KEDIRI, JP Radar Kediri– Ekspedisi penyelamatan mata air dan penghijauan terus berlanjut. Di hari ketiga, tim berkunjung ke dua mata air yang memiliki karakteristik cukup berbeda. Satu mata air masih kaya akan vegetasi. Satu lainnya cenderung minim. Keduanya menjadi laboratorium raksasa yang menarik untuk diteliti.
Tim ekspedisi memulai petualangan pukul 09.00 WIB. Tim beranggotakan Redaksi Radar Kediri, akademisi UNP Kediri, Perhutani, aktivis lingkungan Rante Rau, dan DLH Kabupaten Kediri. Dengan armada Mitsubishi Xpander, perjalanan puluhan kilometer tak terasa melelahkan.
Sumber Jembangan di Desa Tempurejo, Kecamatan Wates jadi destinasi pertama. Di sumber air yang dikelola sebagai wisata itu, rimbunan pohon ficus langsung menyambut rombongan. Kawasan seluas 12 hektare itu didominasi oleh hutan lindung yang kaya vegetasi.
“Vegetasinya sangat terjaga. Masyarakat juga sangat mendukung,” ujar Dosen Pendidikan Biologi UNP Kediri Tutut Indah Sulistiyowati, anggota tim ekspedisi.
Menurut Tutut, setidaknya ada 20 jenis tanaman ficus yang tersebar di sana. Ekosistem alami itu terlindungi dalam hutan konservasi yang dijaga betul oleh masyarakat.
“Di Indonesia ada 50 jenis ficus yang terkenal. Dua puluhnya ada di situ,” lanjutnya.
Keberagaman vegetasi yang terjaga itu tentunya jadi ladang sumber daya alam yang melimpah. Tak ayal, produksi mata airnya pun sangat tinggi. Jadi tumpuan pengairan sawah di sekitar.
“Awal mulanya di tahun 2019 kami mengajak warga dusun sini untuk kerja bakti merumat sumber. Semuanya bertahap dan swadaya,” kata Sthefani Geby Arsita Devi, ketua kelompok sadar wisata (pokdarwis) Sumber Jembangan.
Tim juga melakukan pengujian kualitas air. Melalui biotilik dan serangkaian pengujian dengan parameter PH, oksigen terlarut, suhu, dan lain sebagainya. Hasilnya menunjukkan kualitas air yang sangat baik.
“PH-nya ada yang 7,1. Yang paling atas 7,2. Airnya jernih, dengan PH segitu, diminum boleh,” imbuh Dosen Pendidikan Biologi UNP Budhi Utami.
Tak selesai di Sumber Jembangan, tim juga berkunjung ke Sumber Kendung Merang. Mata air yang berada di Desa Bendo, Kecamatan Pagu itu kondisinya jauh berbeda. Vegetasinya jauh lebih sedikit. Pun dengan kawasan mata air yang sudah beralih menjadi lahan persawahan.
Baca Juga: 12 Pemenang Terima Penghargaan dari Kemenag Kabupaten Kediri
“Airnya nggak terlalu banyak juga karena pohonnya terbatas. Hanya ada beberapa pohon besar. Karena sekelilingnya sudah jadi sawah,” tandas Kepala Resort Pemangkuan Hutan (KRPH) Pojok Suwoto di lokasi ekspedisi kemarin.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah