KEDIRI, JP Radar Kediri- Ekspedisi Penyelamatan Mata Air dan Penghijauan memasuki hari keempat. Kali ini, tim menyasar dua Sumber di Kecataman Pesantren. Yaitu Sumber Jasem di Kelurahan Betet dan Sumber Cakarwesi di Kelurahan Tosaren.
Pemberangkatan kali ini terasa istimewa. Pasalnya, tim ekspedisi bertolak dari Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri. Tim diberangkatkan langsung oleh Rektor UNP Kediri Zainal Afandi dan jajaran.
Dalam sambutannya, dia menyampaikan pentingnya mata air bagi kelangsungan kehidupan manusia. Sebab sumber air merupakan tempat dimulainya segala peradaban. Oleh sebab itu, menyelamatkan mata air sama pula dengan menyelamatkan peradaban.
Menurutnya, apa yang dilakukan oleh tim ekspedisi tidak hanya berkaitan dengan kepentingan pelestarian alam, irigasi, atau pengembangan pariwisata. “Tetapi yang lebih substansial adalah untuk kepentingan penyelamatan peradaban manusia,” ujar Zainal.
Tim yang beranggotakan 21 orang bertolak dari Kampus UNP Kediri pukul 09.00 WIB. Sumber Jasem jadi jujukan pertama. Saat tim tiba di lokasi, mata air itu dalam kondisi mengering.
“Seharusnya ada ketegasan bahwa radius 200 meter persegi dari sumber itu tidak boleh ada bangunan dan aktivitas apapun. Harus ditanami pohon,” kata Kepala Resort Pemangkuan Hutan (KRPH) Pojok Suwoto, salah satu anggota tim.
Hal senada disampaikan Budhi Utami, dosen Pendidikan Biologi UNP Kediri. Dia menyayangkan mata air di tengah kota itu yang berhenti mengalirkan air. Padahal, masih banyak pohon-pohon ficus besar di kawasan itu.
“Bekas kedung-kedungnya masih banyak. Kelihatan kalau dulunya airnya besar. Ini pohonnya kalau bisa ngomong, pasti teriak ‘aku luwe’. Karena kering semua,” katanya.
Keringnya mata air itu bisa jadi disebabkan kawasan mata air yang dikelilingi sawah tebu. Aktivitas pertanian di sekeliling menyebabkan konsentrasi aliran air cenderung mengarah ke sumur bor dengan disel.
Jika Sumber Jasem kering kerontang, Sumber Cakarwesi masih sedikit lebih baik. Airnya masih mengalir meski cenderung kecil. Itu kontras dengan sebaran vegetasi yang masih beragam.
“Di sini vegetasinya bagus dan heterogen. Tapi mungkin pengelolaannya yang perlu diperhatikan,” sambung Tutut Indah Sulistiyowati, dosen Pendidikan Biologi UNP Kediri, anggota tim lainnya.
Dengan kekayaan vegetasi di sana, seharusnya sumber daya airnya pun juga besar. Dengan upaya pengelolaan yang baik, perempuan asal Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri itu yakin mata air bisa tetap lestari.
“Maaf jika harus membandingkan dengan (Sumber) Jembangan. Karena di sana meskipun sama-sama dibuka untuk umum, tapi di sana nggak ada sampah plastik sedikitpun,” tandasnya.
Untuk diketahui, pemberangkatan tim ekspedisi dari Kampus UNP kemarin turut dihadiri Direktur Jawa Pos Radar Kediri Kurniawan Muhammad. “Kita akan menurunkan laporan secara indepth dan komprehensif dengan berbagai macam tinjauan. Termasuk nanti insyaallah kami akan memberikan rekomendasi,” tegasnya.
Turut hadir pula General Manager Jawa Pos Radar Kediri Chafid Suyuti, Pemimpin Redaksi Radar Kediri Mahfud, Wakil Rektor 1 Bidang Akademik UNP Kediri Aan Nurfahrudianto, serta jajaran pimpinan UNP Kediri.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah