KEDIRI, JP Radar Kediri—Lima hari perjalanan ekspedisi mata air berakhir kemarin. Sumber Ngembak di Kelurahan Gayam, Kecamatan Mojoroto jadi lokasi penutup petualangan tim yang digagas JP Radar Kediri ini. Meski begitu, semangat pelestarian mata air sudah pasti tak ada hentinya digaungkan.
Kemarin, tim yang beranggotakan akademisi dari Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri, Perhutani, komunitas lingkungan Rante Rau, dan Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan, dan Pertamanan (DLHKP) Kota Kediri bertolak dari kampus UNP. Hanya 3,2 kilometer dari sana, tibalah rombongan di mata air yang berada di dekat permukiman itu.
Dari kawasan permukiman warga, tim melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Setelah melewati pematang sawah dan rimbunan bambu, barulah tim tiba di Sumber Ngembak.
“Di sini airnya nggak hanya dari sumber, tapi juga dari sungai. Ada sungai di atasnya,” kata Zainal Arifin, anggota tim.
Aliran sungai kecil itu–lanjut Zainal—menyatu dengan air yang merembes lewat sumber-sumber kecil. Yang berbeda dari temuan sebelumnya, air sumber itu diperkirakan merupakan resapan dari persawahan di sekitarnya. Sebab, mata air itu memang dikelilingi area persawahan padi. Airnya cenderung keruh karena material lumpur yang terlarut dalam air.
“Tadi kami lakukan biotilik. Hasilnya ada hewan-hewan yang biasa hidup di air tercemar. Tapi harus kita identifikasi dulu potensi pencemarnya,” sambung dosen Pendidikan Biologi UNP Ida Rahmawati, anggota tim lain.
Terlepas dari kondisi mata air yang perlu perhatian lebih jauh, ada yang menarik dari perjalanan kemarin. Di lokasi sumber air, tim menangkap suara burung Kepodang yang berkicau tak jauh dari sana. Burung yang identik dengan warna kuning ini dikenal punya kicauan yang khas.
“Itu termasuk burung yang langka dan dilindungi. Sudah jarang sekali ada di Kediri. Kalau ini nggak tahu apakah burung yang lepas atau memang habitatnya di sini,” ujar Kepala Resort Pemangkuan Hutan (KRPH) Pojok Suwoto yang kemarin mengikuti ekspedisi.
Tak heran jika burung-burung masih banyak ditemui di kawasan ini. Sebab, vegetasi di kawasan Sumber Ngembak terbilang masih terjaga. Pohon ficus seperti trembesi dan beringin cukup banyak ditemui. Tugas selanjutnya adalah mempertahankan kelestarian vegetasi dan memulihkan produksi air di kawasan itu. Sebab, selama ini, mata air ini jadi salah satu pendukung irigasi hingga mencapai Kelurahan Mrican dan lingkungan sekitarnya.
Ekspedisi Penyelamatan Mata Air ini tidak akan berhenti di sini. Rangkaian event ini akan dilanjutkan dengan penanaman seribu pohon di kawasan mata air Kediri Raya. Secara simbolis, Jawa Pos Radar Kediri bersama para stakeholders akan melakukan penanaman pohon bersama pada 23 Januari 2023 di Sumber Cakarwesi, Kelurahan Tosaren, Kota Kediri. Serta, pada 25 Januari 2023 di Sumber Panguripan, Desa Manyaran, Kecamatan Banyakan.
“Terima kasih sudah membersamai kami dalam upaya penyelamatan mata air,” tandas Ketua Pelaksana Ekspedisi Penyelamatan Mata Air dan Penghijauan Jawa Pos Radar Kediri Andhika Attar.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah