KEDIRI, JP Radar Kediri – Mengawali rangkaian Ekspedisi Penyelamatan Mata Air, tim berkunjung ke Sumber Panguripan kemarin. Mata air di Dusun Ngesong, Desa Manyaran, Kecamatan Banyakan ini, memiliki fungsi krusial bagi masyarakat setempat. Seperti namanya, mata air ini jadi sumber penghidupan ratusan jiwa di sana.
“Sudah lama air dari sumber ini disalurkan untuk kebutuhan sekitar 210 jiwa di sini,” kata Kepala Dusun Ngesong Dio Solianto yang kemarin memandu tim ke Sumber Panguripan.
Jawa Pos Radar Kediri tak hanya berangkat sendiri. Dalam misi penyelamatan mata air itu, bergabung pula para akademisi dari Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri, aktivis lingkungan Rante Rau, Perhutani, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kediri, dan warga lokal. “Semua pihak kami libatkan untuk ikut dalam aksi nyata penyelamatan mata air di Kediri Raya ini,” ujar Ketua Pelaksana Ekspedisi Mata Air Andhika Attar.
Untuk menuju ke mata air ini memang perlu usaha ekstra. Lokasinya berada di lereng Gunung Klotok. Sebelum mencapai lokasi tersebut, tim harus lebih dulu berkendara melalui jalan kecil dan berkelok. Kondisi aspal yang mengelupas dan berlubang membuat akses ke sana kian sulit.
Namun, akses jalan ekstrem itu bisa mudah dilalui dengan ketangguhan Mistubishi Pajero Sport. “Di segala medan, oke. Nyaman, kecepatan tinggi nggak limbung. Dan kita power-nya sudah pakai Euro 4. Sehingga ramah lingkungan juga,” kata Samsuri, marketing Mitsubishi Motors Kediri.
Setelah sampai di pemberhentian terakhir, tim melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Melewati jalan yang terjal dan menanjak, tim beranggotakan 23 orang itu mulai mendaki menuju Sumber Panguripan. Setelah berjalan lebih kurang 45 menit, rimbun pepohonan menandai tim telah sampai di lokasi ‘sumber penghidupan’ masyarakat itu.
“Kalau dilihat dari area situ, kelihatannya itu dulunya merupakan hutan produksi. Jadi tanamannya dulu pasti ada jati, pinus, mahoni, dan sonokeling,” tutur aktivis lingkungan hidup dari Komunitas Rante Rau Zainal.
Dari sebaran vegetasi yang terbilang masih padat, pohon sonokeling masih banyak ditemui di sana. Namun, hanya berupa pohon-pohon kecil saja. “Yang pohon besarnya sepertinya sudah ditebang, atau roboh. Vegetasi di sini termasuk padat. Salah satunya karena sonokeling ini mudah tumbuh,” sambung Staf Bidang Pemeliharaan dan Peningkatan Kapasitas Lingkungan DLH Kabupaten Kediri Hariyadi sembari menyebut sonokeling bisa tumbuh lewat bijinya yang jatuh.
Di kawasan mata air yang ditandai dengan bangunan penampung air itu, sebanyak 10 akademisi dari UNP Kediri berbagi tugas mengumpulkan data. Di antaranya berupa data klimatik dan edafik dari lingkungan mata air.
Beberapa parameter pengujian yang dilakukan meliputi pengujian suhu air, suhu udara, kelembapan udara, dan tingkat keasaman (PH) air. Kemudian, kadar oksigen terlarut dalam air dan organisme di lokasi air juga tak luput untuk diteliti.
“Kami akan lihat secara keseluruhan lingkungan ini seperti apa. Apa yang dibutuhkan dan yang bisa kita lakukan untuk ke depannya,” tutur Dosen Pendidikan Biologi UNP Kediri Tutut Indah Sulistiyowati sembari menyebut hasil penelitian awal menunjukkan air dari Sumber Panguripan layak dikonsumsi.
Secara khusus, ia juga menyoroti kearifan lokal di kawasan Sumber Panguripan. Di sana, warga masih memiliki kebiasaan melakukan konservasi secara tradisional. Contohnya, terdapat Pohon Gilang yang ditanam oleh warga atas dasar kepercayaan bahwa daunnya bisa menenangkan anak yang menangis.
“Jadi mau nggak mau mereka harus tetap melestarikan ini. Itu namanya konservasi secara tradisional,” urainya.
Sementara itu, Kepala Resor Pemangkuan Hutan (KRPH) Pojok Suwoto mengatakan, area seluas dua hektare di sekitar sumber itu seharusnya memang steril dari aktivitas pembukaan lahan. “Jadi bisa ditanami sebanyak-banyaknya,” jelas Suwoto.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah