waduh bagus-bagus banget yang lain. Jadi kami lebih mencari peluang ke yang lain. Jadi kami memang maksimalkan ke presentasinya. Jadi sebisa mungkin mengupayakan peluang yang masih ada,” bebernya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah