Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Inilah Sosok Dodoth Widodo, Pendiri Taman Baca "Kosakata" di Kota Kediri

Anwar Bahar Basalamah • Rabu, 13 Desember 2023 | 19:43 WIB
Photo
Photo

Tak mudah mendirikan satu taman baca, meskipun ditujukan dengan niatan baik. Dia sempat tak mendapat dukungan dari masyarakat. Hingga nekat mengubah lorong rumahnya menjadi perpustakaan.

Rumah baca itu bernama ‘Kosakata’. Menggunakan satu rumah, meskipun masih berstatus kontrakan. Namun, sangat layak dan nyaman digunakan para bocah melahap bacaan dari buku-buku koleksi.

Tapi, siapa sangka, taman baca di Gang Bendon, Kelurahan Banjaran, Kecamatan Kota ini dulu berawal dari lorong rumah milik Dodoth Widodo. Yang hanya berukuran 1,5 x 3 meter. Koleksinya pun hanya 20 eksemplar buku.

“Itu tahun 2018. Bukunya masih dari koleksi saya,” kenang Dodoth.

Ketika itu, dirinya hanya ingin mewadahi anak-anak lingkungannya berkumpul. Namun, Dodoth tak ingin apabila anak-anak ini hanya bermain gawai, terlebih game online. Dia pun berinisiatif mendirikan taman baca.

“Literasi itu penting. Jangan sampai hidup nggak ada ilmu,” terang pria lulusan Sekolah Tinggi Seni Rupa dan Desain Visi Jogjakarta ini. 

Dodoth sempat meminta bantuan pada RT setempat untuk penyediaan tempat dan juga sumbagan buku. Namun, saat itu kurang beruntung. Belum ada yang memberikan dukungan. Akhirnya, dia menyulap lorong rumahnya menjadi taman baca yang dia beri nama Kosakata.

“Anak-anak ya ternyata banyak yang datang. Ada sampai sepuluh orang,” ujarnya.

Dodoth tak hanya sekadar membangun taman baca. Juga mengadakan aktivitas lainnya supaya anak-anak tak bosan. Seperti kegiatan mewarnai dan menggambar bersama, membuat kerajinan, bedah buku, bahkan berkontribusi dalan Kediri Carnival Night. Tak hanya itu, hasil dari kerajinan pun dijual. Lalu, dua puluh persen dari hasil tersebut dipergunakan untuk menambah koleksi buku.

“Saya juga menjalin komunikasi dengan taman baca lainnya,” akunya dengan menyebut tujuan dari komunikasi itu untuk sharing.

Baginya, dia tak ingin taman baca yang didirikannya hanya sekadar ada. Itulah alasannya untuk terus berupaya menghidupkan dengan aktivitas produktif lainnya. Hingga akhirnya, beberapa pihak pun melirik hal tersebut.

“Dari sekolah TK, SD banyak yang berkunjung,” ungkapnya.

Pada 2019 akhirnya taman baca itu mendapatkan tempat yang baru. Di sebuah rumah kontrakan yang tak jauh dari rumahnya. Saat itu, dari RT setempat telah memberikan dukungannya.

Setelah berpindah, taman baca tersebut tetap menjadi daya tarik bagi anak-anak maupun warga sekitar. Pasalnya, tetap ada kegiatan periodik yang dilakukan.

“Di situ juga jadi tempat pelaksanaan English Massive,” jelas Dodoth menyebut program belajar bahasa Inggris gratis dari Pemerintah Kota Kediri.

Kini taman baca tersebut tetap ada dan berjalan dengan baik. Bahkan mendapat bantuan dana dari Prodamas. Koleksi buku pun semakin lengkap dengan jumlahnya yang mencapai ribuan. Tak hanya itu, kini taman baca itu pun dilengkapi dengan televisi.

Sayang, sejak Februari lalu Dodoth melepas keterlibatannya pada taman baca yang didirikannya. Menyerahkan pada karang taruna setempat. Penyebabnya, dia harus bekerja di perusahaan yang berada di Jakarta sebagai ilustrator. Meski begitu, dia masih menyimpan impian untuk kembali mendirikan taman baca di kampung yang lain.

“Yang ini saya lepas. Saya ingin membangun taman baca lagi dengan kampung yang mau diajak berjuang bersama,” harapnya.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#anak #perpustakaan #masyarakat #taman baca